Story from Arcata

Viva La Vida

“I used to rule the world
Seas would rise when I gave the word
Now in the morning I sleep alone
Sweep the streets I used to own..”

(Viva la Vida-Coldplay)

(image belongs to fabiellemenezes.tumblr.com)
(image belongs to fabiellemenezes.tumblr.com)

Hujan rintik turut mengiringiku pulang ke Bandung setelah mengambil tiket keberangkatanku ke USA dari kantor AMINEF siang tadi. Malam telah menjelang namun lampu-lampu jalanan ibu kota masih mampu memberi nyawa akan gemerlapnya kehidupan kota besar. Hatiku tak karuan. Duduk pun terasa tidak nyaman. Ingin rasanya segera esok hari dimana akhirnya untuk pertama kalinya aku akan menaiki si burung besi setelah selama seminggu Visa ku pending tanpa kepastian.

Alhamdulillah…. All praises to Allah!

InsyAllah, Allah telah meridhoi jalanku ketika pada akhirnya tiket perjalanan sudah di tangan. Takkan ada penghalang lagi.

Berkali kali aku tengok folder hitam yang bertuliskan Fulbright, nama programku dan namaku sendiri tercetak di depannya. Aku lihat juga dengan seksama tiket yang masih berbentuk kertas tipis itu.

Jakarta, Tokyo, San Francisco.

Ah… rasanya sungguh tak karuan. Sungguh rencana Tuhan yang luar biasa dalam hidupku.

God always works beautifully!

Memecah keheningan, aku coba telepon teh Rina, satu dari sekian banyak orang yang sangat berpengaruh besar dalam hidupku. Berbicara kesana kemari, mendengarkan cerita perjalanan dia ke USA dulu.

Lucu, udik, silly, ridiculous!

Teringat beberapa jam sebelum keberangkatanku ke bandara, dia menyempatkan diri datang ke rumahku, memberi nasihat terakhir dan sebuah buku. Buku yang lantas menjadi salah satu buku favoritku yang menemaniku sepanjang perjalanan dan hari-hari pertama di USA.

Buku yang berujudul “The Alchemist karya Paolo Coleho.”

Begitulah cerita kami. Kami memang punya banyak kesamaan. Dia seorang wanita pejuang dalam mewujudkan mimpinya. Aku serap setiap kata dan nasihat dari dirinya. Sekali lagi terima kasih Tuhan kau telah mengirim dia dalam hidupku ini.

God sends people to our lives for certain reasons.

Hujan masih belum berhenti ketika aku sampai di kotaku, kota Bandung. Aku berlari di tengah rintikan airnya, menembus kegelapan, merajai gang-gang gelap dan sempit, menuju cahaya di depan sana.

Ah…… itu semua terjadi setahun yang lalu. Hujan rintik masih mengiringiku ketika aku packing barang-barangku.

Aku melihat ke setiap sudut kamarku yang cukup mewah ini. Setahun lebih aku tidur di atas kasur empuknya, setahun lebih aku menggigil akan udara super dinginya yang selalu berhasil menembus setiap celah jendela. Setahun lebih aku duduk di atas kursi meja belajarnya. Dan setahun lebih aku mengukir segala kenangan indah di kamar ini, apartemen ini, dengan segala fasilitas dan kemudahannya bersama teman-teman baruku yang luar biasa.

Namun… kini aku harus segera meninggalkan segala kenangan bittersweet itu, segala kemudahan dan fasilitas ini.

Tak mudah!

Aku harus kembali meniti segala sesuatu dari awal ketika sampai di negaraku nanti. Bekerja dengan keras untuk mendapatkan uang saku. Tak ada lagi uang bulanan cuma-cuma. Aku harus kembali menapaki beratnya kehidupan di tanah asal, berjalan di atas jalan-jalanya yang berdebu, menghirup udaranya yang penuh polusi mematikan yang bersemayan di paru-paru. Mendaki terjalnya kehidupan sebagai seorang mahasiswa yang dengan uang hasil kerjanya dia bisa duduk di bangku kuliah.

Mellow!!

Dan sialnya lagi hujan dan udara dingin di luar sana membuat kedua mataku merasakan rasa dingin dan sedikit basah.

Hahaha… men don’t cry!

Aku tatapi semua barang-barangku yang masih tak tentu arah. Dulu barangku cuma sekoper, dan sekarang telah menjelma menjadi beberapa kali lipat. Tak mungkin aku bisa membawa semuanya. Setahun telah berhasil mengubah sepasang sepatuku menjadi 7, dua pasang celana jeansku menjadi 5, satu buah sweaterku menjadi 8, satu buah baju dingin tebal murah menjadi 4, dan hal-hal kecil lainnya.

Seperti ibu tiri yang jahat, aku singkirkan barang-barang yang aku anggap tidak benar-benar perlu untuk di bawa pulang dan memasukan barang yang masih sangat aku sayang ke dalam dua buah koper. Sebagian besar hasil belanja online bulananku di Amazon dan Ebay menjadi tumpukkan yang harus aku campakkan.

Sebuah bait-bait lagu Maher Zain, Thank you Allah, tiba-tiba mucul dari dari playlist di laptopku yang aku set shuffle  Lagu yang menjadi soundtrack kisah perjuanganku dalam menggapai mimpi ini.

Be grateful Nanak for what you get!!

Ya Tuhan, hampir saja aku menangisi ini semua. Merasa tidak ridho untuk pulang kembali ke tempat dimana aku sudah seharusnya mengaplikasikan apa yang aku dapat disini.

Allah telah memperingatkaknku untuk selalu bersyukur.

Dulu perjuanganku sangat keras dan akhirnya aku bisa menikmati hasil perjuangan itu. Jika sekarang aku harus kembali berjuang lagi, aku yakin suatu saat aku juga akan menikmati hasil dari perjuangan itu.

