Greyhound Journey USA

Catatan Perjalanan (Greyhound Journey, USA) #4 Finale

“There is no greater agony than bearing an untold story inside you.” (Maya Angelou)

nmfg 419
Nava Valley, California

Everything has an end, dan inilah episode finale dari cerita petualangan si anak desa keliling USA dengan bus Greyhound selama 5 hari, sendirian pula. Banyak yang aku pelajari dari perjalanan ini, dan tentunya catatan kecil ini akan menjadi kenangan yang takkan pernah aku lupakan seperti yang ibu Maya bilang diatas.

Suatu saat ketika kita merasa kangen akan momen-momen tertentu, kita bisa membayangkannya, melihat foto-fotonya atau yang paling powerful menurutku adalah membaca ceritanya karena imajinasi kita akan melayang jauh ke momen-momen tersebut, membuat kita seperti berada disana kembali.

Perjalanan dari West ke East ini akhirnya terbayar dengan memuaskan. Memang tak ada yang bisa menandingi self-satisfaction, apalagi kalau semua diraih dengan tetesan keringat, darah dan airmata. Tetesan keringat karena lari-lari ga jelas, tetesan darah karena diserbu nyamuk dan tetesan air mata karena kapeureungpenan #apa ya bahasa Indonesianya haha πŸ˜€

Ok, Nak! Sudah cukup! Jadi bagaimana ceritanya?

Ehmm….

Sudah baca part 3 nya? Kalau belum silakan klik disiniπŸ™‚

Sekedar teaser, di bagian ketiga aku sudah sampe di kota yang penuh taksi kuning, Ayo kota apa?

Yes.. Newwww Yorkkkkkk… kota yang kejam seperti Jakarta yang tak pernah tidur, namun memberikan banyak harapan bagi para pengunjungnya yang gigih dan penuh mimpi.

resized_philosoraptor-meme-generator-if-new-york-is-the-city-that-never-sleeps-then-why-do-they-sell-beds-01dfff

Tersebutlah seorang anak udik, pendek, item, kurus, idup lagi dengan jaket winter murahan yang sudah kumal duduk menyendiri di ujung kursi tunggu. Anak itu terlihat lelah. Wajahnya yang biasanya memancarkan cahaya bak model di iklan kosmetik “P**D’s” kini telah memudar. Tutup kepala berwarna hitam menempel ketat dikepalanya.

Sepertinya dia lapar! Atau mungkin juga galau meratapi nasib selanjutnya. Berkali-kali dilihatnya jam tangan KW 1 dipergelangan tangan kirinya. Raut wajahnya masih merana, meratapi nasib ditengah hiruk pikuk basement kota NYC. Lalu dia pun berdiri, Digendongnya tas ransel berwarna biru yang sedari tadi ada dipangkuannya. Sedangkan tangan kananya meraih peganangan tas jinjing besar yang tergeletak di lantai. Dengan langkah guntai dia mendekati pintu masuk bus berwarna hijau cerah bertuliskan “Springfield, Massachusetts.”

Tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan apalagi badai, seorang pria bertubuh gempal (haha sotoy banget) mendatanginya dan berbicara bahasa Spanish. Wajahnya yang kucel itu kini bertambah bingung. Akhirnya dia bilang bahwa dia tidak berbicara bahasa Spanish, bahwa dia seorang keturunan Asia murni.

Asian woy Asian… masa disangkan orang Latin lagi. Hadeuhhhh!

Kurang sipit apa ni mata πŸ˜€

first-asian-meme_o_723044Tepat pukul 8.30 malam waktu setempat, sang bis pun datang. Wah ternyata bukan Greyhound karena warnanya berbeda. Yang ini berwarna hijau bukan biru. Dan tulisannya itu adalah “PETERPAN.”

Wah mungkinkan ini bis Ariel CS? Mungkin aja mereka mau manggung di NYC buat tahun baru. Tapi tak tampak kepala si Ariel maupun si Uki haha πŸ˜€

Sang sopir yang gagah itu turun dan berkata yang intinya bis udah siap dimasuki.

Good! Berhubung aku berdiri paling depan, maka tiket aku diambilnya dengan paksa lalu disobek. Aku hanya bisa tersenyum, lalu dia pun tersenyum. Akhirnya kami saling tatap dan tersemburlah rasa cinta itu.

#Fokus!

Dia bilang thank you, lalu aku pun masuk dan memilih duduk dibelakang dia biar kalau dia cape dan mulai ga fokus mengemudi aku bisa tampar dia dari belakang atau didegungkeun sirahna sambil berkata:

“Pokus koplak tong ugal-ugalan.”

Bisnya keren bro! Wangi dan terlihat masih baru. Udah gitu penumpangnya ga banyak lagi, so kursi panjang besar itu semua jadi milikku. Aku taro tas ransel di samping sebagai penanda wilayah kekuasaan haha… bahwa siapapun yang mau duduk disitu harus berpikir dua kali karena ada tas ransel. Tidak berapa lama bis pun berangkat.

