Something to Think About

These Small Hands

Team and the Kids
Team and the Kids

Hola hola..!!! It’s almost 3 months no write on this blog, but here we go! Cerita ini bermula atas rasa syukur saya kepada Tuhan yang selalu memberikan jalan untuk merealisaiskan mimpi-mimpi ini. So.. bagaimana ceritanya? πŸ˜€

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang ditulis di sebuah blog tentang sisi lain dari novel sejenis novel Laskar Pelangi yang menggambarkan bagaimana banyak orang yang pada akhirnya mensalah artikan pesan dari novel tersebut. Banyak dari mereka yang menjadi west-oriented, menganggap barat seperti dewa. Tapi maksud dari tulisan ini bukanlah untuk mengulas isi dari blog tersebut, melainkan ingin menceritakan bahwa apa yang ditulis di blog itu tidaklah sepenuhnya salah dan bagaimana pandangan pribadi saya sendiri mengenai hal ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak yang belajar ke luar negeri, baik melalui beasiswa maupun dana sendiri, terjebak akan convenience dan simplicity yang ditawarkan oleh negara-negara di belahan barat sana. Banyak dari mereka yang pada akhirnya enggan pulang ke tanah air dan lebih memilih untuk hidup disana. Banyak pula yang belajar ke luar negeri hanya karena ingin jalan-jalan atau belanja. Menyikapi fenomena ini kita tidak bisa menyalahkan mereka semua terutama yang belajar menggunakan dana sendiri karena mereka mempunyai hak tersendiri. Yang perlu mendapat perhatian lebih disini adalah mereka yang belajar disana menggunakan dana beasiswa.

2018.study_abroad_scholarships_header.jpg-550x0

Kenapa hal ini perlu diperhatikan?

Karena tak ada yang namanya beasiswa yang diberikan secara cuma-cuma. Segala jenis beasiswa mempunyai beragam tujuan atau misi baik bagi para donor maupun para penerima beasiswa itu sendiri. Terlepas dari berbagai macam tujuan itu, kalau dikerucutkan, semuanya mengarah kepada satu tujuan, yaitu pulang dan berkarya di negeri sendiri dengan ilmu yang telah di dapat di luar sana.

Makanya tak heran kalau hal ini selalu menjadi salah satu poin pertanyaan penting dalam wawancara beasiswa ke luar negeri maupun dalam aplikasi itu sendiri dimana kita diharuskan untuk menceritakan secara singkat namun mendalam mengenai tujuan belajar ke luar dan rencana ketika kembali.

Walaupun begitu, kembali disini kita atau khususnya saya juga tidak bisa menyalahkan para penerima beasiswa yang terjebak di zona kemudahan hidup di luar negeri. Walau faktanya hidup disana tidaklah semudah itu.

Kenapa?

Karena kembali bahwa setiap orang mempunyai perspective yang berbeda, dan atas dasar itulah kita tidak bisa men-judge orang seenaknya. Banyak dari para penerima beasiwa yang mungkin percaya bahwa yang namanya berbakti kepada negeri sendiri tidaklah mesti secara fisik ada di negara itu. Berbuat baik dan berkontribusi kepada tanah dimana kita lahir bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, dan sudut pandang seperti ini tidaklah sepenuhnya salah.

Namun memang alangkah baiknya jika kita menepati janji yang telah kita tulis dan ucapkan ketika wawancara beasiswa, yaitu untuk berkontribusi bagi negeri, atau setidaknya pulang setelah tugas belajar selesai.

Lalu bagaimana pandangan saya sendiri?

Jujur, pada detik-detik menjelang kepulangan ke tanah air, ada perasaan yang cukup berat. Perasaan seperti akan kembali hidup susah di negeri sendiri, menjalani segala sesuatu dari nol, bergumul dengan jalanannya yang bergelombang dan berdebu, meratapi sarana pendidikan yang masih minim, atau rasa benci akan sistem birokrasi adalah beberapa perasaan yang hinggap pada saat itu.

Tapi kata-kata yang saya ucapkan pada saat wawancara itu seolah-olah berubah menjadi cermin yang memantulkan sikap wajah saya, bahwa betapa egoisnya saya waktu itu. Saya harus pulang dan mengamalkan apa yang saya dapat disini untuk kebaikan negeri karena kembali bahwa saya tak pernah berjalan sendiri dalam menggapai semua ini.

Saya pun pulang dan sempat merasakan how painful it is to experience the reverse culture shock. Bahkan saya berani berkata bahwa reverse culture shock jauh lebih berat daripada culture shock itu sendiri. Hampir tiga bulan lebih saya mengalami betapa saya telah berubah menjadi seorang yang suka mengeluh. Mengeluh atas keadaan yang 180 derajat berbeda dari negara tempat saya belajar.

Hingga saya pun tersadar bahwa life must go on dan saya harus berkontribusi sekecil apapun itu untuk kebaikan negeri ini. Dan kesempatan besar itu datang ketika membaca sebuah email dari Washington DC sana.

