Something to Think About

Berdamai Dengan Kegagalan

image belongs to super-trainer.com
image belongs to super-trainer.com

“When it is dark enough, we can see the stars” -Persian Proverb-

Salah satu hal yang paling ditakutkan ketika kita gagal/ belum berhasil dalam mengejar apa yang kita cita-citakan adalah perasaan lelah, cape, dan pesimis untuk mengejar hal-hal yang diimpikan selanjutnya. Ada perasaan takut bahwa apa yang akan kita kejar akan berakhir sama seperti yang sebelum-sebelumnya, berakhir dengan kegagalan.

Akhirnya kita seperti bunga yang layu sebelum berkembang, meratapi impian besar kita yang dengan susah payah telah diperjuangkan namun ternyata berakhir dengan kegagalan. Dan berbagai pertanyaan pun menghinggapi hati rapuh kita. Kenapa? Kenapa kita tidak terpilih? Dimana letak kesalahannya? Apa kekurangan aplikasi kita dari yang lain sehingga aplikasi kita belum dilirik, dan lain sebagainya. Lebih ekstrim lagi ketika kita menyalahkan diri sendiri bahkan Tuhan dan menganggap Tuhan tidak adil.

“Success is not final, failure is not fatal: it is the courage to continue that counts” -Winston Churchill-

Boston State House
Boston State House

Tulisan ini aku buat ketika seorang temanku menulis di pesan Facebookku.

“Mas Nanak, apakah mas Nanak pernah gagal dalam menggapai mimpi-mimpi mas Nanak? Kenapa saya gagal terus?”

Begitulah kira-kira isi pesan tersebut. Aku termenung cukup lama. Bukan karena aku tidak tahu jawabannya atau malas untuk membalas pesan tersebut. Namun pikirannku jauh terbang ke hari-hari yang sudah terlewati dimana aku jatuh bangun dalam menggapai setiap mimpi-mimpiku.

Dan ketika aku berhasil menggapai salah satu mimpi besarku, orang mungkin hanya bisa melihat keberhasilan tersebut tanpa melihat betapa kerasnya setiap detik perjuangan yang aku lakukan.

But that is a normal thing!

Bukankah kita sebagai manusia lebih suka melihat megahnya sebuah panggung konser dengan berbagai tata artistiknya tanpa mungkin pernah berpikir betapa susahnya proses pembuatan panggung tersebut.

Aku… tentu pernah gagal! Sering malah. Jika aku tulis dalam sebuah buku, tentu mungkin akan menjadi buku sebanyak buku seri Harry Potter.

Ok lah disini aku gunakan kata “gagal” meskipun aku sendiri agak kurang setuju dengan kata tersebut. Kata “gagal” adalah sebuah kata yang mampu meluluh lantakkan hati seseorang ketika orang tersebut belum berhasil menggapai mimpinya. Dan kata “gagal” seperti menggambarkan suatu bangunan yang telah runtuh dan tidak mungkin bisa untuk dibangun lagi seperti sedia kala. Aku lebih suka menggunakan kata “belum berhasil” karena dengan itu kita masih bisa berhasil. Hanya soal waktu saja.

Aku pernah mengalami pahitnya kegagalan ketika aku lulus SMP dan gagal masuk ke Boarding SMA bergengsi yang memberikan beasiswa full. Aku pernah meratapi sedihnya ketika beberapa dari teman dekatku yang aku kenal semasa proses karantina beasiswa tersebut berhasil meraih beasiswa tersebut.

Akhirnya aku masuk sebuah SMK swasta yang bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya. Namun ternyata aku menemukan jalan yang brilliant dari SMK tersebut.

Inilah jalan yang telah Tuhan gariskan untukku.

Dihari-hari terakhir SMA, aku dan salah satu temen dekatku berusaha mengejar sebuah beasiswa Undergraduate full. Aku berusaha mendorong temanku untuk ikut beasiswa itu dan berusaha menumbuhkan semangat kepercayaan dirinya.

Hingga akhirnya aku harus bercucuran air mata mengetahui bahwa aplikasi temenkulah yang dilirik bukan aplikasiku. Sedih rasanya ketika melihat teman seperjuangan yang telah aku dorong sekuat tenaga berhasil mendapatkan beasiswa tersebut bukan diriku.

Berbagai pertanyaan muncul di hati ini yang aku tanyakan kepada Tuhan. Kenapa malah dia yang terpilih? Bukankah berkat aku dia mengetahui beasiswa tersebut? Lebih sedih lagi ketika dipengumuman terakhir namaku memang tidak ada di list penerima. Yang ada adalah nama temanku itu.

