Story from Arcata

Aku Bangga Menjadi Seorang Muslim

courtesy of heksaviolet.wordpress.com

Ketika sedang makan bersama di dining hall, seorang teman Amerikaku bertanya, “Kenapa kamu tidak makan daging babi?” aku jawab bahwa agamaku melarang untuk memakan daging babi. Kemudian dia bertanya lagi, “Memangnya kenapa?”

Aku terdiam sejenak.

Iya ya, kenapa Islam melarang umatnya memakan daging babi. Selama ini aku cuma tahu itu tanpa tahu alasannya sebenarnya.

“Karena kalau aku makan daging babi maka aku akan berdosa.” Jawabku sekenanya. Sepertinya dia tidak terlalu puas.

Ya aku mengerti, penjelasannku tidaklah memuaskan dia. Kenapa seseorang harus berdosa hanya karena memakan daging hewan tertentu? Dan lagian, menjelaskan sebuah hal dengan atas nama agama bagi mereka kurang memuaskan bahkan boleh dibilang doesn’t make sense.

Mereka pikir agama seharusnya tidak ikut campur urusan dunia. Apalagi cuma urusan benda apa saja yang bisa masuk ke perut seseorang.

Bagi kita mungkin mengagetkan mendengar hal ini. Tapi itulah faktanya. Bahwa kehidupan beragama, perspectives dan cara pandang orang lain di belahan dunia lain itu sungguh jauh berbeda.

religious-symbols_2

Dalam keadaan seperti ini, hidup dilingkungan internasional yang sangat beragam akan kebudayaan dan kepercayaan, aku menyesal kurang memperdalam agamaku sendiri sejak dulu. Ku akui pengetahuan agamaku belumlah ada apa-apanya. Padahal dalam hati ini aku ingin sekali bisa menunjukan agamaku yang sebenarnya dengan memberi penjelasaan yang memuaskan ketika mereka bertanya.ย Penjelasan yang tentunya masuk ke ranah logika mereka.

Aku selalu berharap hidayah itu datang pada mereka mengingat mereka terlihat seperti penasaran melihat ritual agamaku. Melihat aku bangun pagi-pagi sekali ditengah udara super dingin hanya untuk berdiri dan bersujud diatas sehelai karpet.

Teman sekamarku selalu bertanya, kenapa kamu harus melakukan ibadah sesering itu dalam sehari. Aku hanya menjawab bahwa inilah tuntunan agamaku, dan aku tidak keberatan untuk melaksanakannya. Meskipun tentu saja terkadang shalatku masih suka terlewat.

Pernah suatu malam aku menghadiri party. Aku yang masih baru disini tentu masih canggung dengan kebiasaan yang satu ini. Lagian jarang atau boleh dibilang tidak pernah aku menghadiri party seperti ini di negaraku. Dan disni party itu hal biasa. Ketika weekend datang, mereka menyambutnya dengan suka cita. Berbagai rencana pun seperi mengepul dari kepala mereka. Salah satunya adalah party-party gila seperti malam itu.

one-does-not-simply-not-come-to-the-party

Terkadang aku tidak bisa menolak mengingat aku baru beberapa minggu disni, dan rasa tidak enakan selalu mengalahkan keinginanku untuk menolak. Akhirnya aku datang juga, dan kejadian seperti ini bukanlah satu atau dua kali, tapi hampir tiap minggu.

Didalam pesta mereka selalu menari-nari gila. Oke lah untuk yang satu ini aku masih bisa toleransi, cuma kalau untuk masalah minuman beralkhohol, rasanya sulit untuk menerima. Mereka selalu memberiku minuman itu, meskipun aku sudah bilang bahwa aku tidak minum alkohol, tapi mereka sepertinya sering lupa.

Bahkan seorang teman Amerikaku berkata:

“Dude!! Your life is so unfortunate!!”

Haha.. just because I don’t drink beer and all.

download

Bagi mereka tidak minum alkohol (bir dan sebagainya) adalah seperti sebuah kutukan. Apalagi jika kita melakukannya atas nama perintah sebuah agama. Makanya sering pula aku bilang alasanku tidak minum bir dan lain sebagainya karena aku alregi alkohol. Dan lama-lama mereka mengerti juga.

Jujur pada awalnya aku merasa seperti alien. Seperti seorang asing karena aku beda sendiri. Tapi lama-lama terbiasa juga. Disini minum bir dan minuman beralkohol lainnya seperti minum teh atau kopi di Indonesia. Sudah menjadi budaya yang mendarah daging.