Bismillah…Ya Allah lancarkeun ieu abi iinditan πŸ™‚

Bus Peterpan
Bus Peterpan
Interior Dalamnya
Interior Dalamnya

Springfield, Massachusetts. 30 December 2011 at 12:15 am.

“People who don’t travel cannot have a global view, all they see is what’s in front of them. Those people cannot accept new things because all they know is where they live. (Martin Yan)
Springfield-MA

Perjalanan NYC – Springfield tidak lebih dari 4 jam. Setelah istirahat beberapa saat di Hartford, Connecticut. Bis Peter pan pun sampai di kota Springfield, kotanya Borat the Simpsons haha.. πŸ˜€ Sepanjang perjalanan aku tidak bisa tidur sama sekali padahal sudah berbaring di segala arah. Berbagai gaya sudah dicoba, berbagai lagu di playlist sudah diulang-ulang aya meureun 5 kali mah. Tapi tetep ga bisa tidur.

Entahlah! Apa yang mengganjal di hati ini haha πŸ˜€

Tepat pukul 12.15 bis pun sampai di stasiun. Hanya tinggal beberapa orang saja. Haduh semoga stasiunnya masih buka. Kalau tidak kan bahaya. Tanggal 30 Desember biasanya lagi dingin-dinginnya. Belum lagi tengah malam begini.

Bener saja! Pas sampe di luar.. ya Tuhan meni tiris pisan… Ini cuaca yang paling dingin yang pernah aku rasakan. Kayanya lebih dari 10 derajat minus nih. Kebetulan bisnya parkir lewat belakang stasiun yang terlihat sangat sepi. Hadeuh makin deg-degan saja nih. Semua penumpang turun termasuk aku. Kulihat mereka semua berjalan ke arah depan stasiun. Ah.. mungkin pintu masuknya disana. Ya udah aku ikut mereka. Ternyata oh ternyata… di depan stasiun sudah ada beberapa mobil berjejer menjemput mereka. Satu orang malah pergi pakai taksi.

Jadi ini pemberhentian terkahir mereka? Lalu aku gimana? Mulai panik pemirsa!

Ya iyalah… bagaimanapun kota ini masih asing. Ga tau makhluk seperti apa yang menghuni kota ini, dan kini aku sendiri disini, di dinginnya malam ini, sendiri menanti kehangatan. Bis selanjutnya berangkat jam 5.30 pagi. Masih 4 jam lagi kawan. Aku pun berjalan lagi kebelakang stasiun nyari si sopir bis tadi mau minta penjelasan mengenai nasib diriku yang malang ini. Aduh… mana ieu tas terasa makin berat saja. Harusnya bawa koper yang ada rodanya biar tinggal digusur. Tas jinjing gede gini ternyata kurang nyaman untuk perjalanan jauh. Pas sampai kebelakang udah ga ada apa-apa dong! Bisnya pun udah gelap.

Itu geura! Kudu kumaha sekarang? Harus bagaimana?

Penampakan Stasiunnya

Ok! Aku balik lagi kedepan stasiun. Ternyata pintunya di kunci dan tidak ada siapa-siapa di dalam walau masih terang. Semakin panik! Aku coba memutari staisun mencari pintu yang lain karena semua pintu belakang pun sama sudah dikunci.

Ada sedikit harapan ketika aku melihat dari pintu samping yang terbuat dari kaca, ada seorang pria keturunan Latin sedang me-makum lantai. Aku gedor-gedor itu pintu karena sepertinya dia tidak mendengar karena suara mesim vacumm. Setelah percobaan kesekian kali, akhirnya dia memalingkan muka juteknya. Dia lalu mematikan mesin tersebut dan berjalan ke arahku, lalu membuka pintu. Dengan penuh harapan dan mata berbinar-binar aku berbicara dengan dia.

“Excuse me, sir! Can I come in? My next bus will be at 5 in the morning.”

“Sorry, dude! Im not allowed to let anyone stay inside till 5.”

“But, Im not from here, and I’ve been traveling for 4 days. Let alone it is very cold now, please!” Aku merengek
“Emmm.. sorry… I can’t do anything. Better find some restaurants that still up.”
1370437

WTF!! mana gua tau ada restoran di kota ini yang masih buka jam segini orang baru pertama kali kesini, malam pula. Aku coba menunjukan tiket bisnya sebagai bukti. Gapapa duduk di lantai juga yang penting masuk ruangan yang hangat. Tapi dia keuekuh sumeukeuh tidak mau.

Damnit!!