Butuh beberapa waktu untukku bisa bangkit kembali dan senyum. Ternyata aku bisa berbangga diri juga. Setidaknya berkat beberapa usahaku teman dekatku itu bisa menemukan jalannya. Salah satu jalan terbaik dalam hidupnya.

Akhirnya aku masuk universitas swasta karena tidak mungkin lagi mengikuti SNMPTN. Lagian aku bisa ambil apa mengingat aku hanyalah lulusan sebuah SMK Pariwisata.

Namun ternyata universitas swasta itu mampu membantuku menemukan jalanku. Jalan yang telah digariska oleh Tuhan kepadaku jauh sebelum aku lahir kedunia ini. Jalan yang benar-benar mengubah hidupku, pola pikirku, dan self-character ku.

Ada rasa menyesal kenapa aku sering menyalahkan Tuhan atas apa yang aku inginkan dan belum bisa aku dapatkan tanpa menyadari bahwa Tuhan tahu segalanya. Tuhan tahu apa yang terbaik buat hidupku.

Masih banyak kegagalan-kegagalan lain yang tak mungkin aku sebutkan satu persatu. Kecewa tentu. Sedih apalagi. Namun apakah hidup kita harus berhenti disitu saja?

Gagal dan berhasil salam hidup seperti makan dan minum. Jika diibaratkan makan itu kegagalan, maka minum adalah keberhasilan. Tidak mungkin kita makan terus tanpa berusaha mencari minum untuk melapangkan jalannya makanan tersebut. Begitu pula sebaliknya, tidak mungkin kita minum terus tanpa membutuhkan sesuap makanan untuk menyeimbangkan proporsi gizi di dalam perut kita.

Kegagalan bisa sangat terasa pahit. Apalagi jika kita telah bertaruh segalanya. Namun apakah keberhasilan juga tidak akan menimbulkan rasa pahit?

Ketika kita telah berhasil menggapai salah satu mimpi kita, ada rasa percaya diri yang tinggi bahwa segala sesuatu bisa kita dapatkan dengan mudah. Ada semacam high expectation dalam diri kita bahwa segala sesuatu bisa kita genggam dengan mudahnya. Namun nyatanya tidak juga. Karena manusia hanya bisa berencana dan Tuhan pula lah yang pada akhirnya menentukan segalanya.

Dan terkadang kegagalan jauh bisa membentuk diri kita daripada keberhasilan itu sendiri. Tidak selamanya kegagalan itu buruk. Kegagalan itu tangkai cincin permata kita yang dengan sekuat tenaga mencengkran permata “keberhasilan” kita agar tetap pada tempatnya.

Aku selalu mengibaratkan bahwa setiap kegagalan dalam hidupku seperti sebuah terowongan yang aku gali dibawah tanah yang ternyata buntu dan tidak bisa aku gali lagi. Akhirnya aku harus balik lagi dan memulai menggali dari awal terowongan yang lain. Namun pada akhirnya setiap terowongan buntu yang aku gali suatu saat akan tersambung dengan terowongan aku yang lain, yang aku gali dari arah lain. Dan pada akhirnya aku membuat jalanku sendiri dan berbagai rute yang pernah aku buat sebelumnya membantuku menemukan jalan keluar yang sesungguhnya.

Tuhan maha adil. Tuhan maha tahu. Tuhan tidak tidur. Takkan pernah sekalipun Tuhan membiarkan makhluknya gagal terus dalam hidupnya. Jika bandit sekalipun bisa mengenyam manisnya keberhasilan, maka tidak mungkin seorang hamba-Nya yang setiap saat berurai air mata dalam setiap sujudnya harus terus mengeyam pahitnya kegagalan dalam hidupnya.

Kita seringkali mendengar bahwa Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan dan buka apa yang kita inginkan. Segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Dan… hal tersebut benar sekali!

Berdamai dengan kegagalan, karena suatu saat kegagalan itu akan membantu kita berteman dengan manisnya keberhasilan yang takkan pernah kita sangka-sangka kapan kedatangannya.

Ikhtiar, doa dan bertawakal. Insya Allah we’ll find our ways….

“I can accept failure. Everyone fails at something. But I cant accept not trying” -Michael Jordan-

                                                          *********

Advertisements

8 thoughts on “Berdamai Dengan Kegagalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s