Story from Arcata

Menjadi Guru di Negeri Obama

526074_3604920374651_444118072_n
Farmland

Senengnya akhirnya ada waktu buat ngelanjutin draft postingan ini yang udah di buat ketika aku masih di States. Haduh… judulnya lebay banget ya haha…. menjadi guru di negeri Obama. Sebenarnya bukan guru bener-bener guru sih tapi lebih ke asisten guru atau bahasa kerennya “Teaching Assistant.” Tapi aku tulis seperti itu karena judul kan harus attractive, iya kan? 😀

Ok.. jadi gimana nih ceritanya bisa menjadi guru di sana? Baiklah kawan, marilah kita mulai tulisan sederhana ini…. #benerin peci dan sarung 😀

Sebagai Ugrader yang belajar satu tahun, aku wajib mengikuti internship alias magang di perusahaan-perusahaan atau institusi dekat kampus. Agak bingung sih coz kampusku terletak di rural area, which doesnt have many places to apply for internship. Paling-paling jadi farmer karena kalo farming sangat banyak. Nah sedangkan internshipnya sendiri harus ada relasinya dengan jurusan aku disana.

Sempat berniat apply ke hotel-hotel lokal karena aku punya basic cukup lama bekerja di hotel, tapi ah ngapain juga. Agak kurang sreg saja.

Pintu pun terbuka ketika aku berbincang-bincang (cie… formal banget haha..) dengan salah satu temen Chinese-American ku yang sudah aku anggap sodara. Bahkan aku panggil “daddy” haha… saking dekatnya. Dia menjadi tutor bahasa Mandarin di sebuah sekolah dasar tak jauh dari kampus.

Ide untuk apply menjadi TA (Teaching Assistant) pun menghampiri pikiran ini. Kayanya seru juga jadi guru. Dulu ketika di Indonesia ada banyak tawaran jadi guru privat tapi masih belum sreg karena passion masih di dunia perhotelan.

Singkat cerita, aku email bagian tutor sekolah yang bernama lengkap Jacoby Creek Charter School di Bayside Area. Salah satu sekolah dengan label “Excellent.” Aku juga sempet email sekolah lainnya seperti Union Charter School sebagai plan B. Ternyata JCS balas email aku dan menyatakan ada lowongan untuk jadi TA di kelas 3.

301716_3546039902676_1945654975_n

Alhamdulilah senengnya coz udah sempet hopeless karena proposal internship sudah harus diserahkan secepatnya sebelum libur Winter Break ke World Learning. Yang membalas email adalah Ms. Abbie yang later aku ketahui sering ketemu di organisasi khusus multicultural yang aku ikuti. Tapi ada beberapa syarat seperti aku harus melakukan medical check-up lagi.

Wah gimana nih…. medical check-up di US pasti mahal. Cabut gigi saja bisa nyampe ribuan dolar. Untungnya Ms. Abbie setuju untuk melakukan cek darah saja untuk mengetahui apakah aku mengidap TBC or not.

Weh…. haha serem!

Hari Jumat aku langsung ke sekolah setelah liat-liat rute perjalanan di Google Map. Ternyata tak ada bis yang sampe exactly di depan sekolah. Aku harus jalan sekitar 15 menit versi cepat dan 30 menit versi lambat dari bus stop terakhir.

Ok lah. No Problem!!

Karena ternyata seru juga jalan sendiri sambil melihat pemandangan farming yang keren, hijau, banyak sapi-sapi, barn-barn dan udara yang sejuk terkadang dingin menusuk tulang. Pemandangannya seperti di buku-buku cerita dongeng. Keren sekali.

Aku di sambut Ms. Abbie dengan ramah. Di ajak keliling sekolah ceritanya sebagai orientasi sebelum dikenalkan ke ruangan kelas dimana aku akan bekerja. Sekolahnya keren. Tipe sekolah-sekolah di Amerika. Fasilitasnya lengkap dan JCS ini termasuk salah satu sekolah terbaik di area itu.

Setelah Recess time (waktu istirahat). Aku di ajak masuk ke ruangan kelas 3. Super nervous loh haha… 😀

Pintu pun dibuka dan aku disambut Ms. Nannizzi guru kelas 3. Masih muda dan sangat ramah. Anak-anak sedang mengikuti pelajaran membaca.