World Learning sebagai sebuah organisasi nirlaba international yang bergerak dalam bidang pendidikan, budaya dan perdamaian, sebagai organisasi yang dulu menjadi administer program beasiwa saya. Mereka mempunyai program pelatihan online selama 3 bulan bagi para alumninya dimana di akhir program, para peserta bisa mengajukan proposal projek untuk dilaksanakan di negaranya masing-masing.

Form yang telah di isi pun akhirnya terkirim dan beberapa hari kemudian, aplikasi saya diterima dan saya berhak mengikuti pelatihan tersebut bersama sekitar 52 alumni lainnya dari berbagai penjuru dunia. Terdengar mudah memang karena yang harus kita lakukan hanyalah duduk di depan komputer mengerjakan berbagai tugas dan memberi response kepada pekerjaan peserta yang lain. Namun faktanya tidak segampang itu karena seiring sibuk dengan kegiatan yang lain, pada akhirnya berbagai tugas pun terlupakan dan seringnya terlambat untuk di submit.

Ketika hampir tiga minggu tidak sempet mengecek moodle pelatihan, saya mendapati bahwa deadline untuk mengumpulkan proposal projek telah lewat satu hari. Rasa kecewa langsung menghampiri dan entah kenapa tangan ini tergerak untuk menulis email dan meminta perpanjangan deadline.

Sebuah balasan datang dan membuat bibir ini tersenyum, walau mereka hanya memberi kesempatan untuk submit tidak kurang dari 3 jam mengingat waktu di DC sudah hampir jam 5 sore. Proposal macam apa yang bisa ditulis dalam waktu 3 jam? Meskipun berbagai ide sudah bergumul di kepala ini, namun sulit rasanya untuk dituangkan kedalam sebuah proposal resmi dengan bahasa Inggris yang baik.

Setelah ketik sana ketik sini, terbentuklan proposal 5 lembar apa adanya itu dengan template proposal projek saya dulu. Bugdeting seadanya dan tercantumlah tidak lebih dari $1000 tanpa detail barang yang diperlukan. Bahkan saya lupa mencantumkan kapan projek ini akan dilaksanakan which is kind of fatal. Projeknya sendiri adalah mengenai bimbingan setelah jam belajar sekolah, sebuah program dimana saya dulu menjadi volunteernya selama 1 semester di US sana.

Kalau memang Tuhan sudah mengijinkan, tak ada yang tak mungkin. Beberapa hari setelah lebaran, sebuah email masuk bahwa projek saya terpilih menjadi satu dari 7 projek yang akan di danai yaitu dua dari Indonesia, satu dari Filipina, dan 4 dari negara-negara di Latin Amerika.

Senengnya! Tak menyangka bahwa proposal apa adanya itu bisa goal juga.

Hari-hari pun mulai disibukkan mengenai pengurusan berbagai requirements pendukung projek dan perbaikan proposal terutama dibagian budgeting yang sangat menguras waktu. Beruntung banyak pihak yang menyambut baik projek ini. Rasa terima kasih ini sungguh tak tergambarkan mengetahui bahwa banyak sekali mahasiwa di Indonesia yang begitu semangat untuk memberikan yang terbaik bagi negeri ini. Terbentuklah tim inti projek ini yang terdiri dari beberapa universitas di Bandung yaitu kampus saya sendiri STBA Yapari, Unpad dan ITB serta Universitas Lampung dengan orang-orangnya yang luar biasa!

1395385_10200980886949293_1074262513_n

Rasanya sungguh beruntung memiliki tim sesolid ini hingga hari ini projek yang bernama lengkap After School Enrichment Program (ASEP) telah berjalan selama hampir 2 bulan, bekerja sama dengan salah satu SD negeri di Bandung, SD Negeri Cipaganti. Lebih bahagia lagi ketika melihat senyum anak-anak yang selalu semangat dan antusis menyambut projek ini.

Memang benar. Tak ada yang paling membahagiakan selain melihat orang lain tersenyum akan apa yang telah kita lakukan, sekecil apapun itu asal bermanfaat. Sungguh senang rasanya bahwa program yang selama ini saya mimpikan untuk diterapkan di Indonesia akhirnya terwujud juga.

Saya dan tim mungkin tidak bisa memberikan bantuan secara materi, selain tangan-tangan kecil ini. Semoga projek ini memberikan banyak manfaat baik bagi volunteer dan terutama the beneficiaries, para siswa SD tersebut.

Kawan! Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk ikut berkontribusi bagi negeri ini. Tak perlu berangkat dari teori yang muluk-muluk. Cukuplah meliha sekeliling dan lihat apa yang bisa dilakukan. Semangat volunteerism harus dimiliki kita para generasi muda, demi kebaikan semua because that’s what we are supposed to be, to be beneficial for the others.

“The pen is mightier than the sword” (Chinese Proverb)

735468_1423789944504709_299538820_o

*******

Advertisements

2 thoughts on “These Small Hands

  1. iya benar kalo uda enak di luar negeri mau pulang males. apalagi kalo dah kerja, walau ada pajak ini itu tapi ada balesan setimpal dari pemerintah. susah bener jadi org miskin di sini mending miskin di negara maju *nangis*. tapi ke sana nya yg suuuulit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s