Story from Arcata

Ramadhan di California

Creekview Apartment

Alhamdulilah sudah memasuki lagi bulan Ramadhan tahun ini. Ramadhan memang selalu di nanti olehku sebagai umat Muslim. Ramadhan tahun ini tentu spesial karena aku berada di kehangatan keluargaku. Lalu bagaimana dengan puasa tahun lalu? Alhamdulilah… sangat mengesankan karena aku melaksanakannya dinegeri orang. Dinegeri paman sam. Baiklah kawan.. ijinkanlah aku menceritakan sedikit pengalaman Ramadhan ku di California.

Kolak, es campur, suara adzan, nasi putih hangat, dan segala macam jajanan khas puasa tidak ada di meja makanku kali ini. Tentu saja karena aku berada ditengah-tengah negeri asing dan sekuler. Belum lagi disini lagi musim panas. Awal-awal puasa aku harus bangun pagi-pagi sekitar pukul 3 untuk sahur dan buka sekitar setengah sepuluh malam. Luar biasa kawan!! lebih dari 16 jam! Tentu ini pengalaman pertamaku puasa melebihi jam normal di Indonesia. Belum lagi waktu itu adalah masa-masa awal kuliah di kampus setelah belajar English Intensive selama tiga bulan. Hari-hariku disibukkan dengan registrasi mata kuliah yang ingin aku pelajari di Fall Semester dan tentu lari dari satu office professor ke office proffesor lainnya. Sangat melelahkan ditengah guyuran sinar matahari Summer yang ganas.

Nah kenapa juga aku harus berburu tanda tangan para professor itu. Jadi begini kawan… aku masuk ke Humboldt State ini sebagai international student jadi aku tidak punya prioritas untuk registrasi kelas seperti mahasiwa reguler lainnya. Sebenarnya registrasi makul itu sudah bisa dimulai dari awal Summer lalu, tapi kami hanya mendapatkan kesempatan untuk melakukan ini setelah libur Summer Class, 2 hari sebelum kelas di universitas di mulai. Alhasil banyak kelas-kelas makul favorit sudah terisi penuh.

Tapi kita masih bisa masuk kekelas itu dengan cara “crush” artinya kita ikut saja masuk di hari pertama kelas dimulai sampai 2 minggu kedepan untuk melihat apakah ada student yang drop kelas itu dan kita isi tempatnya. Tapi cara ini repot sekali karena harus nunggu selama 2 minggu tanpa kepastian (masa 2 minggu itu disebut dengan “add and drop period”). Belum tentu juga ada student yang drop kelas itu. Selain itu aku juga harus segera isi laporan kelas apa aja yang aku ambil ke World Learning, administrator beasiswaku di Washington DC.

Atau bisa juga ya itu dengan cara tadi. Aku lari-lari ke setiap office para professor yang kelasnya aku pengen ambil. Tentunya email mereka dulu untuk bertanya office hour mereka. Kalau sudah dapet, bawa deh sebuah form khusus dan minta mereka untuk tanda tangan sebagai ijin bahwa kita diperbolehkan masuk ke kelasnya. Atau minta “magic number” untuk di add pada saat kita registrasi nanti. Tapi tentunya cara ini ga selalu berhasil karena ada beberapa proffesor yang strict akan jumlah murid dikelasnya. Ada yang tidak mau siswa dikelasnya melebihi jumlah yang seharusnya. Tapi untungnya aku lancar2 saja.

Aku mendapat semua “magic number” dari para professor kelas favoritku meskipun dengan perjuangan yang susah karena harus menahan haus dan lapar. Jujur saja masa2 itu membuatku stress out karena habis itu aku harus minta pihak registrar office untuk add kelas2 itu kedalam systemku. Kita international student tidak diperbolehkan untuk registrasi sendiri, tapi harus di bantu oleh pihak registrar extended education. Well… I got all my fav classes after all.