Ni orang hati batu kali ya… ga melihat apa betapa menggigilnya diriku, malah disuruh keliling kota cari restoran. Usahapun nihil akhirnya aku hanya bisa menelan ludah dan mengusap air mata ketika dia menutup pintu dan kembali melanjutkan pekerjaannya, mendorong itu mesin back and forth. Sumpah pengen nangis #cengeng sebenarnya karena selain panik ga tau harus ngapain, ini rasa dingin semakin menusuk saja, terutama di bagian kaki karena aku cuma memakai celana jeans biasa dengan sepatu boot kulit seharga $30. Ini bener-bener diluar bayangan lah. Aku pun melangkah ke arah bis tadi yang diparkir, sapa tau ketemu sapa gitu disana yang bisa nolong.

sad-crying-l
Tak ada! Bener-bener sepi dan dingin. Aku coba duduk di salah satu pagar pembatas dan mencoba berpikir tenang dan rileks sambil tarik nafas dalam-dalam, mirip di kelas Yoga. Bagaimanapun harus segera menemukan shelter karena kalo tidak bisa mati hippotamus.. eh hipotermia. Selintas berpikir untuk bunuh diri.. ehhhh.. maksudnya menginap di hostel, tapi ini uang cuma 5 dollar lagi dan di ATM pun tak ada. Uang stipend masuk paling besok sore. Mau nelpon administerku di DC juga ga mungkin karena ga ada pulsa sama sekali!

Sial!! Bener-bener terjepit! Meni rarewas jeung sararieun.

Akhirnya setelah merekam suasana pake HP samsung jadul sebagai kenangan sambil ngomong sendiri mirip acara dunia lain, aku berjalan ke arah taman di pinggir stasiun berniat untuk menyembunyikan tas jinjing disana sambil aku mau coba cari resto terdekat yang masih buka. Aku sembunyikan itu tas di antara sekumpulan pohon apalah namanya, dan aku coba merekam detik-detik tersebut. Setelah dirasa aman, aku mulai berjalan menuju ke arah jalan raya.

Sepi banget masa Allah kaya kuburan. Kayanya Springfield ini kota kecil banget deh. Terkadang ada beberapa mobil yang lewat lalu aku sembunyi di balik pohon seperti India-Indian. Entah kenapa tapi rasanya was-was gitu. Sararieun. Setelah dirasa aman aku pun berjalan menyusuri trotoar mencari resto yang masih buka. Pas berada di bawah jembatan, aku lihat air-air yang menetes dari atasnya telah berubah menjadi es seperti stalaktit di gua-gua.. Ini berarti udah jauh di bawah 10 derajat meureun nya. Jangan ditanya kalau telinga sudah sangat sakit dan hidung besar ini memerah kembang kempis.

16150239-mmmain

Kulihat ada resto pizza kecil di seberang jalan. Sambil liat kanan-kiri, aku pun menyebrang. Padahal mah sepi sebenarnya haha… Eh pas dilihat si petugasnya lagi angkat-angkat kursi ke atas tandanya udah mau utup. Aku berjalan lebih atas lagi namun tidak menemukan satu pun resto yang buka. Bener-bener dah! Karena semakin tak kuat menahan dingin dan sudah mau jam 2 juga, aku memutuskan balik ke stasiun. Kulihat ada gedung perkantoran yang ada temboknya #ya iyalah. Maksudnya ada tembok pagar. Siapa tau bisa berlindung di balik tembok tersembut sambil menunggu pagi. Sayanganya temboknya terlalu pendek. Meskipun duduk, orang-orang yang lewat di jalan tetep bisa melihatku. Tetep takut mereka mendekati dan meraba-raba diri ini yang rapuh πŸ˜€

Bad idea! Akhirnya kembali ke stasiun lalu ambil tas yang tadi disembunyikan. Perasaan makin ga karuan dan mulai linglung sampai melihat dibelakang staisun itu ada sekumpulan pohon cemara dan pot-pot bunga besar yang lumayan bisa melindungi diri dari penglihatan orang-orang keji dan munkar yang lewat di jalan raya. Selain itu ada temboknya lumayan buat menyender dan alasnya batu-batu kerikil kecil.

Aku mencari celah yang paling nyaman. Lalu aku duduk disana beralaskan kerikil. Ku ambil selimut, syal dan baju-baju dari dalam tas untuk setidaknya memberikan rasa hangat. Tapi sial sama sekali ga berfungsi. Kayanya dinginnya terlalu kuat. Rasa haus dan lapar mulai menyerang. Aku ambil botol minum kalengku dannnn…. dinginnya kebangetan. Kayanya bentar lagi juga jadi es.

Parah nih! Karena sudah terlalu lapar, aku ambil sebungkus mie rebus yang sengaja aku bawa. Ada gunanya juga untunglah. Aku makan mentah-mentah mie tersebut seperti kerupuk. Lumayan mengganjal perut untuk beberapa jam kedepan. Jam baru menunjukan jpukul 2, masih sekitar 3 jam lagi untuk sampai ke jam 5.

Tuhan… apakah bisa bertahan? Meni teu kiat kieu tirisna 😦

Saat-saat itu bener deh udah mau pasrah saja. Duduk di tengah cuaca dingin itu adalah ide yang sangat buruk karena badan kita jadi tidak bergerak sehingga tidak menghasilkan panas. Badan semakin menggigil, kulit jari dan bibir terasa kering dan berkerut. Pengennya tidur tapi rasa dingin ini seperti sebuah sihir yang menghempaskan segala rasa selain kedinginan.

