Something to Think About

Senioritas Level Dewa

so what is the point of being like this?

Hohoho maksud tuh judul apa ya? Apanya yang selevel dewa itu?

Hanya ingin beropini saja. Bebas dong!! Indonesia kan negara bebas. Jadi begini, bulan September di Indonesia itu kan identik dengan masa penerimaan mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi. Yo negeri yo swasta semuanya berlomba-lomba memoles dirinya agar para fresh graduate high schools berbondong-bondong daftar di tempatnya.

Dalam hal ini tentu saja kampus-kampus negeri juaranya. Mereka itu bergengsi, keren, cool. Begitu sih katanya, cuma ga tau deh karena saya sendiri kuliah di kampus swasta. Stereotype orang Indonesia kan pengennya hal-hal yang serba bergengsi.

Aku kuliah di negeri loh!! Aku sekolah di SMA atau SMP negeri loh!! Padahal belum tentu mereka masuk kesana karena pure ujian atau…. you know what I mean.

Bukan saya tidak mampu masuk negeri, tapi masuk sekolah swasta itu atas pilihan saya sendiri. Lagian masuk negeri sekarang yang pure lewat SNMPTN berapa persen sih dibanding dengan yang masuk lewat jalur-jalur “khusus” itu. So bagi saya sama ajalah mau kuliah di negeri atau swasta, kuncinya kan ada di diri kita sendiri.

Baiklah! Singkatnya. Setelah para lulusan SMA dan sederajat itu daftar, ujian masuk lalu lulus, maka diadakanlah yang namanya orientasi mahasiswa baru alias ospek.

Nah disini nih lucunya.

Ospek di Indonesia itu sangatlah unik dan kalau boleh dibilang, sangat aneh. Dari siswa SD sampe lulusan SMA tadi, mereka akan dijadikan layaknya sebuah “boneka” yang boleh dipermainkan oleh para “senior” itu.

Dari mulai dimarah-marahin ketika daftar ospek itu sendiri. Di suruh pakai pakaian seperti badut. Pakai tas-tas aneh dan tetek bengeknya, topi-topi aneh, para gadis dengan rambut-rambut berkuncir seribu pita, sampai makanan yang serba aneh.

Repot?? Huh… tentu saja karena saya pernah mengalami hal-hal seperti itu tadi dari semenjak masuk SMP sampai kuliah.

Bosen?? Tentu saja. Karena apa sih manfaatnya?

Nol besar!! Tidak ada manfaatnya sama sekali. Lalu apa yang dihasilkan?

Nothing!! Hanya lucu-lucuan saja seperti layaknya badut. Kerennya lagi nih (huhuhu males sebenarnya harus bilang keren), kita tuh harus super hormat sama so-called senior itu. Kalau ngga? Ya lu habis!

Begitulah prinsipnya. Gua kan senior disini. Duluan masuk kampus sini daripada lu-lu pade. Nah lu wajib hormat sama gua!!

Hueeekkkkk!!! Who the heck are you??

Oh come on!! Sudah bukan jamannya lagi berlaku seperti itu. Itu hanya peninggalan para kolonialis dulu yang sudah semestinya ditinggalkan. Budaya level-levelan sudah ga jaman!

Dan tragisnya, ospek dengan gaya seperti ini sepertinya hanya berlaku di Indoesia saja. Oh poor students here, seriously!!

Ok!! Karena sempat kuliah di luar negeri, tepatnya di Amerika. Ga da salahnya dong saya sedikit memberi gambaran gimana ospek disana.

Oh guys!! lebih parah!!

Hell no!! Ospek disana adalah ospek dengan sistem kekeluargaan.

Kampus-kampus di US sudah maju seribu langkah dari kampus2 di Indonesia pada umumnya dalam hal ospek mengospek ini. Tak ada yang namanya SENIORITAS! Semuanya sama.

Lalu apakah para freshmen disana harus memakai pakaian seperti badut dan aksesorisnya ketika masa orientasi disana?

No!! Definitely no!

