Story from Edinburgh

There’s more to life than religion – Renungan Ramadan dari Edinburgh

This slideshow requires JavaScript.

“Apa yang kita dengar, baca, dan lihat adalah dari orang lain. Karena kita adalah produk orang lain.”


Ramadan 2017 kembali menjadi sebuah ramadan yang sangat spesial bagiku karena untuk kedua kalinya aku menjalani ramadan ini di negeri orang. Ada rasa kangen rumah, sering pula kangen suasana ramadan kota Bandung. Belum lagi rindu akan undangan buka bareng atau buka puasa di kantor.

Kali ini, semua itu harus absen. Aku jauh dari rumah berada di negeri Skotlandia. Aku tidak sedang di kota Bandung melainkan di kota Edinburgh, dan jarang pula undangan untuk buka bareng. Puasa kali ini pun harus di jalani cukup lama sekitar 19 jam.

Tapi tak apa. Karena dimanapun tempatnya, ramadan tetaplah bulan yang suci. Hanya mungkin ada beberapa hal yang berbeda, dan sebagai manusia, kita pasti bisa menyesuaikan diri mengikuti keadaannya.

Oh apa lagi yang spesial dari ramadan kali ini?

Ada sebuah kisah yang mampu menambah keyakinanku akan hidup ini. Jika membaca judulnya, mungkin sebagian orang akan menggernyitkan dahi, memaknainya sebagai pro kehidupan daripada pro agama.

Tak salah memang walau poin sebenarnya adalah agama itu tetap penting, tapi bukan lah satu-satunya hal yang harus kita kedepankan dalam kehidupan ini.

And dont get me wrong! 

Maksudnya adalah terlalu sering kita begitu fokus dan berapi-api mengenai permasalahan agama sampai lupa bahwa kita sekarang ada di dunia dengan segala kompleksitasnya.

Untuk menjelaskan poin ini, aku akan menulis sebuah cerita yang aku alami di ramadan kali ini. Sebuah cerita yang membuatku berpikir ulang mengenai apa sebenarnya yang sedang aku lakukan di dunia ini. Mungkin cerita ini penuh akan pendapat pribadi jadi tidak dimaksudkan sebagai ajang pembenaran apalagi sebagai rujukan kebenaran.

What do we know about “truth” anyway? 

whattruth

Sedikit background, aku terlahir dari keluarga dan lingkungan Muslim. Aku dididik dengan cara seorang Muslim dan aku sekolah di sekolah Islam. Pengetahuanku akan agamaku tidaklah begitu menyedihkan. Sejak kecil, aku adalah langganan lomba adzan, membaca Alquran, dan pidato keagamaan. Aku pernah pula menjadi guru ngaji anak-anak di desaku.

Begitulah. Aku tumbuh besar dengan keyakinan Islam, dan aku percaya Islam adalah agama terbaik bagiku. Dari sini, aku setuju dengan poin “agama warisan” dalam artian kita memeluk agama sesuai dengan apa yang orangtua dan lingkungan anut.

Logikanya, masa iya anak kecil bisa memilih agama mana yang bakal dia anut. Memakai pakaian saja masih perlu bantuan orang tua apalagi paham akan sebuah agama. Pun ketika besar, sedikit sekali orang mau berpindah keyakinan kecuali dalam situasi tertentu yang membuatnya berubah pikiran.

Jadi, kalau kita merasa agama kita yang paling benar, coba reverse thinking, orang lain pun pasti akan merasa agama mereka yang paling benar. Dan ketika dua orang yang berbeda agama keukeuh akan kebenaran agamanya, apa yang ingin di capai? Bagaimana kita bisa membuktikan agama kita paling benar kalau orang lain tak pernah berada di posisi kita? Pun bagaimana pula kita menganggap agama orang lain salah kalau kita tak pernah berada di posisi mereka?

Mungkin kita mengetahui agama orang lain itu salah atau buruk dari apa yang kita baca dan dengar. Tapi seberapa yakinkah kita akan apa yang kita baca dan dengar? Dan bagaimana kita bisa membuktikan kalau mereka benar-benar salah?

Dalam hidup kebanyakan kita mengetahui sesuatu dari apa yang kita dengar, baca dan lihat. Informasi datang ke telinga kita melalui orang lain, datang ke buku yang kita baca melalui orang lain, dan masuk ke mata kita juga melalui bantuan orang lain.

Intinya ilmu dan pengetahuan kita kebanyakan datang dari orang lain, dan orang lain itu adalah “orang” yang mempunyai persepsi, ideologi dan keyakinan masing-masing.

ntydgmtcqggebtcra3tml3lbdp6jc3sachvcdoaizecfr3dnitcq_0_0

Aku tidak bermaksud mengajak untuk meragukan apa yang telah kita yakini, tapi poinnya adalah bagaimana kita tahu ilmu yang kita dapat adalah “benar” kalau semua itu datang dari orang lain?