Aku mulai mengigau berbicara yang aneh-aneh… Penglihatan pun sudah terasa buyar, telinga semakin sakit saja. Aku mencoba menutupi semua tubuhku dengan selimut dan baju-baju, mencoba berbaring juga tapi apalah daya kalau seluruh badan terasa dingin menusuk tulang. Entah apa yang terjadi yang jelas aku bisa bertahan sampai jam 5. Perasaan awal yang mungkin akan pingsan tidak terjadi. Aku melihat jam dan hampir menunjukan jam 5.

??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Suasana jalan di depan sudah mulai ramai. Tepat pukul 5 lebih sedikit aku berusaha bangkit. Tapi aduhh susahnya… Laleuleus. Serasa seluruh tubuh terasa lumpuh. Mungkin karena sendi-sendi menjadi kaku dan darah kurang mengalir dengan lancar. Setelah berusaha, aku pun bisa bangkit walau tidak stabil.

Hayo bangkitlah anak muda! Aku serasa mendengar suara itu dari langit hahaha… πŸ˜€ Aku ambil tas ransel dan merapikan selimut dan baju-baju. Aku dorong tas tersebut hingga pintu depan stasiun.

Alhamdulillah sudah terbuka. Aku pun masuk dan mulai mencari kehangatan. Aku melihat sekeliling, sudah ada beberapa penumpang. Yang aku cari adalah pria tukang bersih-bersih tadi malam. Pengen ngebogem dia rasanya. Tapi sayangnya dia tak tampak. Aku taruh tas dan semuanya. Tak perduli deh kalau ada yang mencuri. Aku berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihan diri. Setelah itu, aku menuju vending machine di ujung ruangan dan menekan tombol untuk kopi hangat.

Ah.. Tuhan.. terasa begitu nikmat ketika rasa hangat itu mengalir ditenggorokanku. Memang terasa nikmat ketika segala seuatu terasa seimbang, seperti cuaca, tidak terlalu dingin maupun tidak terlalu panas. Alhamdulillah juga masih diberi hidup pagi ini. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Aku duduk di deket jendela. Kepala aku sandarkan di kursi sambil memandangi kota ini di pagi hari. Terlihat indah sebenarnya walau semalam terasa menyeramkan.

Memang betapa kecilnya diriku ini. Terkadang rasa takut begitu menghantui manusia hingga sulit untuk bergerak dan memutuskan. Matahari mulai terbit di ujung sana. Sinarnya mulai memantul di kaca jendela bis ini. Bis di jadwalkan sampai ditujuan terakhir jam 7.50, so perjalanan kurang dari 2 jam. Masih ada satu lagi rasa khawatir, yaitu kalau-kalau temenku lupa menjemput. Terakhir kontak dengan dia adalah pas di Seattle ketika masih menemukan wi-fi. Semoga dia tidak lupa tanggalnya yaitu tanggal 30 Desember.

Boston, Massachusetts. 30 December 2011 at 7.50 am

“Perhaps travel cannot prevent bigotry, but by demonstrating that all peoples cry, laugh, eat, worry, and die, it can introduce the idea that if we try and understand each other, we may even become friends.” (Maya Angelou)

395529_2756335840568_1293480946_n
Sudut Kota Boston

Suasana kota Boston pagi hari terlihat begitu indah dan asri. Kota yang penuh sejarah dengan beberapa universitas terkemukanya. Aku sudah memberi pesan kepada pak sopir bahwa aku harus turun di depan gedung Boston State House karena ada beberapa titik pemberhentian di Boston ini.

Aku diturunkan tepat di depan gedung Boston State House, gedung yang megah dan terlihat artistik, di depan patung-patung kuda dan manusia yang menghadap gedung dimana dibelakangnya terletak sebuah taman yang luas, Boston Common.

Boston State House
Boston State House

Udara terasa lebih dingin lagi. Aku super menggigil dan berusaha menahan keseimbangan tubuh dan mulut yang terus bergetar. Aku sempat record detik-detik sampainya aku di kota ini. Lalu aku duduk di sebelah patung-patung kuda tersebut menunggu temanku menjemput. Untunglah tidak berapa lama telponku berdering. Masih cukup ternyata pulsanya untuk menerima panggilan. Dia berkata bahwa dia sudah berada di taman dan menanyakan posisi aku.

Kulihat senyum sumringahnya ketika menaiki tangga. Namanya Yin Yi Tian, seorang warga Chinese berasal dari utara Beijing. Kita memang sudah sangat deket dari semenjak Summer Class kemarin. Dia sebenarnya pendiam dan tidak punya teman ketika datang karena bahasa Inggrisnya sangat pas-pasan. Akhirnya dia mau keluar dari kamarnya ketika aku ajak keluar dan mulai pergi berdua kemana-mana termasuk membantu PR nya dan lain sebagainya. Dia termasuk berasal dari keluarga sangat kaya namun dia bukan tipe orang yang show off. Itu juga yang menjadi alasan aku dekat dengannya.