Tapi ga sampei disini. Aku juga disibukkan dengan packing semua barang2ku untuk pindah apartment. Meskipun masih satu komplek, setelah Fall semester dibuka, kita Summer Residents diwajibkan untuk pindah apartment sesuai dengan intruksi dari Housing. Sebagai international student, aku pindah ke gedung Laurel yang dikhususkan untuk international student. Namun Americans juga bisa tinggal disini bagi mereka yang ingin mendapat pengalaman tinggal di International Living. Proporsinya sekitar 60% International dan 40% Americans.

Ada banyak pilihan komplek apartment di HSU ini dari yang termurah sampe yang termahal. Apartemntku Creekview Komplek termasuk yang termahal kedua. Costnya untuk satu semester sekitar $12.000 plus makan dengan meal plan unlimited. Di apt ku yang baru, aku mendapat dilantai tiga dan mempunyai dua orang American dan satu orang India sebagai housemate, dan roommmateku masih orang yang sama dari Elsalvador.

Digedung yang lama, aku berada dilantai dua dan mempunyai satu orang Vietnam dua orang American juga. Sayang American housemateku kurang ramah. Kalau ketemu paling cuma say hai saja. Meskipun gedung dan ukuran apt nya sama, tapi aku merasa lebih nyaman di gedung baruku ini. Selain itu komplek apat semakin ramai dengan para mahasiswa baru maupun yang lama yang sudah kembali dari kotanya masing2.

Buka puasa pertama

AKu masih inget sahur pertamaku dengan nasi goreng yang aku beli di Chinese resto dan aku hangatkan paginya. Buka pertama meja makanku lumayan penuh karena aku sorenya belanja di Safe Way bersama 2 orang temanku dari Turkey.

Aku membuat Nasi goreng dan kolak pisang seadanya. Sedangkan temen turkey ku membuat Soup entahlah apa namanya. Pas waktu buka datang, aku undang semua temen2 international dan Amerikaku untuk buka bareng. Sebelum mulai kuliah, Dining Hall masih tutup, tapi untung WL memberi sejumlah uang yang di save di college market (semacam minimatket milik kampus) sehingga aku bisa belanja disana sebesar $40 setiap harinya selama 2 minggu. Tentu jumlah uang yang sangat banyak dan aku harus menghabiskannya karena kalau tidak maka akan hangus. Dan dari situ pula aku belajar kalap belanja karena sayang kalau $40 itu tidak habis karena besoknya ada $40 yang baru. Hoalah..!!

Pas Fall semester sudah dimulai, Student ID ku sudah terisi point makan unlimited yang bisa aku spend di semua Dining Hall dan minimarket sekitar kampus untuk satu semester. Tapi sayang, jadwal makan tidak sesuai dengan jadwal puasaku, alhasil aku meminta lunch box kepada mereka ketika Dinner lalu aku bawa pulang dan aku makan pas buka dan sahur. Masak tiap hari juga merepotkan karena terlalu sibuk dengan kegiatan awal masa kuliah di kampus. Berhubung kalau Summer perbedaan waktu West Amerika dan Indonesia bagian barat adalah 15 jam, maka ketika aku sahur, di Indonesia adalah sedang buka. Begitupun sebaliknya kurang lebih. Ketika aku sahur, seringnya aku sahur sendiri, temen terdekatku adalah laptopku karena aku bisa nonton acara2 TV di Indonesia melalui Mivo.TV.  Aku nonton OVJ denga suara laptop yang sekecil mungkin. Tentu saja karena semua orang di apt ku masih pada tidur.

Untuk buka puasa, seringnya aku makan diluar bareng temen2ku yang Muslim amupun yang non muslim. Ceritanya buka bareng, dan buber pertamaku adalah menyantap sebuah pizza berukuran besar di resto pizza terkenal di Arcata. Selanjutnya buka di rumah temenku dari Saudi, makan dollar menu di McDonald (semua menu satu dollar hehe biar hemat) dan ikut buka bareng yang diadakan muslim fellow ku setiap hari minggu.

