Story from Edinburgh

Dear Indonesia – Renungan Seorang Guru

Apa yang sedang terjadi di rumahku Indonesia?

Setiap hari ranah dunia informasiku sebagian besar dipenuhi oleh potret negatif tentangmu. Terkadang hanya bisa mengelus dada dan menggelengkan kepala. Aku kini seperti sedang berdiri diluar rumah dan melihat kedalam bagaimana para penghuni rumah saling beradu mulut, caci maki, kata-kata kotor berterbangan, foto-foto dan video propaganda berseliweran. Timbul di hati ini antara pulang atau menetap disini. Rasanya secara naluri siapapun tidak mau untuk pulang ke rumah yang tidak kondusif karena pada dasaranya manusia ingin menemukan kedamaian, setidaknya untuk dirinya sendiri.

Inikah realita warga negara Indonesia yang sebenarnya?

Yang konon terkenal akan keramahtamahnnya, gotong royongnya, senyum sumringahnya. Apakah Indonesia telah kehilangan identitas ketimuran yang selalu di agung-agungkan? Apakah Indonesia kini hanya menjadi sebuah negara alat politik praktis yang warga negaranya telah menjadi komoditas menjanjikan untuk jualan agenda-agenda kepentingan mereka. Kenapa warga Indonesia begitu mudah terpropokasi? Kenapa mereka begitu mudah terbujuk rayuan semu yang dibungkus dengan kemasan ras, suku, dan agama? Kenapa mereka begitu keukeuh dengan ideologi mereka tanpa mengindahkan perbedaan? Kenapa kamu menjadi seorang mayoritas yang manja dan merasa paling benar? Kenapa mereka begitu memaksakan kehendak mereka untuk menjadikan negara dengan satu ideologi? Apa untungnya? Apa sebenarnya yang ingin mereka raih? Sebegitu hauskan mereka akan surga? Sebegitu beringasnya mereka bertindak atas nama membela agama? Sudah tidak adakah pikiran kritis dan jernih. Jangan tanya hati nurani.

Sedikit, mungkin masa kecil dulu bisa menjawab sebagian pertanyaan ini. Aku tumbuh di sebuah desa homogen secara suku dan agama. Kami begitu nyaman dengan kemayoritasan kami. Kami bangga dengan agama kami. Kami bahagia dengan cara berpikir kami. Aku belajar agama secara pasif. Para guru dan kiai mengajar dan kami para murid mendengarkan. Satu arah laksana ceramah. Tak ada tanya jawab apalagi diskusi. Kami tidak berani bertanya yang tidak-tidak apalagi nyeleneh. Jawaban kami cukup apa yang mereka bilang. Shalat lima waktu tanpa mengerti hakikatnya apa. Didorong untuk hafal Al-Quran tanpa mengetahui arti surat Al-Ikhlas itu apa. Hidup kami berada di dua pilihan, antara berbuat dosa dan masuk neraka atau berbuat baik dan masuk surga, tapi kami tak mengerti apa itu dosa dan apa itu amal sholeh.

Aku hafal 25 nabi dan rasul, tapi tak pernah mengetahui siapa mereka sebenarnya. Aku hafal rukun Islam dan Iman tapi tak pernah mengerti kenapa iman kepada rasul ada di urutan ke 4. Kami tak berani bertanya yang tidak-tidak dan mereka pun tak bisa menjelaskan selain apa yang mereka baca. Dan itupun kebanyaka out of context.

Pasif, dogmatic dan indoktrinasi. Begitulah gaya belajar agama kami. Hasilnya? Korupsi merajalela, tengoklah jalan desa kami yang masih seperti sungai kering berbatu walau sudah bebebrapa dekade pergantian pemimpin. Diskriminasi, mereka yang beruang mendapat banyak keuntungan. Belum lagi politik dinasti. Rasis, memanggil orang dengan nama suku sudah menjadi budaya kami karena mereka memang berbeda dari kami. Lalu apa hasil pelajaran agama kami? Tak ada selain hapalan di kepala dan gerakan.

Dimana letak kesalahannya?

Adalah terletak ketika kita belajar agama hanya sebagai kewajiban tanpa tahu esensi. Belajar hukum agama dari dalil dan perkataan ulama tanpa melihat konteks. Dan yang paling jelas adalah belajar agama hanya sebagai pemuas diri belaka bahwa aku lebih baik dari kamu.

Maka timbulah kita dengan mudahnya melabeli orang lain hanya mereka berbeda dari kita secara, akidah, ras dan suku. Bahkan dalam satu akidah pun masih banyak perbedaan. Kita dengan mudahnya menghakimi orang lain, melabeli mereka kafir, memutuskan mereka berdosa dan akan masuk neraka.

Hey!

Kamu siapa bisa tahu mereka berdosa dan akan masuk neraka? Keputusan masuk surga dan neraka tidak ada di tangan manusia meskipun kamu mengaku beragama. Melihat orang bukan hanya dari tindakannya tapi juga latar belakangnya. Coba untuk berpikir kritis dan melihat sesuatu dari berbagai sisi. Kita punya otak dan pikiran, so jangan hanya melihat sesuatu menurut commonsense kita saja hanya agar kita merasa puas.

Kita tahu mencuri itu dosa, tapi kenapa seseroang bisa mencuri? Kita tahu menjual diri itu dosa, tapi kenapa ada yang menjadi PSK? Morality is complex. It is not just black and white. Kenapa ada yang berbeda agama? Apa itu kemauan mereka?