416883_2756331080449_409985577_n

Kupeluk dia dan say thanks a billion. Dia lalu mengajak ke subway karena apartemennya cukup jauh dari taman Boston Common. Tanpa diminta dia membawa tas jinjing besarku. He is such a good friend, indeed.

Ketika sampai di subway, dia berkata bahwa aku harus membeli tiket subway yang seminggu biar lebih murah. Sayangnya uangku memang tidak akan cukup. Harganya sekitar 9 dollar. Dengan baik hati dia menggunakan uangnya terlebih dahulu πŸ™‚

Ticket Machine
Ticket Machine

Suasana subway Boston terlihat sangat rapi dan bersih. Orang-orang pun terlihat lebih classy dengan baju-baju winter yang super fashionable. Setelah beberapa saat sampailah di tujuan kita, lalu keluar dari subway dan mesti berjalan sekitar beberapa menit untuk sampai di apartemennya.

There we go! Sampai juga. Apartemennya memang tidak terlalu mewah dan banyak warga Chinese disana yang belajar di MIT. Ketika masuk, dia sudah menyiapkan kasur untukku plus beberapa mie instan cup.

Thanks Goodness!

Sore harinya uang bulanan telah masuk dan lumayan besar karena ada uang makan harian selama winter break yang lama ini. Secara finansial sudah terasa aman. Rencananya besok tanggal 31 aku harus ke NYC menggunakan Mega Bus untuk bertemu temen-temen UGRAD ku melewatkan malam tahun baru di NYC. Namun apalah daya, badan terasa semakin lemas saja, lalu akhirnya demam tinggi. Aku terkulai lemas malam itu. Yitiyan sempet pergi ke Chinatown dan membawakan aku nasi goreng. Again.. he is such a good friend. miss him so much! Bahasa Inggris dia pun sudah lebih baik lagi.

Boston, Massachusetts. Day #2, 31 December 2011.

379940_2756339080649_1818110538_n

Pagi di Kota Boston di hari terakhir bulan Desember terasa sangat dingin menusuk tulang walau matahari masih mau menampakkan dirinya. Aku bangun sekitar pukul 8 pagi. Yitiyan sudah bangun lebih awal nampaknya. Dia sedang skype dengan cewenya di Calif.

Badan sudah terasa lebih baik walau demam masih terasa disana sini. Aku bergegas mandi karena rencananya hari ini akan keliling Boston menemui dua universitas terkemuka di dunia, Harvard dan MIT. Pukul 10 pagi kami keluar apartemen. Gila!! Dinginnya itu loh… syal dan jacket tebal sepertinya tak mampu menahan laju cuaca dingin pagi ini. Dengan timpang kami melangkah keluar menyusuri jalan menuju Subway.

Kami sarapan di kedai pizza terdekat karena simply 5 dollar dapat pizza segede pintu plus free Pepsi haha… πŸ˜€ Deal yang cukup bagus untuk kota semahal Boston.

Harvard dan MIT itu tetanggaan tapi tak pernah ada tawuran haha… keduanya aman damai. Kami mengunjungi MIT dulu, menyusuri setiap gedung-gedung kampus utama seperti yang dulu aku tonton di film “Good Will Hunting.” Memang ya universitas terkenal itu seperti pemimpin hebat, ada kharismanya. Rasanya itu luar biasa ketika menyusuri setiap jengkal tanah dan menyentuh dinding-dinding batunya yang dingin.

Harvard University
Harvard University

Kebetulan Yitiyan membawa kamera DSLR, so aku minta dia fotoin aku di hampir setiap sudut gedung haha… untungnya dia sabar dan telaten banget melihat tingkah udik anak konyol ini. Aku merasa seperti student MIT ketika berjalan di antara mahasiswanya dan mengunjungi perpustakaannya. Setelah mengunjungi COOP MIT dan membeli beberapa tshirt dan cap (muahal banget bro haha..!), kami berpindah ke univ sebelah punyanya Bapak John Harvard.

382875_2699675344091_660707353_n

Kalau MIT banyak gedung nyeleneh, nah Harvard ini banyak gedung tembok merahnya. Yang paling keren itu adalah gedung Law nya, merah merona seperti sebuah castle. Seperti halnya di MIT, aku kunjungi dan sentuh setiap sudut gedung Harvard dan ambil foto sebanyak mungkin. Dan jangan lupa harus menyentuh sepatunya Mr. John Harvard haha.. πŸ˜€

MIT
MIT

Ah.. kapan yaΒ  bisa kuliah disini dan mempunyai student card-nya?

