My Doors to the UK (Beasiswa Chevening) Part 2: Interview – Aku dan Presiden


Harry Potter was here – Alwicnk (Harry Potter) Castle

Another memoir of an ordinary kid from a far far away village trying to make sense his life by dreaming and achieving it with self-determination. I present this self-journal to all people who help me to be here and to be who I am now. Indeed, without you all, I am nothing.


“Another room and another embassy, but I am still the same kid with that tiny hope wishing to realise what I have been dreaming of. I want to write my name somewhere in a distant place for one more time.”

3. Good news from the pantry

Februari 2016 telah datang. Bulan yang selalu diidentikan dengan cinta dan kasih sayang. Ah.. hampir saja lupa kalau beberapa bulan yang lalu aku melamar sebuah beasiswa dari pemerintah Inggris bernama Chevening Scholarship. Ini adalah bulan ke-5 aku menduduki posisi baru di kantor. Aku masih sibuk beradaptasi dengan segala hal dan tanggung jawab yang besar ini. Walau, tentu aku masih sempat mengecek akun Cheveningku berharap ada berita baik yang masuk. Sudah terlalu lama menunggu semenjak submit aplikasi November tahun lalu.

Bagi yang belum membaca part 1, silakan klik disini. Di part ini aku bercerita mengenai kerjaanku dan juga keinginaku untuk sekolah lagi.

Tanggal 13 Februari, aku masih ingat dengan jelas. Malam itu aku sedang berada di pantry sekedar sedikit melarikan diri dari rutinitas kantor ketika sebuah notifikasi email masuk. Sebagai seorang karyawan tentunya aku menerima banyak email setiap harinya. Tapi yang ini sedikit menarik perhatianku karena judulnya “Chevening Scholarship – Application Update.”

Aku termenung sebentar, merasa sedikit ragu untuk membukanya saat itu juga. Aku takut emailnya berisi “We are sorry to inform you that bla bla bla.” Sebuah email penolakan secara halus. Tapi aku beranikan diriku untuk membuka dan membacanya dengan seksama. Jangan ditanya betapa berdebarnya jantungku saat itu yang seolah memompa darah 5x lebih kuat dari biasanya.

Pikiranku sedikit terlontar ke tahun 2010 dimana secara tidak sengaja aku membuka email seperti ini di warnet dekat rumah. Pada saat itu warnet memang masih menjadi primadona. Masih ku ingat betapa gembiranya saat itu ketika aku dinyatakan lolos ke tahap interview program beasiswa Global UGRAD ke USA. Aku teriak-teriak ga karuan sambil menghubungi teman dekatku Jota menyampaikan kabar gembira itu.

Such a good reminiscence from 6 years ago.

“Dear Nanak,

After reviewing your application for a 2016 Chevening award, we are pleased to inform you that bla bla bla…”

Rasanya sepenggal kata “we are pleased to inform you” sudah mampu membuat sebuah senyum merekah di wajah ini. Dengan setengah berlari aku menuju meja kerjaku, membuka email itu di komputerku agar terlihat lebih besar seakan aku masih tak percaya dengan semua ini.

Udik memang!

Setelah aku baca dengan seksama, aku mulai percaya kalau semua ini benar adanya. Aku dinyatakan lolos ke tahap interview beasiswa Chevening 2016, sebuah beasiswa yang bahkan tak pernah terbayangkan aku akan menjadi penerimanya.

Tuhan tahu tapi menunggu.

Kata-kata dari novel Laskar Pelangi ini selalu terngiang-ngiang.

Emailnya sendiri memuat link untuk memilih jadwal interview. Kebetulan hanya tersedia 3 tanggal interview di bulan Maret. Setelah berpikir dengan matang, aku memutuskan untuk memilih interview tanggal 30 Maret jam 1.45 siang di kedutaan besar Inggris Jakarta. Dengan begitu aku punya cukup waktu untuk mengajukan cuti dan juga mempersiapkan interview.

4. The moment I know how

“These woods are lovely, dark and deep,

But I have promises to keep,

And miles to go before I sleep,

And miles to go before I sleep.” 