Kalau sudah seperti itu, sudah seharusnya kita mengerem diri untuk berkoar-koar bahwa kita yang terbaik dan mereka yang terburuk. Apa susahnya kita simpan untuk diri kita kalau keyakinan kita memang yang terbaik.

Meskipun…

Meskipun kita berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran itu, but why don’t we do it through our actions rather than through hatred speech and aggressive tone. 

Jika kita berbicara mengenai “penyampaian kebenaran”, we are not the only one karena pada dasarnya semua agama pasti menginginkan pengikut. Jadi imprealisme agama itu bukan hanya milik agama tertentu. Semua tentu ingin mempunyai followers.

Kenapa?

Karena balik lagi ke sifat dasar manusia. Kita akan merasa lebih nyaman dengan mereka yang sedarah, sepaham, sebahasa, seagama, sesuku, sebudaya dan sebangsa. Manusia mempunyai kecenderungan untuk lebih memilih dan percaya mereka yang mirip dengan mereka. Dan manusia akan cenderung lebih menerima mereka yang sepaham karena manusia selalu mencari sesuatu yang sesuai dengan commonsense mereka.

Otak kita seperti sudah otomatis menfilter sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Itulah kenapa manusia itu subjektif. Itulah kenapa kita ini penuh akan bias, dan itulah kenapa “kebenaran” dari manusia bisa sangat berbeda-beda.

AAEAAQAAAAAAAAyqAAAAJGRmZjU3ZjUyLWQ5OWMtNDllMS1iOWZiLTFjNjdiMDE1MmQzMQ

Tapi ada satu paham universal yang sebagian besar manusia setuju yaitu etika, moral, dan rasa hormat.

When you act as a decent human being, people won”t ask your religion.

Ah.. memang rumit ya kehidupan ini betapapun kita ingin menyederhanakannya. Tapi sebagai seorang Muslim hidup yang sedang hidup di negeri orang, aku bisa sedikit merasakan bagaimana sulitnya menjadi kaum minoritas. Mungkin ini pulalah yang dirasakan oleh sebuah bangsa yang mungkin banyak di benci di Indonesia yaitu bangsa Yahudi karena nyatanya apapun yang diasosiasikan dengan “yahudi” kini memiliki makna negatif.

Hidup sebagai seorang Muslim minority tidaklah mudah sekarang ini. Dibalik hantaman-hantaman kejadian disini dimana pelakunya selalu diidentifikasi sebagai seorang Muslim dan gempuran media yang menggambarkan Islam sedemikian rupa, hidup kita terasa semakin susah saja.

Sebagai orang Muslim yang ingin hidup damai, terkadang kita harus menjelaskan kepada mereka mengenai Islam. Bahwa walau kita Muslim, kita bukanlah bagian dari mereka. Terasa cape dan lelah memang dan seringkali hal ini tak akan mampu mengubah persepsi mereka tentang Islam. Mungkin aku sedikit beruntung tidak berwajah “Islam.” Tapi coba lihat kaum perempuan berjilbab atau mereka yang berwajah Arab. Mungkin mereka mengalami Islamophobia dengan intensitas yang lebih tinggi.

islamophobia

Kalau sudah begini salah siapa?

Disaat sebagian orang yang mengaku Muslim sibuk bomabrdir sana sini demi jihad dan balas dendam (akan pelakuan bangsa lain yang tidak adil terhadap warga Muslim lainnya), di saat itu pula sebagian Muslim yang hidup di negara target jihad mereka merasakan akibatnya.

Kalau dipikir dari sisi yang lain, rasanya tidak adil saja bagaimana kelakuan seorang Muslim (yang katanya diniatkan untuk membela Islam) malah merugikan Muslim lainnya. Hal ini tentu tak sesederhana itu karena kini sepertinya jihad dan terorisme telah berubah tujuan. Banyak kaum Muslim pun yang menjadi korban.

Terlalu panjang dan rumit memang kalau membahas mengenai jihad dan terorisme. Bahkan sebagai warga Muslim pun kita bisa mendapat perlakuan diskriminasi dari sesama Muslim. Mungkin itulah yang terjadi ketika kita selalu berpikir apa yang kita yakini adalah “yang terbaik” meskipun dalam satu keyakinan.

Keyakinan dalam keyakinan.

Dan kini, mau tidak mau kata jihad telah berubah menjadi negatif. Kata “Allahu Akbar” telah berubah menjadi kata yang menakutkan, dan kata “terorisme” selalu disematkan kepada orang Islam.

Itu pula yang aku rasakan disini. Ketika aku berkata bahwa aku berpuasa dan aku seorang Muslim, ada salah satu temenku langsung mengasosiakan agamaku dengan ISIS.