Tak lupa juga mengunjungi Harvard COOP, dan harganya sama saja mahal. Hanya dapat diskon kalo student Harvard walau aku bercanda sama kasirnya kalau student dari Calif bisa dapat diskon atau tidak. Ya namanya juga usaha bu haha πŸ˜€

Aku membeli t-shirt dan Hoodie Harvard tentunya, yang later semuanya hilang pas pindah apartemen 😦

Setelah puas… berhubung sudah petang, kami menyusuri jalan Newbury Street, pusat pertokoan brand-brand ternama di Boston. Kami memasuki setiap toko disana dari Forever 21, Cartier sampe H&M, pura-pura mau belanja dan berlagak perlente haha.. padahal mah uang ga lebih dari 1000 dolaran di atm. Untungnya di H&M banyak diskon akhir tahun dan harganya ga terlalu mahal dari toko-toko yang lain.

Nafsu belanja keluar pemirsa. Maka aku keluar membawa 3 shopping bag haha.. πŸ˜€

Newbury Street, Boston
Newbury Street, Boston

Setelah puas, kami mengunjungi sebuah mall deket Boston Common dan ciattttt belanja lagi deh haha.. tapi Yitiyan sih terlihat lebih banyak memilih dan memperhitungkan. Padahal bisa saja dia membeli apapun orang kaya banget haha.. Ketika ditanya dia sih simple saja jawabannya “I don’t need it” which is bikin aku malu haha.. padahal serba kekurangan gini tapi belanjanya paling heboh. Aku belajar banyak dari dia akhirnya.

Malamnya kami menyusuri setiap sudut Boston Common untuk menyaksikan atraksi kembang api. Ah..sungguh luar biasa kawan menyaksikan hiruk pikuk orang-orang yang akan menyambut tahun baru di sebuah taman yang luas. Kembang api pun menyala dengan dahsyatnya dan aku hanya bisa menutup mata sambil berkata…

400868_2694299409696_1121773568_n

404931_2694297449647_1531855414_n“This is beautiful beyond belief! Thanks God!”

Kami pulang sekitar pukul 1 lebih dan langsung ambruk di tempat tidur tanpa cuci muka apalagi gigi.

Boston, Massachusetts. Day #3. January 1st, 2012.

Penampakan Dalam Boston State House
Penampakan Dalam Boston State House

Hari kedua di Boston dihabiskan dengan jalan-jalan mengelilingi kota ini termasuk ke gedung megah Boston State House. Dulu katanya gedung ini adalah kantor gubernur negara bagian Massachusetts, namun sekarang sudah tidak digunakan lagi, seperti museum. Dalamnya megah gila! Selain itu kami mengunjungi setiap jengkal China Townnya dan kembali bermalas ria di taman Boston Common sampai malam.

402199_2694294529574_378413984_nBerhubung besok Yitiyan sudah mulai masuk sekolah lagi, aku terpaksa mengungsi karena tidak mungkin cuma diem di apartemennya nunggu dia pulang haha….Untungnya aku udah janjian ketemu mbk Nana Sihombing, seorang diplomat yang sedang belajar di disini, di Fletcher School punyanya Tufs University.

Aku sebenarnya belum pernah ketemu dia in person. Tapi kenal dia dari Facebook dan dia grantee Fulbright seangkatan denganku. Dan dengan baiknya dia mau menjamu aku sebagai tamunya. Sore hari aku dan Yitiyan pergi ke rumah mbk Nana. Cukup susah mencarinya karena harus naik Subway dua kali plus jalan cukup jauh menyusuri perumahan dengan cuaca yang super dingin, sampe telinga sakit. Harusnya udah turun salju tuh tapi katanya taun ini lagi ada anomali, jadi belum turun juga tuh si butiran debu putih.

Berkat google maps yangs sedari tadi dipegang Yitiyan, akhirnya kita menemukan rumahnya. Eh suerr berhutang budi banget sama Yitiyan yang mau bawa tas berat aku sepanjang perjalanan ini. Nah aku cuma dibelakang sambil bentak-bentak dia haha… delman keles.

Waduh rumahnya kosong!

Ternyata mbk. Nana masih otw setelah ketemu teman-temanya. Setelah nunggu diluar rumah kedinginan hampir 30 menit, akhirnya dia muncul sambil tersenyum ramah dengan kerudung merahnya.

Me and Mbk. Nana
Me and Mbk. Nana

Omg… akhirnya ketemu orang Indonesia lagi.. dan luar biasanya ramahnya. Padahal baru ketemu secara langsung setelah sering chatting di FB. Kami dipersilahkan masuk. Rumahnya cukup besar dengan dua lantai, tapi cuma mbk. Nana saja coz housemates nya lagi pada liburan.

Dan.. tau apa yang keren??? dia langsung menghidangkan masakan Indonesia lengkap dengan petai nya dong dan teh manis hangat.