― Robert FrostStopping by Woods on a Snowy Evening


Hari-hariku pun kemudian disibukkan dengan pekerjaan dan juga persiapan interview, browsing sana-sini mencari tips dan tricks interview Chevening. Tapi sayang memang tidak terlalu banyak postingan interview Chevening Indonesia. Yang kudapatkan hanya beberapa dari luar negeri. Itu pun sudah lama sekali.

Point to remember #3: Do your research, not only about so called tips and tricks but also about Chevening itself, their missions and all.

Pagi-pagi tanggal 29 Maret 2016 aku sudah ada di stasiun Bandung. Rencananya akan menginap semalam di Jakarta walau aku harus merogoh kocek lebih. Tapi daripada telat datang interview kan? Belum lagi Jakarta yang selalu macet.

Point to remember #4: Always remember human’s psychology. You’ll not be going to perform well if you are in a hurry or exhausted. Manage your time well.

Sesampainya di salah satu hotel dekat kedutaan Inggris, aku pun beristirahat sejenak sambil memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Ah.. momen-momen interview beasiswa memang selalu menegangkan. Kepala ini sibuk membuat banyak skenario. Pun sampai malam, rasanya aku tak bisa menutup kedua mata ini untuk tidur. Disatu sisi aku merasa excited dan masih tak percaya bisa lolos ke interview. Masih teringat malam-malam sebelum deadline dimana aku masih belum menyelesaikan 3 essays Chevening, dan submit benar-benar di detik terakhir penutupan pendaftaran (mohon jangan ditiru haha). Disisi lain, aku pun memikirkan kedepannya.

Bisakah aku sekolah lagi?

Pertanyaan itu datang berulang-ulang. Walau aku senang dengan pekerjaan sekarang, tapi niat untuk sekolah lagi selalu menjadi prioritas utama. Apalagi ini semua adalah mimpi orangtua ku juga. Kebetulan mereka bukanlah seseorang dengan background pendidikan yang tinggi. Mereka adalah korban betapa susahnya kehidupan jaman dulu.

Mamaku SD saja tidak selesai karena satu dan lain hal. Tapi mamaku sangat pintar dan rajin membaca. Mungkin dari mamaku lah hobi membacaku berasal.Sedangkan ayahku hanya sampai tingkat SMP. Namun ayahku mempunyai jiwa bisnis yang sangat hebat. Mungkin aku harus belajar banyak dari ayahku mengenai bagaimana menjalankan bisnis yang baik.

Tapi mereka tidak tahu aku mendaftar beasiswa ini. Sudah kebiasaan memang aku tidak pernah memberitahukan kepada mereka mengenai apa yang aku lakukan. Dulu pun ketika aku mendapat beasiswa ke USA, aku memberi tahu mereka seminggu sebelum keberangkatan. Masih teringat betapa kagetnya mereka pada saat itu. Dan sekarang pun kalau aku lolos, entah bagaimana cara menyampaikannya kepada mereka.

Kami memang mempunyai hubungan keluarga yang sangat unik. Aku jarang berbicara dengan kedua orangtua ku. We love each other in silence. Walau begitu, aku yakin mereka selalu mendoakan setiap langkahku.

5. The day!

“I’m not sure if everything happens at the right time, too early or too late.” – Nanak


Keesokan harinya setelah sarapan aku duduk termangu di ujung tempat tidur, masih bingung mau ngapain. Interview masih beberapa jam kemudian. Masih banyak waktu luang yang tersedia. Tapi otak ini tidak bisa konsen. Rasanya ingin cepat saja ini semua berakhir.

Kunyalakan TV dan pada saat itu sedang ada siaran rapat umum presiden Jokowi mengenai perkembangan ekonomi Indonesia. Aku menyimak sebentar tapi tetap tidak bisa konsen. Aku malah berjalan kesana kemari dan sesekali lihat pemandangan di luar sana.

