Something to Think About

Irshad Manji dan Suara Hati

Salah satu buku Irshad Manji

Sebelumnya tak banyak yang saya ketahui tentang Irshad Manji, seorang wanita Islam lesbian yang kontroversial akan pemikiran-pemikiran dalam bukunya. Dulu saya sempat mendengar nama dia ketika di TV marak berita-berita mengenai diskusi bukunya di Salihara yang diberhentikan secara paksa. Bahkan berita mengenai ini pun di bawa kedalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di salah satu TV swasta nasional.

Tapi pada saat itu saya tidak begitu tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai dirinya selain dari sumber-sumber sekilas itu di TV. Hingga akhirnya ketika semalam saya bergerilya di Youtube menonton berbagai video-video lucu, mata saya tertuju kepada sebuah video mengenai pembubaran diskusi buku Irshad Manji di Salihara yang terletak disudut kiri Youtube.

Saya pun menonton video berdurasi 18 menit itu meskipun harus extra sabar akibat koneksi yang kita semua tahu lambatnya seperti apa.

Miris!

Begitulah kesimpulan saya selama melihat video itu. Dua kelompok yang masing-masing mengatasnamakan agama yang sama clash. Kelompok pertama adalah tentunya para audience diskusi buku tersebut yang menurut kesimpulan saya kebanyakan dari mereka adalah para mahasiswa dan kaum intelek.

Terbersit pertanyaan “why” ketika melihat tingkah para mahasiswa itu terhadap seorang polisi yang bertugas memberi informasi mengenai pemubaran paksa diskusi tersebut. Berbagai cemooh dan rasa marah dilontarkan kepada polisi yang malang itu. Kenapa? Bukankah mereka seharusnya marah kepada pihak panitia karena sudah jelas polisi itu memberhentikan acara tersebut dikarenakan tidak ada ijin dan ada keberatan dari masyarakat sekitar. Polisi itu hanyalah menjalankan tugas. Bahkan si polisi itu sampai bersumpah atas nama Allah namun caci maki tetap dilontarkan kepada dirinya.

Dan lebih miris lagi ketika ada seorang audience yang berteriak membela sang pembicara Irshad Manji seolah-olah dia adalah seorang pahlawan.

Yang kedua adalah tentunya beberapa organisasi masyarakat seperti FPI dan teman-temannya yang juga tentunya membela agama Islam menurut keyakinan mereka. Berbagai lontaran cacian dan makian pun dialamatkan kepada Irshad Manji.

Inilah video tersebut …

Lalu siapa sebenarnya Irshad Manji itu?

Saya pun terdorong untuk mencari tahu latar belakang dia. Dari berbagai referensi yang saya baca, dia terlahir di Uganda dari seorang ayah India dan ibu Mesir. Mereka kemudian pindah ke Kanada. Masa kecil Irshad yang boleh dibilang suram akibat dari sikap otoriter ayahnya dan ketidakadilan yang dia alami disekolahnya akibat pemikiran-pemikiran kritis dia telah membentuk dia menjadi seorang Muslim reformis, atau dia menjuluki dirinya sebagai Muslim refusenik yang menolak dan mengkritisi berbagai ketidakjelasan dalam Islam. Dan dia pula adalah seorang lesbian yang terbuka.

Masya Allah.

Ketika semasa kecilnya di Richmond, Kanada yang multikultural, Irshad Manji telah mengalami banyak hal yang membuat dia seperti sekarang ini. Seperti bagaimana dia bangga belajar di gereja, sikapnya yang “mengagumi” Yahudi sampai kekecewaannya atas pengalamannya bersekolah di Madrasah, dimana dia dikeluarkan akibat pertanyaan-pertanyaan kritisnya mengenai Islam. Seperti kenapa wanita tidak boleh menjadi imam jika mereka mempunyai keistimewaan menjadi dewasa lebih cepat dari laki-laki. Kenapa Al-Quran harus tetap berbahasa arab jika hanya beberapa persen saja umat Islam yang berasal dari ras Arab.  Sedangkan Alquran versi Inggris banyak yang mengkritisi kesahihannya. Lalu, kenapa banyak orang Islam yang membenci Yahudi jika anak cucu nabi Ibrahim sendiri yang menjadi cikal bakal kaum Yahudi, dan masih banyak yang lainnya.

Kurang lebih seperti itulah yang saya baca dari bukunya “The Trouble with Islam Today” yang bisa di download gratis di webnya. Bahkan bukunya yang lain yang berjudul “Allah, Liberty and Love” bisa di unduh secara gratis di berbagai web, buku yang banyak orang bilang berisi doktrin-doktrin dia agar umat Islam bisa menerima kaum gay dan lesbian. Saya belum membaca bukunya yang satu itu.

Tentu saja saya harus berpikiran terbuka ketika membaca buku itu. Selain agar saya tidak percaya begitu saja, juga agar saya bisa lebih peka dan mengkritisi isi bukunya tersebut. Banyak catatan-catatan yang saya buat ketika membaca bukunya sebagai akibat ketidaksetujuan atau bertentangan dengan keyakinan dan suara hati saya.

