Catatan Seorang Guru Muda

Catatan Seorang Guru Muda (Part I)

CerdasTangkas
Picture: baltyra.com

O, Ibu dan ayah selamat pagi
Kupergi belajar sampaikan nanti
Selamat belajar nak penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat
Hormati gurumu sayangi teman
Itulah tandanya kau murid berprestasi…

Pasti semua tahu lagu dari ibu Sud di atas, kan?. Lirik terakhir memang berbeda karena itulah yang aku sering dengar di TVRI dulu.

Yak lagu di atas adalah lagu pembuka sebuah acara cerdas-cermat tingkat SD. Lupa nama acaranya tapi selalu tayang setiap hari minggu di stasiun TV satu-satunya pada saat itu, TVRI nasional.

bm-image-788787
Tumbuh kembang bersama TVRI 😀 (Picture: gambarlogokeren.blogspot.com)

Aku selalu duduk dengan manisnya menjelang acara itu dimulai. Ada mimpi bahwa suatu saat nanti aku bisa ikut di acara itu. Apalagi hadianya keren-keren. Di akhir acara suka ada kuis untuk penonton berhadiah sepatu merk Logo yang menurutku sangat keren. Caranya jawabannyan harus di tulis di sehelai kartu pos dan dikirim ke alamat PO BOX mereka.

Di desa begini mana ada kartu pos haha… kantor pos aja ga ada. Tapi pernah sih iseng ikutan pake selembar kertas dan dikirim lewat paman yang kerja di kota.

Hasilnya?

Tidak pernah ada haha.. mungkin si paman lupa memasukan ke kotak pos atau memang karena jawabannya ditulis di atas selembar kertas biasa bukan kartu pos jadi tidak eligible.

Entahlah!

Tapi untuk cerdas-cermatnya sempet ikut dua kali, ketika kelas 5 dan 6. Biasanya di kecamatan yang menaungi SD ku suka ada lomba cerdas-cermat tingkat kecamatan setahun sekali. Waktu itu aku duduk di kelas 5 dan ditunjuk untuk menjadi perwakilan bersama satu orang teman sekelas. Setiap SD perwakilannya mesti dua orang.

Aku waktu itu pergi bersama Wendi berangkat pagi-pagi naik mobil bak terbuka menuju SD Pasirlangkap yang ditunjuk menjadi tuan rumah lomba. Kita boleh memilih salah satu bidang lomba yaitu IPA, IPS atau Matematika.

Aku sih jujur butek Matematika, so aku lebih memilih IPS. Syukur sih akhirnya keluar sebagai tiga besar walau namanya salah tulis, bukan Nanak tapi malah Nawak dari SD Lio.

Facepalm!

iWKad22.jpg

Lomba yang kedua ketika aku kelas 6 SD. Kali ini aku pergi bersama Fitri, siswa pindahan dari salah satu SD di Cibadak. Nah yang kedua ini 10 besar aja bahkan tidak masuk karena sosoan milih Matematika :/

Akhirnya aku pulang aja dengan membawa segulung sampul buku cokelat bertuliskan “Rajin Pangkal Kaya” yang aku beli dari uang yang di kasih Pak Asep, guru pembimbing lomba.

Aku kasih 3 lembar ke Fitri. Bagi-bagi ceritanya haha… Dan hari-hari pun berjalan seperti biasa sampai aku lulus dan pindah ke Bandung. Aku tidak pernah mengetahui lagi kabar mereka semua.

Ok jadi maksud tulisan ini apa? Pake “guru muda” segala.

Haha… sederhana sih. Aku hanya ingin menceritakan jerih payah perjalanan hidupku yang membimbingku menjadi seorang guru.

Alah… apa kerennya sih jadi seorang pengajar. Gajinya aja kecil.

Mungkin. Tapi kalau sudah pernah merasakan bahwa kegiatan sehari-hari kita setidaknya bisa membantu hidup orang lain menjadi lebih baik pasti pandangan akan seorang guru akan berubah.

Really?

Percaya deh! Karena itulah yang setidaknya aku rasakan sekarang. Tak pernah berpikir sih bakal menjadi seorang pengajar, bahasa Inggris pula.

Anak desa udik kaya aku sosoan ngajar bahasa Inggris. Bahasa Sunda aja masih belepotan. Tapi ternyata ya apa yang diucapkan dulu bisa menjadi kenyataan.

Perjalanan mengajarku cukup panjang hingga akhirnya aku sekarang mengajar di sebuah sekolah bahasa Inggris boleh dibilang “ekslusif” meskipun bukan sekolah formal. Dan sekarang alhamdulillah dipercaya untuk menjadi bagian dari manajemen, menjadi kepala bagian akademiknya. Aku menjadi banyak belajar mengenai manajemen pendidikan untuk sekolah sekeren itu.

wall-street-english-school-interior-design-19.jpg
Tebak sekolah apa ini haha 😀

Sombong!

Haha… Itu kata-katanya sudah di edit sedemikian rupa agar tidak terkesan sombong.

Jadi gimana ceritanya?

Jadi gini… percaya tidak kalau apa yang dulu secara tidak sadar kita ucapkan ternyata bisa menjadi doa yang dikabulkan suatu saat nanti? Nah itu yang terjadi padaku. Makanya hati-hati kalau berucap haha…

“Be careful of what you wish for!”

Tuhan tahu tapi menunggu. Kata Arai temannya si Ikal sih gitu.

Pasti pernah kan waktu kecil ditanya cita-cita mau jadi apa? Rata-rata pasti jawabannya mau jadi dokter, insinyur atau pilot, iya kan?