Tepat pukul 12.30 aku pun memutuskan untuk cek out dan memesan taxi. Aku titipkan barangku di receptionist kemudian meluncur ke arah kedutaan Inggris. Pukul 1 siang aku telah sampai dan bergegas menuju pintu masuk utama. Sempet ragu sih apakah masuk sekarang atau nunggu di luar beberapa saat mengingat interview-ku masih sekitar 45 menitan lagi. Sedikit teringat dengan kejadian dulu di kedutaan USA dimana aku harus datang tepat waktu, tidak lebih tidak kurang.

Tapi kuberanikan berjalan ke arah para petugas. Diluar dugaan mereka sangat ramah dan mempersilahkan aku untuk masuk. Setelah di cek sana sini, nulis nama di buku tamu, barang disita termasuk HP, aku pun masuk hanya dengan membawa sebuah folder, passport, name tag visitor dan bersama seorang petugas yang mengantarkanku ke dalam.

Widihh serasa orang penting.

British Embassy Jakarta

Komplek kedutaannya sangat besar dan hijau terasa seperti rumah horang-horang kayah. Memang ini merupakan kedutaan Inggris baru jadi semua masih terlihat fresh. Sesampainya di pintu khusus untuk tamu, petugas tersebut mempersilahkanku untuk masuk. Di dalam aku memperlihatkan passportku ke receptionist kemudian duduk di kursi yang telah disediakan.

Terlihat seorang bapak-bapak memakai batik sedang membaca majalah. Sepertinya si bapak sedang menunggu giliran interview juga. Aku pun duduk dan berusaha tampak senyaman mungkin padahal mah pikiran ga karuan. Giliranku masih sekitar 25 menitan lagi. Kulihat sekeliling mempelajari ruangan. Kusempatkan juga ke toilet untuk sekedar merapikan diri, bercermin, selfie dan memikirkan ini semua haha.. 😀

Point to remember #5: First impression matters. Although it may not give any significant help, people judge your appearance.

Kudengar bapak tadi di panggil dan masuk ke ruangan sebelah. Okay setelah bapak itu maka giliranku.

Ahh.. semakin nervous hayati.

Tidak berapa lama ada seorang wanita muda berkerudung datang. Dugaanku doi adalah yang akan di interview setelah ku. Wanita tadi duduk di kursi seberang dan kulemparkan sedikit senyum.

Jangan banyak-banyak ngasih senyumnya takut doi baper.

Terbersit niatan untuk mengobrol sebentar namun sepertinya doi sibuk buka catatan. Mungkin draft interview. Dan aku pun semakin tidak bisa konsentrasi.

It’s such a weird feeling. You really want to have it finished soon, but on the other hand, you don’t want to start it.

Nampaknya si bapak tadi masih di dalam padahal sudah lewat 20 menit. Aku yakin bahwa setiap kandidat hanya diberikan waktu sekitar 20 menit di dalam. Sudah lewat 30 menit dan si bapak masih juga belum keluar. Entah apa yang sedang terjadi.

Lewat 35 menit si bapak pun keluar dengan seorang wanita British. Di pintu keluar pun si bapak masih sempat bertanya kapan hasilnya akan di umumkan. Sepertinya bapak ini sangat excited sekali. Setelah si bapak selesai, aku masih harus menunggu lagi sekitar 5 menit.

6. It’s now or never

“Life, he realize, was much like a song. In the beginning there is mystery, in the end there is confirmation, but it’s in the middle where all the emotion resides to make the whole thing worthwhile.” 

― Nicholas SparksThe Last Song


Namaku dipanggil oleh wanita British tadi kemudian dipersilahkan masuk.

Ah.. this is it!

Aku pun masuk ke dalam ruangan yang terlihat seperti sebuah hall daripada ruang meeting. Ditengah terdapat beberapa meja yang di rapatkan. Di ujung sana sudah ada dua wanita duduk dengan santai dan di ujung satunya ada satu buah kursi kosong. Setelah dipersilahkan, aku pun duduk di kursi kosong tersebut.

