Story of My Life

Ketika Tuhan Memeluk Mimpiku (Catatan Akhir Tahun 2012)

Tuhan, Kau telah memeluk mimpiku ini. Menyentuh jembatan megah ini yang dulu hanya aku lihat dari buku atlas kumal di SD pelosok sana.
Tuhan, Kau telah memeluk mimpiku ini. Menyentuh jembatan megah ini yang dulu hanya aku lihat dari buku atlas kumal di SD pelosok sana.

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi itu.” (Arai)

Ah… hanya sebuah kalimat yang sederhana dan terdengar sepele. Dan aku yakin sebagian besar dari kawan-kawan pejuang mimpi pasti tahu kalimat itu. Sepenggal kalimat magic yang aku dapat dari membaca buku Tetralogi Laskar Pelangi.

Aku, yang seorang anak desa udik yang penuh akan mimpi-mimpi. Percis sama seperti kisah Ikal dan Arai yang percaya bahwa anak-anak seperti diriku akan mati tanpa mimpi. Tentu bukan mimpi hanya sekedar mimpi di tidur siang atau pun malam. Tapi mimpi niatan besar yang dikukuhkan didalam hati, diwujudkan dengan usaha yang keras dan dibarengi dengan doa yang tak pernah terputus.

Tiga hal tersebut merupakan tiga mosaik hidupku, yang aku pegang dengan kuat.

Teringat ketika aku menulis essay untuk kelas Intensive Writing and Reading Composition 100 A di Humboldt State sebagai mata kuliah wajib para freshmen. Salah satu essay ku bercerita mengenai perjuanganku untuk menggapai pendidikan yang berkualitas dengan bekal mimpi bukan berkarung-karung uang maupun berbatang-batang emas. Profesorku yang aku sayangi dan aku peluk ketika hari terakhir dikeals berkaca-kaca ketika aku membacakannya didepan dia. Sama seperti salah satu essay ku tentang 9/11 dan Muslim di Amerika.

DSCN2243

Dia dan teman-temanku berkata bahwa essay ku adalah sebuah eye opener. Bahwa dinegara semaju Amerika saja pendidikan itu mahal harganya, apalagi dinegara berkembang yang entah kapan akan maju seperti Indonesia. Setiap essay selain harus dibacakan di kelas juga harus di posting di web kelas untuk di review oleh teman sekelas dan dikasih komentar (peers response).

Siapa aku? Beraninya bermimpi sejauh itu? Bahkan bermimpi untuk bisa mencicipi kuliah di negeri orang. Duduk bersama para murid yang makanan sehari-harinya keju dan pizza. Apalagi diajari oleh para professor yang keahliannya sudah tidak bisa dipungkiri lagi

Ya… aku hanyalah seorang anak sederhana yang hidup di salah satu daerah terpecil di Indonesia, diselatan Sukabumi. Untuk ke kota kecamatan saja perlu waktu sekitar 3 jam dengan jalan bak sungai kering berbatu-batu besar. Sekolah SD ku hanyalah gedung reot dengan tiga ruang kelas untuk murid lebih dari 200 orang. Dan gurunya cuma 5 orang saja.

Bukanlah SD international dengan fasilitas super wah dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Bahasa Inggris?

Ah.. jangan bercanda!

Orang kampung udik seperti ku mana bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Apalagi di SD ku pelajaran bahasa Inggris di dapat di kelas 6 dengan super ala kadarnya. Bahkan kebanyakan teman-temanku tidak mau masuk untuk mempelajarinya.

Namun entah mengapa aku sangat tertarik dengan bahasa ini sehingga setiap kala kakekku mengunjungi orang tuaku yang hidup di kota Bandung (aku memang hidup bersama kakek dan nenekku tercinta dari lahir), aku selalu meminta dia untuk membelikan kamus atau buku pintar rumus dan bahasa Inggris yang selalu di jual di dalam bis ekonomi. Waktu itu harganya sekitar 5ooo rupiah saja.

Betapa senangnya aku ketika mendapati buku-buku itu dan tanpa sehari pun aku lewati untuk membacanya.