Sebenarnya tidak ada hari yang sangat khusus untuk orientasi dikarenakan mahasiswa baru yang masuk sangat banyak. Bisa lebih dari 10.000 mahasiswa. Jadi seringnya mereka dibagi dalam beberapa gelombang. Lagian, hari pertama kuliah, mereka sudah harus masuk kelas. Setiap gelombangnya bisa berisi ratusan mahasiswa baru yang dibagi-bagi lagi dalam kelompok kecil.

orientation is USA -courtesy of brobible.com

Lalu apa saja kegiatannya?

Sederhana saja. Biasanya mereka diperkenalkan dengan lingkungan kampus yang tentunya sangat besar. Kelompok-kelompok tadi diajak keliling kampus. Terus mereka mengantri pembuatan ID card, mengurus housing, one on one with a tutor untuk membimbing mereka mengenai jurusan apa yang tepat untuk mereka, jangan sampai mereka salah ambil jurusan. Diperkenalkan dengan dengan sistem kampus dan sebagainya.

Ada satu hari dimana mereka semua berkumpul di lapangan besar, tidak semuanya sebenarnya karena dibagi-bagi lagi agar lebih effective. Mereka diperkenalkan dengan peraturan kampus dalam suasan yang ringan dan menyenangkan. Tak ada ceramah dari pihak ini dan itu yang membuat kita mengantuk.

Hoam…

Nah uniknya lagi, para orang tua mahasiswa baru itu boleh bergabung. Bahkan mereka diperlakukan sangat istimewa. Selain itu bank-bank lokal juga mengadakan semacam penyambutan kecil bagi mereka yang ingin membuak account baru, khusunya untuk mahasiswa international dengan hidangan pizza for free dan berbagai door prize.

Tersedia juga shuttle yang membawa mahasiswa ke mall-mall terdekat untuk berbelanja kebutuhan di dorm atau apartemen. Para mahasiwa baru dan lama yang tidak membawa kendaraan sendiri disambut dengan shuttle-shuttle tadi dari terminal bus untuk di antar ke kampus.

Setelah mereka memilih dan tinggal di dorm, bakal ada semacam perkenalan dengan pihak CA (Community Advocate) dorm terntentu dan penghuninya. Saling berkenalan dan tentunya free food. Ada juga permainan sebagai ice-breaking.ย Untuk mahasiswa international ada lagi hari khusus untuk event ini.

Pada hari terakhir, kita semua di ajak pelesiran atau tour ke tempat-tempat menarik disekitar kampus dan town. Sangat menyenangkan karena dalam moment-moment seperti itu kita bisa menambah banyak teman. Pada malam terakhir diadakan semacam party. Hohohoh.. countless of free food and fun for sure!!

Lalu apa peran para senioritas disana? Haruskan kita hormat? Akankah kita dihukum ketika kita menyalahi peraturan?

No need to worry!! Tak ada hal-hal konyol seperti itu. Tak ada senior disini. Yang bertugas membantu mahasiswa baru itu boleh siapa aja secara sukarela. Dengan kata lain, mereka itu lebih tepat dibilang temen atau mentor daripada senior yang harus di puja dan di hormat.

So, what are the points?

Banyak!!

Pertama, kita mengetahui lingkungan kampus, gedung-gedung dan lain-lainnya. Kedua kita disambut seperti layaknya para mutiara baru yang siap di poles, bukan layaknya para badut yang siap “disiksa” atau “dipermainkan.” Ketiga, kita mengatahui benar tujuan kita kuliah dengan dibimbing sebaik-baiknya agar kita tidak salah langkah. Ketiga menambah pertemanan, dan tentunya lots of fun.

Kalau sampai ada perpeloncoan, atau istilahnya disini “Hazing,” maka sanksinya akan sangat berat bagi yang melakukannya. Baru-baru ini saya dapat email dari News Campus yang memberitakan telah terjadi hazing di dalam UKM (kita sebut saja UKM hehe) HSU Soccer. Dan kawan-kawan tahu sanksinya apa?

Mereka tidak diperbolehkan ikut segala jenis turnamen didalam maupun luar kampus selama setahun penuh!!

Wuih!!! Mantap kan sanksinya. Itu diakarenakan hazing atau perpeloncoan sangat dilarang dan illegal disini. Mereka semua manusia yang sudah selayaknya di perlakukan sebagai manusia.