Namun terkadang susah juga untuk menjelaskan ketika dapat teman baru warga sana dan mengajak bermain ke klub-klub malam. Ada sesuatu yang aneh ketika aku tidak minum alkohol. Aku merasa seperti kurang menghargai ajakan/ undangan mereka karena bagaimanapun juga minum bir bersama itu adalah salah satu ciri sebuah pertemanan.

Kesulitan lain adalah melaksanakan sholat lima waktu. Aku sering sekali melewatkan shalat Dzuhur. Pada musim panas Dzuhur jatuh pada pukul 1.30 siang, nah pada jam itu aku ada kelas. Kalau aku ijin untuk sholat di apartemenku, aku pasti akan telat kembali ke kelas mengingat apartemenku berada diatas bukit di ujung kampus. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk bulak-balik apartemen kampus.

Kalau aku ijin sholat dikampus, lha dimana tempatnya, disni gereja saja tidak ada, apalagi masjid. Ternyata beginilah keadaan negara sekuler. Sebagai akibatnya aku selalu menggabungkan shalat Dzuhurku dengan Ashar. Mungkin aku harus mencari tempat tersembunyi di kampus untuk sholat, semoga saja ada.

Ada kejadian unik ketika aku mau shalat Jumat di Arcata Library. Jumatan jatuh pada pukul 1.30. Aku selalu pergi dari apartemenku pukul 12.05 mengingat aku harus berjalan kaki cukup jauh. Pada saat itu aku belum begitu mengerti dengan jadwal bus. Menurut aku sangat ribet. Namun kebetulan temanku dari Jepang mau pergi ke Safeway (sebuah Deparment Store terbesar di Arcata), dan kami pergi bersama.

“Kamu mau kemana?”

“Friday pray di deket police station”

“Emang agama kamu apa? Sepertinya sering banget berdoa. Roommate mu bilang setiap pagi, siang, sore, malam kamu selalu berdoa.”

“Agamaku Islam, pernah denger?”

“Hmm.. ya aku tahu, temen kita yang dari Saudi juga Islam, tapi dia tidak beribadah sesering kamu”

“Meskipun aku dan dia beragama Islam, tapi kalau untuk masalah beribadah itu tergantung sama orangnya. Mungkin di agama kamu juga ada ritual tertentu dan ga semua orang melaksanaknnya, kan”

Dia sepertinya mengerti. Dalam hal seperti ini aku juga sadar bahwa Islam itu juga banyak alirannya/ perbedaanya. Di tempat shalat Jumat ku ada satu-satunya wanita yang ikut sholat Jumat tanpa pakai mukena.

Atau mungkin mukena itu cuma ada di Indonesia ๐Ÿ˜€

Belum lagi aku melihat orang Islam yang Sholat Isya nya hanya dua rakaat. Kejadiannya waktu aku berkunjung ke Apartemen teamnku yang orang Saudi, berhubung waktu sholat telah datang, aku ajak dia berjamaah. Dia bersedia menjadi imam, tapi entah kenapa di rakaat kedua sudah Tahiat Akhir. Aku tidak berani bertanya karena mungkin saja dia lupa. Kalaupun tidak, mungkin saja seperti itulah kebiasaan dia. Lain waktu kalau berjamaah lagi akan aku tanyakan mengenai hal ini.

Dan masih banyak kejadian-kejadian lain yang menyangkut keyakinan, bahkan disni kebanyakan atheis. Makanya kalau ngobrol mengenai masalah keyakinan itu selalu menarik. Ada yang bertanya kenapa aku percaya akan adanya Tuhan. Aku bilang bahwa segala sesuatu itu ada pemimpinnya, bahkan benda sekecil apapun. Kita hidup didunia itu ada pencipta dan pengaturnya.

Tapi kan kita berasal dari monyet, dia balik berargumen. Dalam hati aku tertawa, ternyata banyak juga yang percaya akan teori si Darwin.

Aku bilang kalau teori penciptaan anatara agama dan science itu berbeda. Dan silakan percaya teori Darwin. Kalau aku sendiri mana mau disamakan dengan monyet. kalau toh monyet itu nenek moyang kita, lalu kenapa tidak semua monyet mengalami evolusi menjadi manusia? Kenapa masih banyak monyet yang berbentuk monyet yang sebenarnya.

Entahlah.