Tekadku memang sudah sangat kuat untuk berjuang menggapai pendidikan setinggi apapun. Memang benar bahwa pendidikan tinggi takkan menjamin kesuksesan seseorang. Tapi bagiku bukan itu pointnya. Pendidikan adalah jalan terbaik bagiku untuk mendapat kehidupan yang lebih baik, untuk mencari ilmu dan untuk meningkatkan harkat dan derajat aku sebagai manusia.

Dan tengoklah, disaat hampir 98% teman-teman SD ku memilih untuk bekerja di Jakarta sebagai seorang pembantu atau kuli, aku memilih untuk melajutkan sekolahku meskipun dengan penuh perjuangan.

Aku sudah bisa menebak bagaimana nasib mereka, bahkan nasibku jika aku memilih jalan seperti mereka. Kerja di Jakarta, pulang dan menikah lalu akhirnya bekerja di sawah dan kebun. Perputaran roda hidup yang sama.

Dan aku tidak mau seperti itu!

Hingga akhirnya sekarang aku sudah bisa kuliah hingga tahun terakhir bahkan bisa mencicipi kuliah di Amerika, sementara kawan-kawan SD ku sudah mempunyai anak 5 bahkan lebih dengan kehidupan ala kadarnya.

Alhamdulilah… all praises to Allah…

431034_3198113884743_1622890305_2612286_237900422_n

Tinggal satu hari lagi aku akan menutup kisah manis dan memori emas yang aku ukir di tahun 2012. Tahun dimana Tuhan untuk pertama kalinya memeluk mimpi besarku, bisa belajar di negeri Paman Sam.

Rasanya aku masih bermimpi saja mengingat anak desa udik yang dulu berjalan di pematang sawah dan bermain lumpur dengan kerbau, bisa melangkahkan kaki di megahnya jembatan merah Golden Gate.

Sungguh sayang jika para pemuda, generasi muda Indonesia harus tertunduk lemah dan menyerah akan kerasnya kehidupan, hidup tanpa mimpi dan cita-cita nyata untuk mengubah nasib dan jalan hidup, untuk bisa lebih berguna tak hanya bagi diri sendiri namun bagi seluruh penduduk negara ini yang suatu saat kitalah yang akan memikul nasib-nasib mereka.

Tak ada yang mustahil dalam hidup ini!

Tuhan telah banyak menyiapkan berbagai rencana indah dan jalan lebar untuk hidup kita, namun sayangnya tidak semua orang mau dan berusaha keras untuk menemukan kunci pintu jalan tersebut.

Tulisan sederhana ini aku tulis sebagai salah satu rasa syukurku kepada Allah yang telah memeluk salah satu mimpi besarku. Sebuah perjalanan besar dan panjang yang berawal dari bulan Mei 2011 dan berakhir di bulan Mei 2012.

Sebuah tahun yang penuh makna. Sebuah tahun yang sangat luar biasa dimana aku bisa menuntut ilmu, memeluk teman-teman baru yang luar biasa, memperdalam wawasan, memperluas pengalaman, memperkaya perspectives dan insights, membuat lebih bijak dalam berpikir dan membentuk self-character dan self-esteemed.

Dan 2012 pun akan segera berlalu dari hadapanku. Segalanya hanya akan menjadi memori, namun memori yang penuh makna dan luar biasa. Yang tak akan pernah pudar dari kepala ini.

Terimakasih kawan telah memberi tahun yang indah. Terimakasih Tuhan telah memeluk mimpiku. Dan… ini hanyalah sebuah awal. Mimpi takkan pernah berhenti dari darah hidupku. Mimpi akan terus berlanjut.

Suatu saat tangan kecil, kering, hitam legam dan penuh lumpur sawah ini akan menjadi tangan emas yang berguna dan bermanfaat bagi semua orang tanpa terkecuali, negara ini dan agama Islam sebagai agama yang aku peluk sejak lahir sampai ku menutup mata.

Good luck for your next endeavor, Nanak!!!

Alhamdulillah… and welcome 2013 dimana Tuhan akan memeluk mimpi-mipi besarku yang lain. Amin…

Global UGRAD 2011-2012, a name a story.

with Global UGRAD advisor
with Global UGRAD advisor
the Global UGRAD Grantees 2011-2012
the Global UGRAD Grantees 2011-2012

*******
Desember 30, 2012

Advertisements

6 thoughts on “Ketika Tuhan Memeluk Mimpiku (Catatan Akhir Tahun 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s