Ok saya akan bertanya pada kawan-kawan yang pernah mengikuti ospek di kampus-kampus di Indonesia. Apa sebenarnya manfaat dari ospek di Indonesia dengan kita diharuskan berpakaian dan berlaku seperti itu? Jujur ya.

Apa kita semakin disiplin? Apa kita menjadi takut pada para senior itu kalau kita melakukan kesalahan?

I dont think so!

Yang ada malah jengkel, sebel, dendam terutama sama senior yang bertugas sebagai “police” atau keamanan yang bertingkah so jaim dengan sorot mata penuh amarah. Dan tentu jengkel juga ketika setiap hari harus menyiapkan tugas-tugas yang berbeda, dan itu tidak gratis. Perlu uang untuk membeli hal-hal seperti itu. Orang tua lah yang pada akhirnya terkena imbas paling keras.

Sudahlah!!

Sudah seharusnya cara ospek di kita itu dirubah. Ospek seperti yang sekarang sudah tak ada manfaatnya lagi. Lagian mereka-mereka itu para lulusan high school yang notabene sudah dewasa dan mengetahui dengan benar mana yang baik dan yang buruk. Mereka butuh pertemananan bukan senioritas. Mereka butuh mentor yang sangat helpful bukan orang-orang yang malah akan menebar kebencian dan dendam pada akhirnya.

So… please think about it again!

_____________________________________________________________

Advertisements

10 thoughts on “Senioritas Level Dewa

  1. So righhtttt! i never agree with all this hazing stuffs in this country #sigh
    Rasanya emang cuma di indonesia ada perpeloncoan kaya gini,entah apa tujuannya. hahaha

  2. Yup…setuju banget….
    meskipun kekerasan fisik dalam ospek di berbagai kampus di Indonesia sudah ditiadakan tapi kekerasan mental masih banyak dilakukan…
    menyedihkan….
    Tugas-tugas ospek yang “kreatif” itu juga lumayan menyiksa, menyiksa fisik dan dompet. Ribetnya……

  3. oh yeah tentu saja apa sih gunanya ospek di indonesia di suruhin pake baju konyol dan aksesoris konyol trus hormat ama senior mendingan gue kuliah d amerika saja di sana lebih enak layaknya kampus itu seperti rumah dan kekeluargaan (kecuali perpeloncoan) di sana lebih asyik kbanding di indonesia

  4. jika d b2rapa tahun yg mendatang gw akan menjadi mentri pendidikan dan gw hapus yg namanya mos dan ospek di indonesia dan gw jadikan mos dan ospek di indonesia layaknya mos dan ospek di luar negeri

  5. Ospek seharusnya bisa menjadi ajang untuk memotivasi mahasiswa baru untuk memulai perkuliahan dengan semangat, bahagia, motivasi sukses dan ikatan kekeluargaan.

    Ospek seharusnya bisa membuat mahasiswa merasa diterima, disambut dengan layak, didukung, dihargai dan membuat dia merasa memasuki dunia baru yang ceria dan penuh harapan.

    Semua hal itu akan menjadi energi yang positif dan tiada habisnya untuk segala aktifitas kampus.

    Di indonesia apa yang terjadi ?

    Cara berpikirnya tradisional dan kolot.

    Mahasiswa baru tidak memerlukan semua itu, mahasiswa baru bukanlah kambing congek rendah, mahasiswa baru adalah manusia.

    Bukan lagi masanya penindasan dan kolonialisme.

    Mahasiswa baru harus dididik bermartabat, sukses, cerdas dan menjadi pemimpin sukses (bukan pemimpin geng atau organisasi pemberontak ya !)

    Bukan dididik oleh ajaran premanisme dan intimidasi.

    Adanya OSPEK hanya menunjukkan kebodohan dan kekolotan senior maupun penyelenggaranya,

    Tidak terima ? apa merasa indonesia itu negara maju dengan SDM yang berkualitas ?

    Indonesia perlu berpikir besar dan terbuka bukan berpikir cara tradisional.

    Berpikir besar dan terbukalah yang membangun dan membuat kemajuan.

  6. Agree, walaupun di kampusku nggak pake atribut aneh-aneh tapi tetep aja ada bentak-bentak sama mara-mere nggak jelas. It’s like totally not necessary gitu, toh para maba juga udah gede dan ngerti mereka harus ngapain tanpa harus dimarahin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s