Lalu bagaimana denga tarawih… hehe… jujur saja aku jarang taraweh bareng karena percaya tidak kawan.. taraweh disini bisa sampe 2 jam. omg!! yangg bikin cape ya itu sholatnya karena bacaan yang mereka baca adalah semua surat di Alquran. Jadi ketika tarawih terkahir datang, maka Alquran pun tamat. Nah bisa kebayangkan lamanya kalau dalam stau rakaat saja bacaanya surat Al-Baqarah full. Belum lagi tarawihnya jam setengah 11 malam dan jam segitu bus sudah tidak ada. Seringnya aku tarawih di apatmenku saja bareng satu temen turkey ku yang sama malesnya seperti aku haha.. sedangkan temen turki ku yang satu lagi sangat rajin.

Buber puasa pertama bareng mereka

Kegiatan harianku selama Ramadhan sangat melelahkan. Aku sudah mulai kuliah dengan sebareg tugas dan kegiatan, belu lagi pada masa itu aku amsih adaptasi dengan sistem kuliah di sini.

Cuaca Summer tidak menentu, kadang panas (walau tak sepanas di Indonesia) dan seringnya dingin sampe ke ulu hati. Belum lagi melihat mereka2 yang tidak puasa dan tentunya tidak tahu apa puasa itu. Seringnya aku terlihat sangat lemas di kelas. Professorku di lab wiritng sampe mengintrogasiku haha.. aku jelasin saja kalau aku lagi puasa. Sepertinya dia mengerti.

Godaan yang paling kuat tentunya berasal dari lingkungan sekitarku. Undangan party datang hampir tiap weekendnya. Aku juga terpaksa bolong puasa selama 5 hari karena trip Summer ku ke San Franciso. Aku tidak mungkin puasa mengingat perjalana ke sana saja sekitar 10 jam naik bis. Belum lagi Summer di San Fracisco jauh lebih panas.

Ketika mendekati lebaran tiba, inilah saat2 yang paling menyiksa. Pada saat itu aku bener2 kangen keluargaku dan segala moment2 sebelum mudik lebaran ke kampungku. Kadang aku telepon orang tuaku dan nenekku di desa. Pada malam takbiran aku hanya diam dikamar. Aku bener2 kesepian dan akhirnya aku menangis. Aku mendengar suara takbir dari video Youtube di laptopku. Sangat sedih memang berada jauh dari keluaraga ditengan negara yang bahkan tidak tahu lebaran itu apa.

Hari lebaran, aku kuliah seperti biasanya. Lebaran jatuh pada hari Kamis dimana jadwal kuliahku paling padet jatuh pada hari itu. Tak ada takbir, ketupat, suara bedug, bahkan jabatan tangan meminta maaf. Belum lagi 2 temenku dari Turkey yang selalu menemani puasaku sedang pergi ke Vacaville sama host familynya. Bener2 terasa sepi dan menyedihkan. Pelukan dan jabatan tangaku hanya aku dapatkan ketika shalat Ied pagi harinya. Sesudah itu, ya seperti hari2 biasa saja. Tak ada makan2 besar dan suara petasan.

My Turkish brother

Sore harinya terasa lebih sepi lagi. Baru besoknya temen2ku dari Saudi Arabia mengadakan makan bareng di Creekside Lounge. Berhubung aku tidak mau melewatkan itu, aku akhirnya ijin tidak masuk kuliah.

Begitulah kawan2 kisahku puasa dan lebaran disana. Bener2 suatu pengalaman yang sangat priceless dan aku sangat mensyukurinya. Ramadhan di sebuah negara sekuler, masak sahur sendiri, bangun pagi2 sekali dan mengurusi segala sesuatunya sendiri. Semoga kalian juga bisa mendapatkan pengalaman yang sama.

Terimaksih buat Afand Nashrudin, seorang temen yang aku temukan dari dunia maya pada saat Ramadhan. Dia tiba2 nongol di facebookku dan akhirnya selalu menghiasi Ramadhanku disana. Berkat dia juga aku bisa kenal Rika Santika dari Surabaya dan Tya Utami Suparman dari Jakarta. Bener2 orang2 yang luar biasa. Hingga akhirnya pertemanan kami pun sudah sampe sejauh ini bersama mate ku Lewinda Jotari, the Dream Cacthers. You guys rock!!!

******

Advertisements

3 thoughts on “Ramadhan di California

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s