They are so cute haha… 😀

Aku disuruh berkenalan di depan kelas. Sangat grogi dan takut mereka tidak ngerti Englishku. Ternyata mereka sangat antusias untuk mengenal orang baru sehingga banyak yang bertanya pada sesi tanya jawab. Lucu-lucu pertanyaannya seperti, apa Indonesia itu, dimana, berapa lama terbangnya etc etc. Aku tunjukan dengan bangganya dimana negaraku terletak di depan peta. Dari situ juga aku kenal seorang anak yang bernama Mecaiah. Dia bercerita bahwa ayah dari kakeknya adalah orang Indonesia. Dan dia banyak tahu mengenai Indonesia.

Seneng sekali mendengarnya!!

Pas pulang… dia mendekatiku dan meminta nomor HP ku. Katanya mau diberikan sama neneknya.

Luar biasa!!

Beberapa hari kemudian aku di telepon oleh Ms. Ellen dan di ajak Dinner. Dinner merupakan sebuah undangan tanda persahabatan dari keluarga di Amerika. Dari situ aku muali deket sama Ms. Ellen dan sudah seperti keluarga sendiri. Dia banyak cerita mengenai ayahnya yang seorang Indonesia. Banyak banget benda-benda berbau Indonesia dirumahnya. Bahkan aku di ajak ke ruang kelaurga dan melihat album-album perjalannya ke Indonesia.

This planet is totally small after all.

Hari-hari aku pun terisi dengan mengikuti proses belajar mengajar di JCS, khusunya di kelas tiga. Terkadang aku juga mengunjungi kelas lainnya untuk memperluas pengalaman dan bermain dengan anak-anak sewaktu recess time. Banyak banget ilmu yang aku dapet mengenai sistem pendidikan dasar di US. Selain faktor fasilitas yang emang keren, peran guru juga menjadi sektor yang sangat penting. Aku ingat bahwa kesulitasn terbesarku ketika di pelajaran matematika di mana aku harus membantu para siswa one-on-one. Bukan ga ngerti sih cuma sulit sekali ternyata menjelaskan pelajaran matematika dengan bahasa Inggris yang masih amatiran. Beberapa dari siswa ga ngerti haha… pada akhirnya aku langsung saja kasih isi jawabannya.

Pusing banget ketika ada soal tentang pecahan uang Amerika yang jumlahnya cukup banyak. Aku sendiri masih bingung perbedaan antara nikel, dime, dan penny haha…Overall, bahasa tidak menjadi kendala utama selain di pelajaran matematika dan pronunciation.

Di pelajaran pronunciation/ vocabulary, aku harus mengucapkan English words yang kedengarannya hampir serupa cara mengucapkannya dengan aksen Indonesiaku ha..ha.. Kasian sepertinya mereka kebingungan membedakan mana word A dan mana word B.

Pusing-pusing deh tuh murid-murid 😀

Ok… inti dari postingan ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai sistem pendidikan dasar di US yang bisaa diterapkan di Indonesia. Dunia pendidikan kita masih jauh tertinggal. Apalagi sekarang lagi hot-hotnya isu perubahan kurikulum. Haduh… pak Menteri ini malah memaksakan perubahan itu 😦

(credit to sdn06mulyoharjo.wordpress.com)
(credit to sdn06mulyoharjo.wordpress.com)

Secara singkat, beginilah sistem pendidikan dasar di US, khususnya di JCS school. Tentunya pasti berbeda dengan sekolah di states yang lain, tapi bukan itulah intinya.

1. Pendidikan dasar di US adalah compulsory alias wajib dan umunya gratis, dibiayai oleh local, state atau federal government  Sekolah di bagi menjadi 3 atau 4 seperti Preschool, Kindergarten, Elementary, Middle, dan Senior High (K1- K12). Proporsinya biasanya tingkat elementary selama 5 tahun, middle 3 dan senior atau high school 4 tahun. Semuanya berjumlah 12 atau K-12. Proporsi grade ini tentunya bervariasi dari states ke states. Biasanya satu sekolah bisa menyediakan semua tingkatan itu. Ada juga yang tidak seperti hal nya di kita.