Wanita British tadi (kita sebut saja Miss A) membawa segelas air lalu menaruhnya di sampingku, kemudian beliau duduk di kursi kosong di tengah kedua wanita yang lain. So, total ada 3 interviewers. Yang satu dari British Council (Miss B), yang di tengah (Miss A) sebagai ketua Chevening Indonesia, kemudian yang memakai kerudung (Miss C) adalah alumni Chevening. Mereka dengan ramah memperkenalkan diri mereka di pimpin oleh Miss A.

Setelah meminta passportku dan mengeceknya dengan seksama, Miss A memintaku untuk memperkenalkan diri, latar belakang dan juga kegiatan sekarang.

I start talking and telling them about me, my background briefly and my current activities.

Point to remember #6: Try to talk systematically –> main idea, supporting ideas, examples, elaborate your examples. Don’t go astray!

Kemudian pertanyaan berbagai pertanyaan meluncur dari mereka bertiga. Semuanya sesuai dengan apa yang telah diberuitahukan sebelumnya di email kelulusan. Mereka mempunyai list pertanyaan sehingga semuanya terasa professional dan terarah. Tidak ada pertanyaan yang berada di luar substansi beasiswa dan apa yang aku tulis di aplikasiku.

I like it dan interview juga terasa sangat cair. Mereka bertanya mengenai:

  • Kenapa apply beasiswa Chevening
  • Apa yang diharapkan dari beasiswa ini
  • Program apa saja yang akan di ambil di UK
  • Kenapa ambil program tersebut
  • Kampus mana saja yang dipilih dan kenapa kampus tersebut
  • Rencana dan possible tantangan ketika di UK
  • Rencana setelah pulang
  • Pengalaman kepemimpinan baik dulu maupun di tempat kerjaan sekarang
  • Kontribusi kepada Chevening community.

Sebagian besar seperti itu pertanyaanya. Tak ada pertanyaan yang menjebak. Semua mengalir dan apa adanya. Disetiap jawabanku mereka menuliskannya di sebuah kertas di hadapan mereka.

Beberapa pertanyaan terasa lama dan terkesan detil seperti ketika mereka bertanya kenapa aku ambil 3 program berbeda di 3 uni yang berbeda pula. Aku jelaskan bahwa semuanya sesuai latar belakangku di bidang pendidikan dimana:

  • Aku mengambil TESOL di kampus pilihan pertama karena aku ingin fokus kepada bagaimana mengajar bahasa Inggris secara baik dan benar. Disini aku tekankan bahwa aku fokus kepada kata “guru.”
  • Kedua aku ambil Education di kampus pilihan ke-2 karena ingin fokus kepada permasalahan pendidikan secara umum. Disini aku berusaha fokus ke “pendidikan” itu sendiri termasuk curriculum development.
  • Dan terakhir aku ambil Applied Linguistics di kampus pilihan ke-3 karena ingin fokus bagaimana manusia belajar bahasa asing. Jadi disini aku fokus kepada “siswa.”

Dari semua ini aku jelaskan bahwa walau sekilas terlihat berbeda namun sebenarnya mempunyai tujuan yang sama. Hanya fokusnya yang berbeda namun bagiku ke tiga hal ini (guru, siswa dan kurikulum) merupakan 3 pilar utama di dunia pendidikan. Kulihat mereka semua tersenyum sambil menulis. Aku merasa bahwa argumenku bisa diterima mereka dengan baik.

Point to remember #7: Justify your answers well. Whatever your ideas are, they will try to see the values of them. 

Dikarenakan Chevening mencari mereka yang akan menjadi future leader and influencer, pertanyaan mengenai pengalaman kepemimpinanku juga terasa cukup lama, terlebih ketika aku ceritakan bahwa aku baru saja dipromosikan memimpin bagian akademik walau baru 1 tahun kerja disana. Mereka bertanya mengapa, apa tantangannya dan bagaimana cara aku menghadapi tantangan tersebut termasuk sikapku dengan karyawan yang lebih senior dan mereka yang dulu berada diposisi yang sama denganku. Bagaimana aku bersikap professional menjadi pemimpin mereka dan lain sebagainya.

