Story from Arcata

Redwood Memory (Sweet Family)

Hari-hari yang terasa aneh, mendebarkan dan terkadang terasa menyedihkan kalau mengingat masa tinggalku di tanah impian ini cuma tinggal beberapa hari saja. Rasanya aku seperti menunggu untuk dihukum mati. Percis sekali rasanya seperti itu meskipun tentu saja aku tak pernah di vonis hukum mati, itu hanya khayalanku saja 😀

Ok!

Aku merasakan setiap detik yang aku lewati, setiap deru nafas yang aku hirup disini sangat berharga. Apalagi ketika melihat senyum dan tawa semua teman-temanku yang aku temukan disini.

Mereka adalah mosaik-mosaik hidupku!

Keluarga baruku yang sangat berharga. Ah rasanya tak adil!! setahun lalu aku bahkan tak pernah bermimpi bisa bertemu mereka apalagi hidup bersama mereka, orang-orang yang datang dari negara yang berbeda. Hingga… beasiswa ini merubah semuanya. Di saat persahabatan kami sudah seperti mencapai puncaknya, dengan terpaksa kami harus “dipisahkan” oleh ketentuan dari beasiswa ini pula.

Kenapa? kenapa? 😀

Namun yang terasa paling aneh adalah hari-hari dimana aku sudah tidak tinggal lagi di apartemenku, Creekview Apartment. Setiap hari aku harus bolak-balik airport untuk mengantar, memeluk, dan berlinangan air mata ketika teman-temanku satu persatu pergi dari hadapanku.

Walau ya pada akhirnya aku juga merasakan hal-hal itu, melambaikan tangan dari dalam ruangan berkaca itu pada teman-temanku yang masih tinggal disini, baik karena mereka memang orang Amerika maupun karena mereka memang belajar disini untuk full years. Rasanya sakit dan perih. Aku yang kemarin menunggu diluar, sekarang aku berada di dalam ruangan ini, di dalam boarding room. Ah…!!

Can you see the word “LOVE” they wrote on the glass?

Masih ku ingat hari itu, hari terakhir masa tinggalku di apartemen Creekview, si apartemen merah di atas bukit. Setahun lebih aku hidup disana. Kamarku sudah seperti kamar tidurku sendiri di Indonesia. Namun kami semua harus check out sebelum siang di hari terakhir sekolah, kecuali untuk mereka yang akan mengikuti graduation day.

Berhubung hampir semua dari kami harus tinggal di US untuk beberapa hari lagi, akhirnya kami menerima undangan untuk tinggal di salah satu rumah temen Amerika kami. Sebelum benar-benar check out, aku sudah berniat pada sore harinya aku akan memasak masakan Indonesia sebagai penghargaan atas persahabatanku bersama mereka.

I love cooking!!

Aku mendapatkan sekitar 200 dollar lebih hasil menjual buku yang aku pakai di Spring semester di hari terakhir sekolah sebelum semuanya tutup.  Aku tidak bisa membawanya karena baggage limitation.

Alhamdulilah…!

Detik itu juga aku bersama temenku dari Jepang pergi ke Safeway untuk belanja bahan makanan yang akan aku masak malam nanti. Setelah itu aku pergi ke bank untuk mengambil semua uang sisaku. Walau tak seberapa.

Sigh!!

Sore harinya aku mulai masak di bantu roommate ku. Tugas membersihkan apartemen masih terus berjalan, dan aku sengaja memilih untuk membersihkan dapur mengingat aku akan memakainya lagi. Memang sudah peraturan kampus ketika kami check out, ruangan apartemen harus bersih seperti kami masuk dulu.

Walau ya takkan pernah bisa sebersih itu.

Yang namanya college student, terutama yang Amerika agak kurang begitu perhatian terhadap kebersihan ruangan hingga akhirnya mereka susah sendiri. Kalau ada beberapa hal yang tidak sesuai atau rusak, maka kami akan kena denda sesuai tanggung jawab area kami masing-masing. Aku sendiri nih kemarin2 dapet email yang menyatakan aku kena denda sebesar $30 akibat stiker2 yang aku tempel di pintu kamarku lupa aku bersihkan.

Sebenarnya bukan lupa!!