2. JCS ini sekolah Charter. Apa itu? Charter School dibangun atas dasar initiatif guru atau orang-orang di community tertentu. Idenya adalah untuk menciptakan sistem sekolah yang berbeda dari public school pada umumnya. Sistem admission nya juga melalui lottery dan di kuota. Dulu ide charter school ini banyak di sepelekan, namun sekarang semakin banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya di charter school, dan JCS ini termasuk salah satu charter school terbaik.

3. Sekolahnya di mulai dari hari senin sampe jumat, dari jam 8.30 sampe jam 2.30. Sehabis itu anak-anak boleh pulang atau ikut After-School Program (after-school enrichment classes). Wah apa itu? After-school program semacam program ekstrakurikuler yang umumnya diisi oleh tutoring pelajaran seperti tutoring homework, bahasa asing seperti Chinese, French, Spanish, art, music etc etc dan semuanya free. Kerennya nih, yang mengadakan tutoring ini adalah para mahasiswa yang bekerja sebagai volunteer. Jadi mahasiswa tidak hanya sekedar kuliah, tapi mereka bisa mengabdikan diri mereka dengan membantu anak-anak sekolah dasar dengan ilmu yang mereka dapat di kampus.

Keren kan? Pengen banget hal seperti ini juga diterapkan di Indonesia dimana setiap kampus mengirimkan mahasiswanya secara berkala ke sekolah-sekolah dasar disekitar kampus dan membantu mereka.

4. Mata pelajarannya sebenarnya hampir sama dengan di Indonesia. Ada mata pelajaran Math, English, Science, Sport/ Gym, Art and Music, Scholastic,  Social Studies dan beberapa mata pelajaran lainnya seperti Reading, Power Walk, belajar di Library dan Lari 1 Mile. Makanya nih aku sedih banget di kurikulum 2013 yang keukeuh mau diterapkan sama pak menteri, pelajaran science dan social studies dihilangkan (walaupun alasannya di-integrasikan). Akan semakin tertinggal saja.

5. Budaya reading sudah diterapkan semenjak dini dimana ketika belajar di kelas, satu persatu mereka dipanggil ke ruangan lain untuk belajar membaca. Hasilnya ditulis si atas buku laporan mengenai perkembangan membacanya. Setiap siswa mendapatkan gilirannya masing-masing. Keren!!

(credit to collegeparkinfantschool.co.uk)
(credit to collegeparkinfantschool.co.uk)

6. Mereka juga sudah mulai diperkenalkan mengenai how to conduct a research. Dari situ mereka mempelajari step demi step melakukan research, mengenal apa itu hipotesis dan asumsi, dan lain sebagainya.

7. Setiap hari, ada waktu sekitar 30 menit untuk belajar bagaimana cara menghadapi bullying, how to respect others, etc etc (pelajaran moral). Tak ada pelajaran agama karena US memang negara sekuler. In this case, we still need religion subject anyway.

8. Waktu istirahat berbeda-beda, tidak berbarengan. Umunya kelas 1-3 istirahat (recess) lebih awal, sekitar jam 9.15-9.30 lalu masuk lagi. Lunch time baru berbarengan. Mereka akan berbondong-bondong pergi ke Sport hall yang disulap jadi kafetaria dengan bekal masing-masing. Umumnya bekal mereka ya sandwich, buah-buahan, pasta, dan makanan-makanan instan lainnya.

9. Belajar di perpustakaan merupakan kegiatan wajib dimana mereka akan belajar menganalisa buku-buku atau sekedar membaca ditemani mentor-mentor berpengalaman.