Nah berhubung aku hidup di desa, bersekolah di tempat yang bobrok dengan guru cuma 4 orang, kalau ada yang nanya cita-cita jawabanku pasti menjadi seorang guru.

Kalau teman yang lain biasanya jawabannya menjadi petani atau kerja di Jakarta. Kerja apa aja yang penting di Jakarta. Ga ada yang salah sih dengan semua itu, hanya mungkin pemikiran kita aja yang sederhana.

Ya gimana lagi wong sehari-harinya dihiasi dengan sawah, ladang dan kerbau. Ternyata lingkungan memang mempengaruhi cara pandang seseorang. Boro-boro ya kita mah mikir jadi dokter atau insinyur apalagi pilot. Kalau ada pesawat lewat aja malah bersembunyi. Katanya jangan sampai memperlihatkan diri apalagi minta uang ke pesawat soalnya suka di kasih kepala orang dijatuhkan dari atas. Gitu kata orang tua dulu. dan kita percaya aja :/

Haha.. lucu memang. Namanya juga anak-anak.

You won’t believe how happy it was being a child in a small faraway village. Simple life can be so memorable, really!

Terus kenal bahasa Inggrisnya dimana?

Nah ini juga lucu. Aku dapat sedikit mata pelajaran bahasa Inggris waktu itu di kelas 6 SD. Ya cuma dasar banget kaya personal pronouns, sedikit parts of speech dan nama buah-buahan atau benda-benda disekitar kita. Eh dan sedikit percakapan sederhana juga.

So, jangan harap kita bisa cas cis cus orang kalau dikelas bahasa Inggris seringnya malah di buat maenan terutama dalam hal pelafalan kata alias spelling. Beuh buat anak desa itu susah banget. Makanya sering jadi bahan becandaan.

Ahh.. dasar udik!

Memang!

Perkenalan pertamaku pada bahasa Inggris memang sedikit unik. Karena aku tinggal di desa bersama kakek nenek, sementara orangtua ku tinggal di Bandung. Sekitar beberapa bulan sekali kakekku suka pergi ke Bandung mengunjungi orangtuaku. Nah beliau pergi ke Bandung pasti selalu menggunakan bis. Dulu sering banget ada penjual buku-buku “kunci pintar” (kunci pintar apa aja, bahkan primbon pun ada) di dalam bis seharga sekitar 3000 rupiah. Nah kakekku ini suka membelinya ketika pulang ke kampung. Oleh-oleh katanya.

IMG_20160128_141004_172_scaled
Picture: bukalapak.com

Anddd.. I was so happy beyond belief whenever I got those kinds of books!

Selain itu aku juga suka nulis, jadi apapun yang aku temukan atau baca suka di tulis di buku kumalku. Belum lagi nih waktu itu lagi booming-boomingnya film Simon Templar 007. Walau ga ngerti mereka ngomong apa, tapi bahasa Inggris itu kedengarannya keren sekali. Dari situ lah aku mulai mengenal bahasa Inggris dan sangat menyukainya walau ga pernah ada pemikiran untuk menjadi seorang guru bahasa Inggris di kota.

article-1078382-007F6511000004B0-811_468x313
Om Simon (picture: dailymail.co.uk)

Okay… jadi di episode “Catatan Seorang Guru Muda” ini aku ingin menceritakan pengalamanku mengajar bahasa Inggris dengan murid dan sekolah yang berbeda-beda. Termasuk para guru dan professor yang telah menginspirasiku untuk menjadi seorang pengajar yang lebih baik lagi.

Memang cita-cita utamanya apa sih, kan udah menjadi manajer akademik?

Haha… my ultimate life goal is to become a young and handsome – yep you hear it right- professor, teaching in a university and do some research and social projects.

Simple!

Oh iya sambil ngedosen juga pengen ngebuka Teacher Training Program dan cafe edukasi untuk mewadahi tempat belajar yang nyaman untuk siswa sekolah dan mahasiswa. Masih jarang nih di Bandung.

Amin moga terlaksana ya!

Sebelum itu, tentunya untuk menjadi dosen harus at least obtain a Master’s Degree, kan? Nah, Alhamdulillah nih di kasih rejeki yang luar biasa untuk bisa sekolah lagi. Nanti deh aku ceritain yang ini di eposide yang berbeda lengkap dengan orang-orang luar biasa yang mendukung dan membantu perjalannku untuk sekolah lagi di negeri orang.

Alrite!

I think segini dulu deh. Di chapter selanjutnya aku akan menceritakan pengalaman ngajarku di USA dan beberapa sekolah di Indonesia, termasuk tipe-tipe murid, persepsi guru dan orang tua.

Be back soon :)))

*******

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Catatan Seorang Guru Muda (Part I)

  1. Now you know for sure that I did read your blog posts! xD
    Good thing I follow your blog on my dashboard, I’d have got lost if I hadn’t lol. This way I know you’re posting new post *dances*

    Waktu kecil aku juga pernah ikut cerdas cermat SD! Jadi inget gara-gara baca post ini hahaha
    It’s strange when we did some achievement in the past and felt overjoy by it, but now it feels the opposite :’)

    Keep the new post coming!

    1. Hi Cil,

      Thanks much for following my blog and reading some stupid posts haha..

      I think you havent shared anything at the moment, have you?

      That’s nice! But why did you feel the opposite now? 😀

      1. I just shared something exactly just now xD

        Hmm to be honest I’m not quite sure why I wrote the opposite? lol
        Maybe I just wanted to show that I miss feeling overjoy haha

        Enjoy studying a lot of books! xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s