Namun rasa malas sudah menghampiriku sebelum aku membersihkan semua itu. Baiklah tak apa2 karena aku mempunyai deposit sekitar $100 untuk Housing, so aman!!

This is what I cook for them 🙂

Dengan penuh semangat aku masak soto, sate ayam, kari ayam, gado-gado, kerupuk, emping dan sambal pete yang aku beli di Boston. Hidup dan belajar di luar negeri memang melatih skill memasak kita. Aku padahal ga pinter-pinter amat memasak, tapi semenjak datang kesini banyak yang memuji skill memasakku. Padahal rahasianya aku memasak pakai bumbu-bumbu instan haha… seperti pakai bumbu siap pakai indof**d.

Banyak loh yang menjual bumbu2 instan dari Asia di Asian Market. Tapi bagi mereka yang jarang sekali menyantap makanan Asia yang kaya akan bumbu dan rempah, masakanku seperti sebuah masterpiece 😀

Tiga jam lebih aku habiskan di dapur dan akhirnya semuanya telah siap, termasuk sebotol kecap bango sebagai pelezat sate ayamku. Kecap kental manis seperti ini jarang sekali di US, makanya tak heran temen Jepangku sampai meminta sisanya, katanya enak sekali haha..:D

Oh iya, kalau kita bilang kecap, maka orang2 disini pasti menghubungkannya dengan sambal saus. nah kecap sendiri disini disebut soy sauce. Beda dengan di kita tentunya.

Sekitar pukul 7 sore (matahari terbenam sekitar jam 8 pada musim semi)  hampir semua teman-temanku sudah berkumpul, bahkan banyak lagi yang akan datang. Aku semakin khawatir makanan tidak cukup hingga aku memutuskan untuk memberi mereka porsi bukan dengan ala buffet. Kuperintahkan mereka mengantri, tapi tetep saja mereka tidak sabaran. Tangan mereka sudah sibuk colek sana colek sini, ambil sana ambil sini.

Lucu memang…

Aku sebut ini sebagai The Last Suffer alias makan malam terakhir sebelum besok siang kami harus sudah benar-benar angkat kaki dari gedung ini.

Untunglah…!

Setelah aku cukup-cukupkan, semua makanan cukup dan semua teman-temanku bisa menikmatinya. Bintang idola malam itu adalah kari ayam, sate dan gado-gado. Setelah semuanya beres, aku langsung cabut ke apartemenku karena masih banyak yang harus aku bereskan.

Paginya aku bangun sekitar pukul 5 lalu mandi pagi, mandi terkahir disini. Entahlah aku selalu mengaitkan apapun dengan kata “terakhir” haha.. Semua barang sudah di packed, poster-poster di dinding sudah dilepas, bed dan furniture sudah aku kembalikan seperti sedia kala, karpet sudah aku vacuum.

Bener cling deh!!

Suasana HSU Commencement Day

Kami di beri kesempatan untuk check out sampai pukul 12. Sekitar pukul tujuh aku ketok pintu apartemen temen Jepangku dan mengajak dia ke Redwood Bowl untuk melihat HSU Graduation Day. Matahari pagi bersinar cerah, udara hutan redwood terasa sangat segar. Udara inilah yang selalu aku rindukan karena belum pernah aku merasakan udara sesegar ini dalam hidupku, bunga-bunga Spring masih bermekaran dengan indahnya termasuk cherry blossom (bunga sakura). Pokonya indah sekali sesuai dengan nama musimnya, Spring. Lapangan telah semarak, suasana graduation terasa khidmat, ramai dan massive. Tidak seperti di Indonesia, graduation unive2 di US dilaksanakan di ruangan terbuka, Dilapangan football mereka.

the beauty of Spring flowers

Puas!

Kami kembali ke Creekview. Setelah resmi check out, aku naikan semua barang2ku ke dalam mobil temanku dan langsung cabut ke rumahnya bersama yang lain. Itulah terkahir kalinya aku menuruni bukit itu.

the hill

Bukit yang selama setahun lebih aku naiki dan turuni dengan berbagai perasaan hati. Dari sedih ingat rumah, cape dengan berbagai tugas, hujan, musim angin dengan dinginnya yang menusuk tulang, bahagia karena akan liburan, sampai lari-lari ditengah malam akibat kelaparan.

I will miss that place so much!!

Sudahlah!