Kamu merasa agamamu itu terbaik karena kamu tumbuh berkembang bersama agama dan orang-orang seagama denganmu. Pun mereka yang berbeda agama denganmu berpikir demikian. Manusia punya pandangan dan interpretasi sendiri mengenai siapa mereka dan dunia mereka. Itulah mengapa cara berpikir kita berbeda. Lalu kamu ingin menyatukan kita semua dengan satu ideologi?

Nonsense!

Kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu karena manusia bukan binatang. Pun kamu tidak bisa menghakimi kehidupan orang lain hanya karena mereka berbeda. Siapa kamu? Tahu apa kamu tentang mereka? Tahu apa kamu esensi patung-patung di gereja yang menurut kamu adalah berhala.

Dear Indonesia,

Kelak, ketika muridku bertanya:

Apakah aku harus memilih pemimpin yang seagama denganku?

Aku akan jawab tidak mesti. Gunakan hati nurani dan logikamu karena anatara keyakinan dan tingkah laku tidak selalu sepadan. Kemakmuran sebuah negara tidak dilihat dari agama, pun kelakuan seseorang tidak mencerminkan ajaran mereka apa. Banyak negara bukan beragama tapi tingkah laku mereka mencerminkan umat beragama dan sebaliknya. Again, morality is complex.

Apakah aku mesti benci mereka hanya karena mereka berbeda dari aku?

Benci dan cinta sama-sama membutakan. Tapi benci lebih membutakan karena kamu telah menutup semua pintu logika dan hati nuranimu. Kebencian hanya akan menghasilkan amarah dan anarkisme. Tapi setidaknya cinta bisa memberikan sedikit kenyamanan pada dirimu.

Bolehkah aku mempertanyakan agamaku?

Sialakan. Manusia mempunya otak dan pikiran agar kita bisa bertanya mengenai apapun, termasuk agama. Kebenaran mungkin mutlak tapi agama tidak. Agama kini hanya menjadi symbol belaka, kehilangan identitas dan esensinya. Kalau kamu yakin agamamu benar, simpan itu untuk diri kamu sendiri. Orang tidak butuh orasi dan nada-nada anarkisme agar mereka percaya agamamu. Apalagi dengan kekerasana. Orang hanya akan merasa terkesan denganmu ketika kamu menghormati satu sama lain dan bertingkah layaknya manusia yang bisa dihargai.

Bagaimana aku menyikapi informasi yang datang kepadaku begitu mudahnya sekarang ini?

Questions everything until you understand. Simply believing will make you oppressed and manipulated. Bahasa adalah senjata ampuh untuk mengelabui manusia. Bahasa tidak neutral karena tergantung siapa yang menggunakan dan kepada siapa diarahkan. Don’t just click, comment and share. Read the content and understand it better. Oftentimes what the title says is not what it says.

Tapi aku takut masuk neraka dan ingin masuk surga?

Good.

Rasa takut menandakan bahwa kita tidak selamanya kuat dan kita percaya ada yang lebih kuat dari kita. Takut masuk neraka dan ingin masuk surga bisa menjadi modal kamu untuk bertingkah layaknya manusia yang seutuhnya. Tapi jangan menjadikan itu sebagai modal untuk bertingkah sesuka hati kamu. Apalagi berlaku yang merugikan banyak orang hanya karena kamu ingin menikmati kekalnya surga. How selfish it is!

Kamu pikir dengan ngebom berarti kamu bisa masuk surga? Lihat para korbannya. Mereka punya adalah manusia, mempunyai keluarga, anak, istri. Apakah kamu rela seorang anak menangis karena orangtuanya terbunuh bom kamu. Apakah Tuhan rido dengan perbuatanmu? Apakah Tuhan setega itu memasukan kamu kesurga sedangkan para korban bom kamu harus hidup menderita sampai akhir hayatnya?

Bolehkan aku membela agamaku?

Tentu! Tapi belalah mereka yang tertindas bukan agamanya. Be rational jangan sensitif. Lihat konteksnya dan pertanyakan maksudnya. Selalu lebih mudah menyulut api daripada memadamkannya.

Jadi aku mesti gimana?

Be a decent human being. Manusia yang orang lain bisa hargai meskipun mereka bukan dari golongan kamu. Berpikir kritis dan pertanyakan apapaun. Berpikir kritis bukan berarti nge-judge orang seenaknya. Tapi kamu mampu untuk melihat sesuatu dari berbagai sisi, baik sisi sosial, textual dan context nya. Dunia tidak lagi hitam dan putih jadi jangan sampai kamu menjadi budak dan tunggangan kepentingan orang lain.

Jadi aku boleh dong mempertanyakan seorang guru?

Sure! Pendidikan bukan lagi ranah seorang guru tapi juga murid. Sudah selayaknya guru juga belajar dari siswa karena mereka manusia yang mempunyai pengalaman dan kesadaran. Dan kita selalu bisa belajar lebih dari pengalaman orang lain.

Dear Indonesia,

Aku akan tetap pulang kerumah dan menjalankan apa yang bisa aku lakukan karena kamu adalah rumahku, walau bagaimanapun keadaannya. Aku tidak ingin Indonesia hancur. Aku tidak ingin Indonesia terpecah belah. Aku pikir lebih baik hidup penuh perbedaan namun berdampingan daripada hidup dipaksa untuk diseragamkan. Can we be that Indonesia with unity in diversity?

**************

Edinburgh, UK, 10 Mei 2017
Images retrieved from:
http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/05/10/opqhm2354-pendukung-ahok-demo-di-pengadilan-tinggi-dki-jakarta

http://nasional.harianterbit.com/nasional/2017/02/21/77321/25/25/Meski-Hujan-Aksi-212-Digelar-Penjarakan-Terdakwa-Penista-agama

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s