Aku juga tidak terlalu tahu, tapi yang jelas aku tidak percaya teori Darwin. Aku yakin masih banyak argumen2 yang mungkin lebih masuk akal utntuk menangkis teori ini yang belum aku temukan. Terkadang mereka banyak bertanya tentang surga dan neraka. Urusan agama dan kepercayaan memang selalu menarik untuk diperbincangkan.

5da5e0cb84bbcdd7cb7502bdb903860c71cc6a6f0cc92a4b702144aedb143c54

Kembali kemasalah daging babi, hari ini aku mencari jawabannya. Aku mendapat sebuah video dari youtube mengenai masalah daging babi ini. Ternyata dalam daging babi itu banyak sekali cacing2 kecil. Aku merinding melihat videonya. Aku sendiri yakin ada alasan khusus mengapa kita tidak boleh memakan daging babi.

Alhamdulilah.

Aku sangat percaya bahwa apa yang dilarang agamaku bukanlah sebuah hal tanpa dasar. Islam begitu banyak aturan karena Allah sayang akan hamba-Nya. Aku bangga beragama Islam. Ingin sekali aku perdalam agamaku ini sehingga kalau mereka bertanya, aku bisa menjelaskannya sebaik mungkin. Semoga suatu saat hidayah itu datang kepada mereka.

Bagiku inilah jihadku.

Kata jihad memang sebuah kata yang penomenal sekaligus kontroversial. Bahkan dalam Islam sendiri masih menjadi bahan perdebatan.

Baiklah!!

Bagiku itu semua kembali ke diri masing-masing. Kalau ada sebagian umat Islam yang percaya bahwa jihad itu harus perang, bunuh sana bunuh sini untuk menegakkan agama Allah, itu pilihan mereka.

Allah lah yang maha tahu.

Tapi jihadku adalah dimana aku menunjukan agamaku tanpa ada unsur pemaksaan, melainkan dengan menjalankan apa yang sudah menjadi perintah-Nya dengan sebaik-baiknya. Menghindari apa yang dilarang-Nya dengan sekuat-kuatnya.

Kalau ada yang bertanya maka aku jawab sesuai pengetahuanku. Dalam kamus hidupku, pemaksaan tak akan pernah berhasil. Semakin dipaksa maka orang akan semakin malas. Apalagi jika yang dipaksa itu masalah keyakinan dimana sebagian orang menaruh keyakinanย  sebagai level tertinggi privasi mereka.

Beginilah cara jihadku.

“Menunjukan” agamaku dengan sebaik-baiknya dan tetap menghormati kepercayaan ornag lain. Islam agama terbaik biarlah bagiku saja tanpa show off secara berlebihan kepada mereka.

Mereka bertanya aku jawab. Mereka butuh penjelasan aku jelaskan. Bukankah ini juga bentuk lain dari dakwah?

Niat tulusku hanyalah ingin menacari ilmu darimanapun asalnya. Aku mau menunjukan bahwa inilah agamaku yang sebenarnya. Semoga aku selalu diberi kekuatan dan semoga suatu saat nanti hidayah Allah akan menghampiri hidup mereka.

Insya Allah.

Allah akan meridhoi jalanku ini.

*****

HSU Library, July 6, 2011 @6.59 pm

Advertisements

10 thoughts on “Aku Bangga Menjadi Seorang Muslim

  1. Nice! You know, this’s hoooh! I don’t know how to describe. I’m addicted to ya blog! Kinda great! (:
    Btw, yup! We hafta proud for being Muslim. Allah is everything. Once again, thank you for inspiring me by this awesome blog. You still there? In CA?

  2. Assalamualaikum.. aku baru baca-baca isi blog kaka dan isinya menginspirasi banget. Aku jadi mau mantepin niatku utk nuntut ilmu di negara lain tanpa memikirkan kata orang hehe
    btw kaka ini kuliah dari beasiswa atau emang jalannya sendiri aja? Dan kalo nyari program beasiswa itu gimana caranya? Aku suka buka web gitu tapi bingung mau diapain lagi hehe
    Makasih untuk balasannya ka.
    Wassalamualaikum..

    1. Waalaikum salam Nadia,

      I’m very sorry that I just responded to this now. Makasih ya udah mengunjungi blog saya dan suka membacanya. Semoga ada manfaatnya.
      Saya dapat beasiswa. Iya mesti melek internet tapi mesti tau juga mau beasiswa buat apa. Kamu mezti tau tujuan kamu apa dulu, baru cari beasiswanya jadi nanti bisa di seleksi mau ikut yang mana. Setiap beasiswa mempunyai aturan dan tujuan yang berbeda :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s