Gosh!! serasa dirumah kembali. Aku makan dengan lahapnya. Sementara Yitiyan makan “Astor” asli Indonesia dan nampaknya dia ketagihan haha…

Setelah makan.. Yitiyan ngajak ngerokok sebentar di luar sebelum dia pergi. Ah.. I hate this feeling! Kapan coba bisa ketemu dia lagi. Kami merokok sebatang dulu sambil cerita rencana kedepan ditengah udara dingin. Setelah selesai, dia kemudian memelukku sebagai tanda perpisahan.

So sweet memang but we are straight tho hahaha… πŸ˜€

With his funny English accent, dia mengucapkan salam perpisahan. I thanked him for so many things, for his kindess and sincerity. He is indeed such a good friend that you need to treasure. Dia pun kemudian pulang sendiri menuju Subway di ujung sana, and that was the last time I saw him.

I still stand there until I couldnt stand the cold anymore. I pray I can meet him again someday. Aku masuk dan ngobrol banyak sama mbk. Nana. Banyak yang aku pelajari dari dia dari mulai kehidupan sampe dunia professional pekerjaan dia di Kemenlu. Malam sudah menjelang, dia mohon ijin untuk tidur dikamarnya di lantai 2. Aku memilih tidur di sofa ruang tamu. Setelah mandi, aku coba ngecek email dan nemu essay dari si Afan lagi haha… my good friend from Indonesia. Aku coba baca essay Afan dan proofread.

Boston, Massachusetts. Day #3. January 2nd, 2012.

Petualangan sama mbk. Nana pun dimulai. Kali ini dengan congkaknya kami menggunakan bahasa Indonesia di negeri orang. Kami mengunjungi sudut yang lain kota Boston, mengunjungi Brattle Bookstore, beberapa Museum dan Freedom of Trail sambil bercerita kesana kemari. Sungguh pengalaman yang laur biasa.

Titik awal Freedom of Trail
Titik awal Freedom of Trail

Malamnya kami ketemu dua orang Indonesia yang super keren yang sudah lama tinggal di Boston yaitu mbk. Intan Bareta dan mbk. Beth. Kami makan malam di Boston Market dan seperti biasa bergosip ria. Meskipun mereka lebih tua dari aku tapi mereka enak banget untuk di ajak ngobrol, apalagi mbk Intan yang super ngocol haha… πŸ˜€

From left to right, Mbk. Nana, Me, Mbk. Intan & Mbk. Beth
From left to right, Mbk. Nana, Me, Mbk. Intan & Mbk. Beth

Malampun berakhir dengan indahnya.

Boston, Massachusetts. Day #4. January 3rd, 2012.

Hari ini kita janjian ketemu sama Mbk. Intan dan Mbk. Beth lagi. Kita mau mengunjungi Asian market. Tapi sebelumnya kita mengunjungi Boston Brewery dan makan browniesnya yang terkenal. Setelah itu baru mengunjungi Asian Market dan ketemu Una, seorang wanita asal Padang yang sudah tinggal lama di Boston. Dia membuka semacam catering masakan Indonesia. Malamnya kami pulang di antar oleh suaminya mbk. Intan yang super cool dan baik sekali. Bahkan mereka menawarkan diri untuk mengantar aku ke bandara ketika pulang nanti karena pesawatku terjadwal pagi sekali sedangkan Subway belum beroperasi jam segitu.

404877_2756404282279_353872627_n

Boston, Massachusetts. Day #4. January 4, 2012.

Rencana hari ini adalah ketemu mahasiswa-mahasiswa Indo yang sedang kuliah di sini. Ada juga yang sudah kerja. Disini pula aku ketemu orang-orang super keren para penerima beasiswa PRESTASI USAid, salah satunya ibu Ifa, seorang dosen UPI yang later aku ketahui temennya dosen aku di Indo. Ibu Ifa ini orangnya baik sekali dan rame. Bahkan beliau membelikanku Harvard Hoodie ketika pulang ke Indo karena punyaku hilang waktu pindah apartemen. Beliau juga menawarkan untuk shipping buku bareng-bareng karena banyak bukuku yang tidak bisa dibawa pulang. Kebetulan beliau mesti stay lebih lama di US nya. Makasih banyak bu Ifa πŸ™‚ πŸ™‚

Orang-orang Keren :)
Orang-orang Keren πŸ™‚

Kami makan di restoran Malaysia. Ya mirip-mirip lah ya makanannya haha terutama nasi gorengnya. Malamnya kami maen ke salah satu hotel penerima beasiswa tadi yang sedang liburan di Boston, lalu kami pun pulang dan aku mesti siap-siap packing karena pulang esok hari.

Boston, Massachusetts. Day #5. January 5, 2012.

Subuh aku sudah bangun dan sarapan makanan yang dimasakin mbk. Nana. She is like my sister. Tidak berapa lama Mbk. Intan dan suaminya sudah menunggu diluar mau mengantar ke bandara.

Haduhhh baik sekali mereka sampe nyempetin pagi-pagi kesini. I dont know why but there are many people who are nice to me in States.