10. Pengaturan meja belajar juga unik. Umunya di Indonesia meja itu di atur menghadapi papan tulis. Dengan kata lain, papan tulis dan meja guru itu sebagai center ruang kelas. Tapi disini berbeda, meja diatur menajdi tiga baris dimana kursi-kursi diatur mengelilingi meja tersebut (seperti ruang rapat). Artinya para siswa saling berhadapan satu sama lain dalam jajaran meja tersebut. Mejanya sendiri di beri nama so para siswa tidak bisa duduk seenaknya di kuris orang lain. Sekitar sebulan sekali, meja-meja tersebut di rolling. Para siswa akan berhadapan dengan murid yang berbeda. Keren kan 😀

typical classroom
typical classroom

11. Meja guru ada di belakang papan tulis dan merupakan meja yang panjang dan besar. Anak-anak yang butuh bantuan khusus selama pelajaran bisa duduk disitu untuk dibantu oleh para TA. Oh ya. dalam satu ruangan kelas ada beberapa TA yang mobile diruangan untuk membantu para siswa. Tidak mesti mahasiswa seperti aku, banyak juga ibu-ibu. Ada yang datang pas pelajaran tertentu saja dan stay pada jam itu ada pula yang full seperti aku.

12. Mereka mempunyai divider (semacam kertas karton besar yang dilipat tiga untuk ditaruh didepan setiap siswa ketika ujian agar mereka tidak menyontek satu sama lain). Mereka juga mempunyai dua buah kartu berwarna merah dan hijau. Kalau warna merah di taruh di atas divider, itu artinya siswa tersebut perlu bantuan, kalau warna hijau, artinya mereka fine.

Divider (credit to reallygoodstuff.com)
Divider (credit to reallygoodstuff.com)

13. Pekerjaan mereka di cek oleh guru dan para TA, kalau sudah benar di ceklist pakai marker warna hijau, kalau belum selesai atau masih salah pake marker warna merah. Kalau sudah beres  dan benar semua, mereka dikasih tanda bintang berwarna besar diselingi tulisan “Good job, Well done, excellent, etc etc.” Anak-anak secara tidak langsung merasa dihargai dan mereka sangat senang ketika mereka mendapatkan tanda bintang. Suatu sistem yang patut di contoh oleh kita. Kalau mereka sudah beres dengan pekerjaanya dan waktu masih banyak, mereka bisa mengerjakan pekerjaan yang lain atau sekedar membaca, bisa juga membantu murid yang lain. Semua pekerjaan mereka disimpan di dalam file pribadi yang akan di cek oleh guru atau para TA.

14. Ada suatu waktu juga mereka belajar di luar terutama ketika cuaca cerah. Mereka juga diajarkan untuk menjadi tutor kepada murid-murid kindergarten  Mereka akan mengunjungi kelas kindergarten lalu membawanya keluar. Di sana mereka membacakan cerita atau mengajak bermain. Muantap! Dari situ merek sudah belajar untuk care kepada yang lain.

15. Dikelas pun budaya beropini sudah diterapkan. Di Indonesia umumnya sistem mengajar adalah ceramah dimana hampir 90% guru yang menerangkan. Namun disini hanya 20% saja guru menerangkan, lalu mereka memberikan hints. Para siswa di ajak untuk berpikir kritis (critical thinking), berani speak up mengeluarkan opini-opini mereka, dsb. Kerja kelompok di dalam kelas hampir setiap hari. Dari situ para siswa belajar bagaimana menghargai kerja orang lain, berteman dan menghormati satu sama lain. Kerja kelompok sangat lah penting.

16. Ketika pelajaran art, mereka bekerja diiringi musik klasik. Para siswa bekerja dengan tenang. Hasilnya lalu di tempel di kelas. Makanya tak heran kalau ruangan kelas di US sangat ramai dan berwarna oleh hasil karya para siswanya. Seperti di rumah sendiri.

Masih banyak hal-hal creative dan innovative lainnya yang aku pelajari selama bekerja dalam satu semester, dari akhir Winter sampe Spring. Mungkin untuk teknologi, kita belum bisa mengejar banyak, tapi banyak hal-hal lainnya yang bisa kita terapkan di negeri kita. Disini guru-guru bekerja dengan penuh inspirasi dan motivasi. Pujian itu menjadi salah satu point utama filosofi mengajar. Para siswa pun menjadi sangat senang dan merasa diapresasi hasil kerjaanya.

Jika kita berkaca dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, miris rasanya. Masih banya guru yang malas hanya sekedar datang kesekolah, yang mengajar demi uang, pelit pujian, tak punya motivasi, tidak menginspirasi para siswanya, dan tidak menghargai hasil kerja siswanya. Pengalamanku dulu sekolah di SD pelosok sudah lebih dari cukup bagaimana rendahnya kualitas guru-guru di Indonesia. Pada akhirnya para siswa sangat malas untuk datang ke sekolah. Angka putus sekolah pun termasuk masih tinggi di negara ini.