Bukankah hidup itu seperti roda yang berputar. Dulu aku sempat merasakan pahitnya berada di bawah, namun aku bisa merasakan manisnya berada di atas sekarang ini. Jika esok aku harus menjalani hidup di bawah lagi, kenapa aku harus mengeluh? Bukankah cepat atau lambat aku akan kembali ke atas lagi?

Tuhan selalu punya rencana besar untuk setiap makhluknya yang mau berusaha dan berdoa, dan percayalah akan hal itu.

Seperti lirik lagi Coldplay-Viva la Vida yang mengalun menggantikan lagu Maher Zain tadi, secara tidak langsung aku harus yakin akan hidupku selanjutnya.

I must live my life!

Mungkin setahun kemarin aku merasa…menguasai dunia, bisa mengangkat ombak lautan, namun esok pagi aku harus hidup dan berjuang sendiri, menyapu jalanan kehidupan yang dulu aku kuasai.

Mungkin setahun kemarin aku menjadi pemain utama, memutar dadu kehidupan, mempunyai percaya diri yang tinggi dan mendapat berbagai elukkan dan pujian atas keberhasilanku. Namun semenit kemudian tembok kehidupan bisa menjadi penghalang, dengan pilar-pilar pasirnya yang rapuh.

But I believe…

I will rule the world, seas would rise when I give the word…

I will role the dice, feel the fear in my enemy’s eyes..

Live the life, Viva la vida… 

*****

Arcata, May 15 2012

Advertisements

5 thoughts on “Viva La Vida

  1. Hi Kak Nanak. Believe it or not, blog ini selalu menjadi inspirasi terbesarku. Ingin juga rasanya suatu saat nanti, mengikuti jejak seperti kakak. Aku belajar banyak dari tulisan yang kakak buat. Cuma ingin bilang kak, just keep writing. Actually, aku pengin tanya banyak ke kakak, if you don’t mind. Aku sekarang duduk di kelas 3 SMA. Jujur, masih bingung nanti mau kuliah di mana, jurusan apa. I mean, kampus atau universitas yang misalnya nanti akan diduduki, mempengaruhi hal beasiswa dan lain-lainnya nggak, kak? Oh iya, kak. STBA itu jurusannya berarti semuanya tentang bahasa asing, ya? Kak, dulu pas SMA ambil jurusan apa? Lalu, kenapa pada akhirnya memutuskan kuliah di STBA? Maaf, kak banyak nanya, sampai panjang gini, udah mirip kayak essay 😦 Lagi cari referensi dan pengalaman, kak. Makasih sebelumnya, kak :))

    1. Hola Reta,

      Bunch of thanks then if you like my blog. I hope it could give you more inspiration.
      satu hal yang menjadi kunci sukses kamu kuliah adalah kamu mengambil jurusan yang sesuai passion kamu, kesukaan kamu karena dunia kuliah itu adalah dunia exploring mencari jati diri dan memperkaya pengalaman serta teman. Make sure kamu sudah mengetahui passion kamu di bidang apa dan rencana karir mau jadi apa. walaupun kuliah cuma membuka jalan, jurusan tidak mesti mengantarkan kamu ke bidang kerja yang sama. kadang kita kuliah di jurusan ini tapi kerja di bidang lain. Ada pula kita baru menemukan passion kita pas udah kuliah atau bahkan di akhir kuliah. semuanya gpp yg penting kamu enjoy dan ga merasa salah ambil jurusan.

      untuk tempat kuliah, mungkin hanya membantu gengsi saja (biasanya orang Indonesia kan gengsi-gengsi). Mereka lebih bangga sesuatu yang di puja, aku kuliah disini, kuliah di sana bla bla. Padahal yang menetukan suskes atau tidaknya kita di masa depan adalah diri kita, seberapa persistent nya kita dalam pekerjaan. Tempat kuliah mungkin hanya menyumbang sekian persen saja. Kalau dari segi kesempatan beasiswa, mungkin universitas negeri yang besar dan ternama lebih banyak memberi kesempatan, tapi bukan berarti kampus kecil tidak memberi kesempatan beasiswa sama sekali. Kalau performa kuliah kamu bagus, IPK tinggi, aktif di organisasi dan lainnya, kesempatan beasiswa selalu terbuka lebar.

      Iya STBA Bahasa asing. Dulu sekolah ambil pariwisata dan sudah kerja di salah satu hotel international di Bandung. Tapi tetep passion ingin kuliah, so lanjut kuliah. Pertamanya ingin ambil Hub. Inetrnational akrena suka politik juga, tapi waktu itu uangnya belum mencukupi. So masuk lah ke bahasa which is another passion juga dan bahasa bisa masuk ke semuanya. kalau udah kuliah mah ilmu yg lain bisa di explore. kemudian kenapa pilih stba, karena stba khusus di bidang bahasa serta ada pariwisatanya sebagai minor. It means ilmu pariwisata aku setidaknya tidak hilang. Win-win solution right? 😀

      Intinya sekarang kamu harus tau diri kamu, passion dan cita-cita nantinya. boleh juga kalau kamu sudah punya nama kampus yang ingin kamu masuki. cari setidaknya 3 passion dalam diri kamu lalu urutkan dari yang tetinggi ke yang terendah. setelah itu bisa bikin plan A, B, C, etc. jadi kalau kamu gagal di plan A, kamu punya plan yang lain karena dalam hidup kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan kan? tapi bukan berarti kita tidak ada harapan lain. Kata orang tua mah, sesakit-sakitnya kamu jatuh, pada akhirnya kamu harus berdiri juga karena kalau tidak kita akan terlindas 🙂

      Hope it helps. Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s