Sianganya kami semua pergi ke bandara karena temen kami dari Venezuela akan pulang hari itu. Tiga temanku dari India, Nepal dan Pakistan bahkan telah pulang sejak kemarin malam. Aku termasuk dari tiga orang yang akan pulang paling akhir.

Hingga akhirnya tiba temenku pergi, aku peluk dia. Tak kuasa airmata ini mengalir deras. Aku dan dia memang sudah sangat dekat sekali. Berat sekali rasanya, berat banget. Hingga akhirnya dia pun melambaikan tangannya yang terakhir dan menghilang dari pandangan kami semua. Dua orang temanku langsung pingsan. Inilah tanda betapa persahabatan kami ini memang sangat kuat.

Sweet Family
Sweet Family

Sorenya kami semua kembali ke bandara mengantar temenku dari Jepang yang akan belajar summer class di Mexico, artinya saat itu adalah saat terakhir aku bertemu dia. Menangis lagi tentu saja. Aku kenakan sweater pemberian dia. Dia termasuk temen dekatku. Akhirnya kami pun pulang kerumah temen Amerika yang menampung kami sisanya. Suasana rumah terasa aneh. Besoknya, dua orang temenku pun akan pulang.

Me finally going back home :)
Me finally going back home 🙂

Dan begitulah seterusnya sampai penghuni rumah ini hanya tinggal beberapa orang saja, pemilik rumah itu sendiri.

Pergi ke bandara, pelukan, nangis dan say goodbye sampai akhirnya hari kepulanganku tiba. Jadwal pesawatku  adalah pukul 5 sore. Siangnya aku di ajak jalan2 dan makan siang oleh temenku dari Saudi yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Dia membelikanku satu hadiah istimewa ketika berkunjung ke Bayshore Mall.

Sebenarnya aku malu menerimanya karena dia selalu menolongku. Dari antar sana sini, jemput shalat Jumat sampe membelikan Handphone dan barang2 lainnya. Obrolan terakhir kami adalah di coffee shop Arcata. Kami mengobrol kesana kemari, berbicara mengenai kemungkinan2.

Mungkin tidaknya suatu hari nanti kami bisa bertemu lagi.

Aku sembunyikan airmataku saat itu. Aku tak ingin dia melihatnya. Bagaimanapun juga aku dan dia sudah seperti kakak adik. Dia bener2 orang yang baik.

Alhamdulilah!

Banyak orang disini yang menyayangiku. Minggu kemarin aku menghadiri beberapa dinner dari keluarga Amerika yang aku kenal disini. Mereka dengan sengaja mempersiapkan dinner itu untukku. Ah.. sungguh luar biasa hidup ditengah keberagaman dimana kita tidak mempermasalahkan segala perbedaan yang ada diantara kita.

Redwood Trees

Aku peluk dia erat-erat ketika aku akan melangkahkan kakiku menuju boarding room. Kupeluk semuanya, dan mata ini pun benar-benar basah.

Ya Allah… ! sedih sekali rasanya.

Aku bener2 tak kuasa menahan ini semua. Aku duduk dengan lemasnya didalam boarding room. Aku tak kuasa melihat mereka berkumpul di balik kaca ruangan itu.

Aku tempelkan telapak tanganku hanya ingin sekedar merasakan hangatnya tangan2 mereka dari balik kaca.

Kini aku hanya dipisahkan oleh kaca ini, namun beberapa menit kemudian, lautan yang luas akan segera memisahkanku dengan mereka. Ingin rasanya aku berlari dan memeluk mereka lagi, kalau saja hal itu mungkin untuk dilakukan.

Mereka masih setia menunggu sampai akhirnya pesawatku lepas landas.

Pada saat itulah akhirnya aku menyadari bahwa aku telah kehilangan mereka, telah berpisah dengan mereka, dan entah kapan bisa bertemu lagi.

Dan aku juga telah meninggalkan kota kecil Arcata yang indah ini. Sulit untuk menyadari semua itu telah terjadi. Satu tahun telah berlalu.

Time definitely flies!!

“I just miss them, miss them so bad!! miss everything, miss the people, miss the redwood forest, miss the school, and miss all the memories that I wrote there. Lord please bring me back to the redwood curtain some day and to their hugs.”

I dedicated these two videos for all my friends in USA especially Sweet Family

********

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s