Hal ini kemudian diperparah oleh kurikulum yang berubah-rubah. Bagi aku perubahan itu memang penting, tapi dalam pendidikan, tidak hanya kurikulum yang menjadi faktor utama tapi peran para guru lah yang menjadi ujung tombak pendidikan.

Sebagus apapun kurikulum kalau skills dan dedikasi kerja para guru masih rendah, sama saja bohong. Guru yang berkualitas akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas juga. Pada akhirnya di kita pendidikan itu menjadi komoditas ekonomi. Segregasi dimana-mana. Pendidikan yang bagus hanya milik orang-orang yang berduit. Guru-guru lebih memilih mengajar di sekolah-sekolah elit berlabel internasional.

I passed this road every afternoon
I passed this road every afternoon

Postingan ini juga merupakan sebagai rasa kangen aku sama murid-muridku disana. Murid-murid yang luar biasa. Dari mereka aku mulai mencintai mengajar, sebuah profesi yang mulia. Masih ingat ketika hari terakhirku disana, dengan penuh semangat aku bermain-main dengan mereka dan berfoto bersama. ketika recess time, tak pernah seceria hari itu, mereka terasa seperti suah sangat dekat, seperti sudah kenal dari semenjak lahir. Masih terasa bagaimana mereka dengan semangatnya menaiki punggungku untuk digendong bergantian, cerianya hari itu bermain wall-ball dan prisbi.

Ketika dikelas, setelah foto bersama, sambil berkaca-kaca aku say good-bye. Berat banget rasanya apalagi ketika mereka secara serentak bilang “Nooo…!!” dan bertanya kapan kembali. Beberapa dari mereka memelukku dengan eratnya. Akhirnya aku berpamitan sama Ms. Nannizzi. Dia memelukku dengan erat dan memberikan laporan yang baik tentangku untuk World Learning. Tapi sayang sekali aku tidak sempat bertemu Ms. Abbie saat itu karena sudah pulang.

531221_3604962815712_2026996720_n
Spring Flowers

Oh… I miss them so so so much!! Mereka sekarang pasti sudah kelas 4 dan belajar diruangan yang lain dengan guru yang lain pula. Aku kangen juga bagaimana setiap pagi pergi bareng dengan temenku yang aku panggil “Daddy.” Kangen setiap jam delapan menunggu dia di depan apartemennya, pergi bareng dengan mobil kecilnya. Kangen juga ketika pulang harus berjalan kaki sampai ke bus stop terdekat.

One of my good memories in US.

Kini aku sudah mempunyai murid yang lain disini. Mengajar di salah satu English school terkemuka. And I love them too. Ingin rasanya suatu saat nanti mengajar di daerah pelosok, menjadi guru yang penuh inspiarsi dan motivasi, bekerja dengan penuh dedikasi. InsyaAllah…. x

*****

Advertisements

22 thoughts on “Menjadi Guru di Negeri Obama

  1. Terima kasih sudah bikin postingan ini 🙂 bermanfaat sekali, kak. Semoga cita-cita “menjadi guru yang penuh inspirasi dan motivasi, bekerja dengan penuh dedikasi” benar-benar terwujud.

  2. waw…..amazing………………,,,,,i wanna be like you……dmana liat info lowongan kerja guru SD d AS kak?? n pa ja prasyaratnya kak?

  3. bisa tidak minta kualifikasi guru di amerika, saya ada tugas kuliah membandingkan kualifikasi dan sarana prasarana pendidikan di amerika dan Indonesia.

    1. Dear Iche,

      Mohon maaf baru balas komennya ya soalnya kemarin2 jarang buka blog. Untuk kualifikasi guru saya kurang tau sebenarnya. tapi sedikit yang saya tahu adalah untuk menjadi guru mereka mesti bergelar sarjana pendidikan atau sarjana di bidang yang mereka ingin ajarkan. terus mereka juga mesti disertifikasi dan setiap state mempunyai peraturan yang berbeda :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s