Contohnya dia mempertanyakan kenapa Valentine day harus dilarang dalam Islam jika Islam sendiri mengajarkan kasih sayang. Namun keyakinan saya seperti yang tertulis di Alquran bahwa “barangsiapa yang berlaku seperti suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.”

Masa kecil dia yang tumbuh didalam komunitas Islam yang notabene keras dan tanpa pamrih membuat dia kecewa dan semakin kritis akan Islam itu sendiri. Dia membandingkan bagaimana pengalamannya belajar di gereja yang notabene lebih terbuka dari pengalaman dia belajar di Madrasah dimana setiap pertanyaan kritis dia seperti rumput liar yang harus diberantas. Diceritakan juga bagaimana debat dia dengan gurunya yang menyuruh dia menutup mulutnya dan diam.

Belum lagi bagaimana para pria pada masa itu lebih otoriter dan menganggap wanita seperti budak. Dia gambarkan bagaimana di masjid wanita dan pria harus sholat secara terpisah, masuk dari pintu yang berbeda, dan bagaimana wajah-wajah para pria di masjid itu yang terlihat keras seperti ayahnya yang tak segan-segan akan membunuhnya jika dia berlaku macam-macam. Atau ketika ayahnya yang sering memukuli ibunya.

Dan masih banyak dan banyak lagi hingga dia berani mempertanyakan tentang kebenaran Islam, nabi Muhammad dan lain-lain.

Lalu apakah saya setuju dengan semua yang dia ceritakan didalam bukunya? Nah disinilah poin dari judul blog ini “Irshad Manji dan Suara Hati.”

Saya tentu mempunyai latar belakang dan pengalaman Islam yang berbeda dengan dia dimana Islam masa kecil saya jauh lebih moderat dari masa kecil dia. Belum lagi masih banyak pertanyaan-pertanyaan dan keraguan-keraguan saya akan berbagai pemikiran dia tentang Islam yang menurut saya, seperti sebuah benda yang bisa disesuaikan dengan pemikiran penganutnya, setidaknya dengan paham dan keyakinan dia.

Hidup didunia jaman sekarang yang sungguh sangat complicated dan penuh kamuflase, percaya begitu saja akan sesuatu hal bukanlah sesuatu yang bijak dan benar. Jaman sekarang sesuatu yang benar bisa disulap salah begitupun sebaliknya dengan cara sempurna bahkan terlihat tak ada bedanya.

Belum lagi perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dimana kita bisa mendapatkan berbagai informasi dari seluruh dunia dengan gampanganya, maka kita bisa terkontaminasi ideologi-ideologi radikal dan menyimpang yang telah disulap dengan sempurna dengan mudahnya.

Maka dalam hal ini hati dan keyakinan adalah benteng terakhir yang kita punya. Kalau hati dan keyakinan kita rapuh, maka akan dengan sangat mudahnya kita terjerumus kedalam ideologi-ideologi palsu tersebut yang akan  mengubah keyakinan dan hidup kita. Dari yang semula tidak setuju kemudian menjadi setuju bahkan membela mati-matian hal tersebut.

Tapi hal ini bukan berarti kita menutup diri dari berbagai hal yang akan memperluas wawasan dan ilmu kita. Jangan pernah takut untuk melihat sesuatu yang baru asal kita tidak gampang percaya. Ketika buku seperti buku Irshad Manji ini kita baca lagu take it for granted, maka tentu kita akan dengan mudahnya setuju dengan berbagai pemikiran-pemikiran dia yang seolah-olah menggugat agama Islam.

Membacanya tentu boleh saja karena membaca  buku adalah hak setiap orang, but…. tetep harus bijak. Lihat siapa dia, apa latar belakangnya. Intinya kita harus melihat segala sesuatu dari berbagai sisi didunia penuh kamuflase ini. Dan jika kita sudah buntu, maka lihatlah dan dengarkanlah suara hati dan keyakinan kita. Suara hati tak pernah salah. Kalau suatu saat kita menyesal telah mengikuti suara hati, yang kita dengarkan bukanlah suara hati kita. Dan AlQuran tentunya benteng yang paling sempurna selain suara hati kita. Hanya Allah lah yang mengetahui segalanya. Berdoa kepada Dia agar tetap dibimbing berada di jalan yang benar-benar lurus bukan jalan-jalan untuk ruang yang disesatkan.

Bukunya dia yang terbaru berjudul “Allah, Liberty and Love” memang sangat kontrovesial, tapi bukan berarti kita harus menghindari untuk membacanya. Bahkan saya pun akan segera membacanya karena saya yakin, saya mempunyai benteng-benteng kuat tersebut di dalam diri saya.

May Allah is always by our side in this complicated and full-of-camouflage world.

_______________________________________________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s