Haruskah aku marah?

Tentu tidak! Karena mungkin itulah yang temenku pahami tentang Islam. Bukan salah dia jika dia beranggapan seperti itu karena dia tidak hidup di lingkungan Islam dan mungkin dalam kehidupan sehari-harinya, itulah informasi yang dia ketahui tentang Islam dari media yang dia baca dan dengar.

Justru yang perlu di salahkan adalah mereka yang melancarkan aksi-aksi biadab tersebut ditambah dengan penggunaan bahasa di media.

Tapi sisi baiknya, aku punya kesempatan menjelaskan Islam yang sebenarnya (menurutku). Bukan untuk merayu dia untuk pindah agama tapi sedikit meluruskan pandangannya tentang Islam. Bagiku, pemaksaan keyakinan tak akan pernah berhasil, tapi dialog dengan sehat setidaknya bisa memberikan gambaran Islam itu seperti apa kepada mereka yang tidak mengetahuinya.

Dan bagiku inilah dakwahku dan inilah jihadku.

Berdialog dengan sehat dan bertukar pikiran, tanpa pandangan sempit apalagi judging bahwa dia kafir dan aku Muslim, bahwa dia bakal masuk neraka dan aku masuk surga.

hell_vs_heaven_by_i_r_s

Hidup ini terlalu sempit kalau hanya di maknai sebagai surga dan neraka, pun siapa yang baik dan siapa yang buruk. Manusia adalah makhluk yang berpikir.

Kalau mereka merasa tertarik akan agama kita, pasti mereka akan mengikutinya.

Tapi jika jihad selalu dimaknai dengan bombardir, bunuh sana sini, hate speech dan semua tindakan dengan konotasi negatif, bukannya menghasilkan ketertarikan yang ada malah menambah kebencian.

Aku merasa senang ketika beberapa teman Non-Muslimku rela menunggu jam makan malam mereka agar bisa makan malam denganku, berbuka bersama. Atau beberapa kali ikut sahur dan mencoba berpuasa walau cuma setengah hari. Dan lebih senang lagi ketika mereka membuatkan aku masakan untuk menu buka dan sahurku.

Dan aku sangat menghargai semua itu.

Walau aku takkan pernah bisa memahami maksud mereka sepenuhnya, setidaknya aku bisa memberikan sedikit gambaran positif mengenai Islam dan Muslim sehingga mereka mau berbuat seperti itu. Dalam keadaan seperti ini, ditengah intensitas Islamophobia yang tinggi, rasanya gambaran positif tentang Islam semakin diperlukan. Tapi tanpa pemaksaan apalagi kebencian.

Bagiku, pemaksaan berarti kita melupakan sifat dasar dari manusia yaitu sebagai makhluk yang mempunyai kesadaran dan dunia sendiri. Sedangkan kebencian adalah penyakit hati yang mampu menutup akal sehat dan hati nurani. Dan balas dendam? Apa yang kita raih dari membalas dendam selain kemenangan semu dan kerugian bagi orang lain.

RamadanIftar-56a536a15f9b58b7d0db89ae

Haruskah kehidupan beragama kita dipenuhi dengan semua itu?

There is more to life than (arguing over) religion. There is more to life than barking which one is best and which one is not. 

Rather, have faith but show it through your actions and preach yourself before you preach others. 

Begitu banyak pertanyaan dibenakku.

Kenapa beragama harus seperti MLM sibuk tarik sana sini? Kenapa beragama harus seperti berkompetisi siapa yang benar dan siapa yang salah? Kenapa kita tidak menjadikan agama kita sebagai rahmat untuk seluruh alam daripada kehancuran untuk sesama? Kenapa kita tidak bisa menerima perbedaan?

Bukan salah mereka kalau mereka berbeda dari kita, dan bukan salah kita kalau kita juga berbeda dari mereka. Kita memang sudah seharusnya berbeda agar kita bisa belajar dari satu sama lain, karena…

Apa yang kita dengar, baca, dan lihat adalah dari orang lain. Karena kita adalah produk orang lain.

Kenapa kita tidak mulai melihat persamaan daripada perbedaan? Bahwa kita sama-sama manusia yang sedang berjuang dalam hidup, manusia yang mempunyai dunia dan cerita masing-masing, serta manusia yang memiliki alasanan kenapa mereka seperti itu.

Arguing over the differences is pointless karena kita takkan pernah mendapatkan titik temu.

Dear friends, 

May we have a blessful ramadan. Insya Allah.

Ramadan Mubarak everyone 🙂

Oh iya! silakan klik postingan jadul ini juga ya. Mungkin tertarik 🙂
Aku Bangga Menjadi Seorang Muslim

*********

Holyrood North Residence Hall, June 14th 2017
Edinburgh, UK.

Pictures:
Google images

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s