Lalu aku tekankan 3 hal yang aku tulis di essay mengenai pemimpin seperti apa yang ideal bagiku dan bagaimana aku menjalankan 3 hal tersebut. Aku sebutkan bahwa seorang pemimpin itu harus menjadi pendengar yang baik (listener), harus dapat dipercaya (reliable) dan juga harus mampu menginspirasi (inspiring) bukan hanya pintar semata. Bagiku banyak pemimpin yang pintar tapi mungkin tidak banyak yang mampu menjadi pendengar yang baik, yang reliable dan inspiring.

Kembali mereka mengangguk-ngangguk dan menyimak dengan seksama jawabanku.

7. Pak Jokowi – You save me

“There are many smart leaders, but to be a good leader, being smart is not enough. They must be reliable so people can trust them, able to listen because public hearings is critical, and inspiring so people can look up to them.” – Nanak


Tapi ada satu pertanyaan yang tidak sempat aku pikirkan sebelumnya, yaitu ketika mereka bertanya siapa pemimpin idolamu sekarang.

Well it may sound very easy coz I can just mention any random name I know. Tapi pasti akan susah menjelaskan alasan kenapa memilih orang tersebut. Aku berpikir cukup lama sampai aku teringat acara TV yang aku lihat pagi tadi di hotel.

Jokowi!

Begitu jawabku seketika. Mereka pun bertanya kenapa Jokowi. Aku cukup terinspirasi oleh profile dan cara kerja beliau terlepas dengan adanya pros and cons about him out there. Well, living in this world, pros and cons are inevitable. It just depends on how and where we see it.

Aku jawab bahwa seorang pemimpin itu harus tahu apa yang sedang dia lakukan meskipun tidak semua orang memahaminya. Dia juga harus tahu seperti apa medan kedepannya dalam artian mampu untuk menganalisa dan memprediksi berbagai keadaan, tidak hanya fokus dengan keadaan sekarang tapi juga keadaan 10 atau 30 tahun mendatang karena seagala sesuatu berubah.

Aku juga memberi contoh bagaimana Pak Jokowi fokus akan perkembangan insfratuktur di Indonesia sebagai salah satu tulang punggu perkembangan ekonomi sebuah negara meskipun tidak semua orang memahami apa yang beliau lakukan. Ya walau pun mesti berhutang, tapi selama dikelola dengan baik, ini merupatakan sebuah investasi jangka panjang.

Sepertinya Pak Jokowi tahu apa yang sedang beliau kerjakan dan mengerti keadaan serta tantangan Indonesia di masa depan. Aku juga suka bagaimana beliau mendorong mental revolution karena bagiku semua usaha pemerintah akan sia-sia jika watak serta karakter bangsanya tidak berubah.

Kemudian mereka bertanya mengenai pendapatku dengan kata “pencitraan” yang seringkali disematkan kepada Jokowi. Bagiku hal tersebut sah-sah saja asal memang terlihat hasilnya. Pencitraan hanyalah salah satu fenomena politik ditengah gempuran teknologi informasi dan juga merupakan salah satu fenomena di sebuah negara yang menganut paham demokrasi dimana setiap kandidat berusaha keras menjual dirinya. Sama saja dengan branding oleh setiap perusahaan untuk menciptakan brand awareness. Hanya dipolitik yang dipasarkan adalah personal branding dan rencana politiknya.

Jadi sah-sah saja asal… asal memang ada hasil kerjanya. Dan sejauh ini aku melihat hal tersebut dari Pak Jokowi.

Walau mungkin banyak orang yang tidak memahami atau pun merasakannya pada saat sekarang, namun bagiku karena mereka tidak memahami bahwa segalanya perlu proses. Selain itu, dunia ekonomi sangatlah kompleks karena kita tidak hanya berurusan dengan kegiatan ekonomi dalam negeri namun juga global economy dimana semuanya saling mempengaruhi. Itulah kenapa krisis di suatu negara bisa berimbas ke negara lainnya.