Setelah pamitan sama mbk. Nana (My sister.. thank you so much for all the things ya. Love you), aku masuk ke mobilnya mbk. Intan dan langsung tancap gas menuju Logan International Airport. On the way to the airport, salju pun mulai turun. Finally haha.. sayang akunya udah mau pulang.

Logan International Airport
Logan International Airport

Sampai di bandara, aku turun dan pamitan ke mereka berdua. They are such a nice couple. I thanked them ever so much.

Aku pun masuk dan bersiap untuk boarding. Bandara Logan itu simple tapi keren dan megah. Tujuanku adalah San Francisco dan berencana naik bis Greyhound untuk sampai ke Arcata. Untungnya jarak SFO dan Arcata pake bus tidak terlalu lama, cuma sekitar 7 jam. Aku sudah siapin map dari google map cara menuju ke stasiun Greyhound dari bandara SFO. Ternyata aku mesti naik BART dulu (Subway di SFO).

San Francisco, California. January 5, 2012.

Ah.. senengnya bisa kembali ke tanah California. Serasa balik ke rumah. Untung masih nemu harga tiket pesawat yang masih terjangkau karena kalo tidak aku mesti naik Greyhound lagi, 5 hari lagi… habislah hidupku.

Setelah terbang sekitar 3 jam, sampailah di bandara SFO yang super keren itu. Aku langsung menuju BART dan membeli tiket seharga tujuanku. Tidak berapa lama Subway datang dan langsung menembus perut bumi.

BART
BART

Aku terus memperhatikan setiap nama destinasi agar tidak terlewat. Setelah merasa berhenti di tempat yang tepat, aku keluar dari Subway dan langsung menuju ke atas. Dari sini menurut map aku hanya tinggal jalan sedikit menuju Stasiun Greyhound.

Zzzzz.. tapi ternyata pusing juga ya… aku bingung nentuin lewat mana. Belum lagi ini tas berat banget. Tidak disangka ada seorang keturunan Latin menghapiriku dan bertanya dengn bahasa Inggris untungnya πŸ˜€

“Are you trying to find Greyhound Station?”

“Oh yes.. how do you know?”.

“I can see from your bag and the map you’re holding haha.. lemme help you carrying your bag and I’ll show you the place.”

Wah sempat was-was sih tar dia kabur lagi bawa tas aku haha.. tapi dia terlihat baik. Dan memang benar dia mengantarku ke stasiun berwarna biru di ujung sana. Again.. I thanked him a lot dan dia cuma senyum sambil berlalu.

Entah apa ini artinya tapi begitu banyak yang menolong. Apakah itu karena aku sering nolong orang nunjukin tempat ketika di Indo? Tapi yang jelas memang berbuat baik pasti dapat balesan yang baik pula.

Setelah nunggu beberapa saat, alhamdulillah bis pun datang dan aku pun bersiap pulang menuju hutan Redwood di utara sana, back to my red apartment, Creekview.

This is indeed such an amazing experience in States, even my biggest one. I learned so many invaluable lessons along the way, about myself and surroundings. I met many nice people. I faced my biggest fear traveling alone. I almost died in a strange city but it all ended happily. My message is one, travel a lot while you are still young. Find your self-identity dan complacency by traveling. Meeting new people is nice and that will open the way you see the world, through your own eyes not through the media. As people say, we will regret a lot the things we didnt do than the things we did.

Thank you ever so much for all people who helped me prior to and during this travel, my sweet family friends, kang Rulan, the cleaning guy at Peterpan Station (though I was super upset at that time for not letting me in, but thanks anyway coz I now know the feeling of homeless people), my best friend and brother Yitiyan (love you buddy), mbk. Nana (lets meet up again my sis), mbk. Intan and husband Mr. Bondan, mbk. Beth, Ibu Ifa and the Latino guy who helped we showing Greyhound station. This is not the end anyway πŸ™‚ πŸ™‚

20fe62e3f12ab6480bd5d707d85ca708THE END (For the time being)

Advertisements

8 thoughts on “Catatan Perjalanan (Greyhound Journey, USA) #4 Finale

  1. wOW! tHANKS FOR SHARING Such a wonderful trip in USA.. Nice reading… kamu patut jadi penulis macam novel lascar pelangi .. sincere writing tho… πŸ™‚

  2. Cool! keren banget. Walaupun jarang baca blog kamu, tp pas buka-buka dan baca beberapa postingan kamu, interested banget, setiap kalimat yg aku baca seakan2 ngebawa aku pada situasi yang sama.
    Kamu suka banget ya tentang hal yang berbau seperti ini? Travelling, education, menguasai beberapa bahasa, keren keren.

    “Do what you love, love what you do”
    Semoga bs ttep menginspirasi org2 dengan tulisan2 kamu. πŸ™‚

  3. ya ampun nanaaaak…. aku bru tw km punya blog jugaa… harusnya km bisa nulis cerpen2 edukasi lo atau malah novel #mereun
    klo udah bsa nulis yang buat org g bosan bacanya, oke bgt!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s