Pemahaman seperti ini yang susah karena memang kebanyakan orang tidak berusaha memahami fenomena yang sedang terjadi. Apalagi jika sudah berurusan dengan perut dan harga-harga terasa mahal, akan semakin susah bagi orang untuk memahami ekonomi dan segala fenomenanya.

Entahlah kenapa aku bisa menjawab selancar itu dan aku melihat raut muka positif dari mereka. Walau tentu ini semua hanya pendapat aku dan tidak dimaksudkan untuk menjadi bahan kampanye haha.. 😀

Aku agak tertutup mengenai pilihan politik dan tidak suka untuk berdebat mengenai hal ini walau aku pernah mengambil Ilmu Politik. Tapi karena inti dari cerita ini adalah cerita mengenai Pak Jokowi, jadi ya aku ceritakan saja.

Intinya, our political choice won’t really change our current life state if we ourselves are hardly working hard and progressing to be better. So, kalau mendukung ya seadanya saja, tidak usah terlalu menglorifikasi.

Something that is too glorified is not good 😀

Pertanyaan lain yang agak sulit adalah ketika mereka bertanya mengenai rencanaku paska study. Walau sudah aku tulis di essay dengan jelas, sepertinya aku kurang memikirkan dengan baik mengenai waktu yang aku tetapkan. Salah satu interviewer yang cukup kritis memberi nasihat bahwa dalam merumuskan rencana paska study harus jelas dan logical, tidak hanya menyebut waktu secara acak. Harus jelas kenapa hal ini bakal di lakukan dalam waktu 5 tahun, kenapa yang ini 10 tahun, dan lain sebagainya. Aku dengarkan semuanya dengan baik.

Point to remember #8: Be careful with planning. Justify the timing you chose e.g. why in 10 years, why in 3 years, why not now, etc. Don’t just mention any random place and time.

Beliau juga tampaknya tahu salah satu organisasi kepemudaan yang aku ikuti dan menasihatiku agar lebih aktif disana. Agak malu sih karena memang akhir-akhir ini jarang aktif akibat sibuk adaptasi posisi baru di kantor.

Overall, semuanya berjalan dengan lancar dan professional namun tetap cair. Kalau ada kelemahan di suatu hal, mereka tidak segan untuk memberi nasihat atau strategi lainnya dari pada memojokkan.

Ingat itu pemirsa!

Kurang lebih 20 menit telah berjalan dan aku pun dipersilahkan untuk bertanya kepada mereka. Sederhana sih pertanyaanku yaitu kapan pengumumannya dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Terakhir mereka bertanya mengenai apakah aku sudah punya LoA dan aku jawab sudah dapat dari ke-3 Uni pilihanku. Aku perlihatkan juga bukti LoA nya yang memang sengaja aku bawa. Di akhir, aku mengucapkan banyak terimakasih atas kesempatannya kemudian jabat tangan dan pamitan.

Point to remember #9: Bring any necessary documents to the interview even if they don’t ask to such as your diploma, IELTS certificate, LoA. You don’t need to have IELTS and LoA during your application, but you can start preparing for them so that if you’re selected for the interview, you can bring them to show that you are serious and well-prepared for the scholarship. Although having LoA and IELTS won’t necessary make you chosen for the scholarship, it’s always better to have something than nothing.

Ah lega rasanya!

Terasa sangat lancar dan positif. Aku pun keluar dan mengucapkan “good luck” kepada wanita tadi yang sedang menunggu giliran. Aku kembali ke hotel untuk mengambil barang lalu meluncur ke Gambir untuk mengejar kereta ke Bandung.

8. Apparently there’s a time for everything

“I wish it need not have happened in my time,” said Frodo.

“So do I,” said Gandalf, “and so do all who live to see such times. But that is not for them to decide. All we have to decide is what to do with the time that is given us.” 

― J.R.R. TolkienThe Fellowship of the Ring


Dalam perjalanan pulang aku sibuk membuat presentasi laporan kantor akhir bulan dan aku pun lupa akan semua ini. Aku tidak mengetahui bahwa sekiatr 4 bulan kemudian kabar gembira itu muncul.

Namun Tuhan masih menyimpannya saat itu. Life is full of surpises, isn’t it?

*******

Continue here Part 3 – Hampir Batal Berangkat


The Breakfast Club Coffee Shop

Edinburgh, 20 November 2016

Advertisements

23 comments

  1. […] Pengisian aplikasi online juga tidak rumit. Isinya seputar pengalaman studi, kerja, organisasi atau kegiatan sukarelawan. Lalu menjawab beberapa pertanyaan terkait motivasi dan rencana setelah penyelesaian studi. Beberapa teman saya telah menuliskan secara khusus mengenai persiapan sekaligus tips dan trik aplikasi beasiswa Chevening. Klik link di bawah ini untuk membaca cerita lengkapnya. 1. Pratiwi Hamdhana 2. Nurul Chusna 3. Felicia Lesamana 4. Nanak Hikmatullah […]

  2. Selamat Sore..

    Mas, interview di British council semaunya in english?
    syarat “Bersedia kembali ke negara asal minimum dua tahun setelah beasiswa berakhir”. artinya kita di Inggris 1 tahun pendidikan ditambah 2 tahun lagi ? itu pengabdian atau bagaimana ya?

    • Hi Azzam,

      Chevening Indonesia sudah lama ini tidak di manage oleh British Council melainkan langsung oleh British Embassy Jakarta. Yes interview nya nanti in English.

      No, artinya kamu mesti balik ke Indonesia dan mengabdi selama 2 tahun untuk bisa ke Inggris lagi untuk urusan kuliah atau kerja (kecuali wisata) 🙂

      • hai kak, terima kasih banyak sharingnya! Kurasa tulisan kakak ngebantu banget buat ngasih gambaran 🙂

        Menanggapi pertanyaan dan jawaban di atas..berarti kita benar-benar nggak bisa langsung lanjut studi gitu ya kak? Misal, pengen langsung ambil PhD gitu? Dan sedikit penasaran, mereka akan benar-benar ngecek bahwa kita di Indonesia ya? hehe.. 😀

      • Sebenarnya mungkin kalau lanjut diterima PhD kayanya boleh2 aja langsung sekolah lagi tidak pulang dulu ke Indonesia karena kan alasannya jelas yaitu untuk studi lagi. So, I don’t think it’s that strict tho.

        Untuk pertanyaan kedua, kayanya engga terlalu sih. Tapi mestinya sih apa yg kita tulis di essay mengenai rencana kepulangan mesti ditaati karena itu menandakan bahwa kita benar2 memegang janji kita untuk mengabdi di Indonesia. Tapi ya kalau memang ada kesempatan untuk lanjut PhD silakan saja 🙂

      • Beberapa hari sebelum saya nemu blog ini, saya coba tanya pihak chevening via email. Baru dibalas tadi dan ternyata tetep nggak boleh langsung lanjut PhD 😅
        Anyway, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu utk kasih respon, kak 🙂
        Semoga sukses rencana setelah selesai studinya ya

      • Hahaha tentu kalau tanya langsung mereka tidak boleh. Kan sudah ada peraturannya di terms and condition scholarship. Tapi yakin deh apply aja dulu Master’s nya. Masalah lanjut PhD atau tidaknya bisa di lihat di kemudian hari. Lagian banyak sih dari kita ketika selesai Master di UK tidak ingin lanjut PhD dulu tapi istirahat soalnya intense banget study nya. Tapi ada juga yg lanjut PhD 🙂

  3. hi kak, kak bagus banget pengalamannya aku jadi tambah bersemangat untuk iapply beasiswa chevening.
    oiya kak mau tanya, untuk beasiswa chevening ini harus pakai IELTS ya kak?

  4. Hi nanak, this amazing blog reminds on my dream going to uk, i’ve been working n feel it’s too late to started everything, but thanks you have made me feel so excited again and again.
    Im so appreciate if u wanna share ur contact to me and have further conversation.
    My email : lia.affandi@gmail.com
    So grateful when we could make a friend!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s