My Doors to USA

My Doors to USA 5 -END- (Global UGRAD 2011-2012)

First time I saw the land of California

“Sebuah memoir perjalanan panjang untuk menggapai sebuah mimpi belajar di negeri orang. Tulisan ini menceritakan seorang anak desa nan udik dengan segala keterbatasan namun bisa melangkahkan kaki untuk meninggalkan jejak-jejak kecilnya di negeri Paman Sam, sebuah negeri yang dulu dia lihat di buku atlas kumal di desa nun jauh disana. Bermimpilah, gapai dengan usaha dan doa yang tak pernah terputus. I dedicated this humble piece of memoir to all people I love who helped me to be who I am now.”

1st Door | 2nd Door | 3rd Door | 4th Door

******

“Once you are on the top, look down and see how many people are holding you to be on the top. That way, you will realize that you’ll never walk alone to be who you are now.” (Nanak Van Persie)

Assalamualaikum.. Apa kabar kawan?

Kembali semangat menulisku menaiki tangga menuju puncak hohoh… meskipun sekarang sudah masuk tengah semester Spring 2012. Itu artinya aku lagi sibuk2nya  menjelang final weeks. Masa tinggalku di US kurang lebih 1 bulan lagi.

Wah ga kerasa uy!!

Perasaanku sedikit tak menentu. Antara rasa ingin pulang dan ingin tetap tinggal disini. Masa2 seperti inilah yang dulu tak pernah terpikirkan ketika aku dinyatakan terbang ke USA. Dulu yang ada hanya perasaan tak percaya dan excited. Tapi sekarang aku baru sadar kalau masa seperti sekarang inilah yang sebenarnya yang paling sulit, yang harus diantisipasi, dan harus dipikirkan sejak awal.

Sudah barang tentu setahun disini bukanlah waktu yang singkat. Sudah banyak cerita menarik yang aku tulis disini. Sudah banyak kupeluk kawan2 baruku yang sangat luar biasa. Sudah tak terhitung segala pengalaman suka dan duka yang aku alami disini. Tapi ya.. apapun itu, aku harus siap secara mental dan fisik. Terutama ketika pulang nanti, tentu aku akan mengalami apa yang disebut dengan “reverse culture shock.” Perasaan dimana segala sesuatu akan terasa berbeda dan asing. Keadaan pastinya akan berbeda dengan setahun yang lalu ketika aku masih disana.

And reverse culture shock is so painful!!

Baiklah kawan! mari kita rampungkan cerita sederhana ini. Bagi teman2 yang belum membaca cerita2 sebelumnya (part 1-4) silahkan cari di bagian page My Doors to USA

Sekedar refreshment, di cerita sebelumnya aku dan kawan-kawan hampir mati kebosanan menunggu penumuman final yang hampir 3 bulan lamanya.

Hingga akhirnya Kamis 4 April 2011 sekitar pukul 2 siang, Jo dari UNPAR sms aku bahwa dia telah dinyatakan diterima sebagai salah satu grantee. Berita ini membuatku seperti mau jatuh pingsan, lemas, ingin segera membuka email.

Dan memang benar bahwa Tuhan itu maha besar, selalu memberi hal-hal indah pada waktunya. Sebuah email masuk itu tersenyum, dengan judul yang membuat senyum bahagia ini seolah tak terhenti “Selected to Participate…..”

Isi email dari AMINEF itu menyatakan bahwa aku akhirnya diterima sebagai salah satu grantee yang akan berangkat ke US, belajar disana selama satu tahun akademik. Perasaanku saat itu bercampur aduk. Antara rasa bahagia, tak percaya, excited bercampur menjadi satu, seperti gado-gago makanan favoritku 😀

Walau pada saat itu belum ada nama universitasnya karena masih menunggu accpetance letter dari univ yang bersangkutan. Namun setidaknya, penantian selama 3 bulan ini sudah ada jawabannya. Bahwa aku finally akan terbang. Officially sudah resmi menjadi grantee.

254730_2087430318348_1622890305_2006934_173261_n

Alhamdulilah!

Terasa sangat bahagia lagi ketika teman2ku menyambutku dengan suka cita. Dan air mata ini pun sedikit mengalir ketika orangtuaku yang miskin dan minim pendidikan dengan rasa tak percaya menepuk bahuku dan memelukku, terutama ayahku.

Meskipun secara geography, mereka pastilah tak tahu disebelah mana Amerika itu. Tapi satu kata…

Kata “Amerika” kawan!!

Telah berubah seperti sihir yang mampu membuat mereka tersenyum ditengah susahnya kehidupan keluarga kami. Aku masih ingat waktu itu ayahku dengan sigapnya mengantarku ke kantor immigrasi untuk membuat paspor. Ibuku langsung mengambil handphone sederhananya dan sibuk memijit berbagai nomor, menghubungi nenekku di desa.

224497_2087440718608_1622890305_2006997_4327436_n
San Francisco from the top

Terdengar suara girang nenekku diseberang sana, lagi2 meskipun dia tak tahu dimana Amerika itu. Ah.. dalam hati aku menangis, tangis bahagia. Aku memang bukanlah seorang anak yang sering berkumpul dan bercanda ria dengan orang tua. Aku selalu merasa jauh dengan mereka. Tapi saat-saat seperti ini benar-benar aku merasa hangat berada diantara mereka.

Ya.. Allah.. sungguh indah nikmat yang telah Kau berikan.

Orang tuaku memang seperti terkena sihir. Maklumlah aku tidak memberitahu mereka sedikitpun mengenai keikutsertaanku dalam proses beasiswa ini. Segalanya aku jalani sendiri dibantu teman2 luar biasaku. Selama proses beasiswa ini kurang lebih 6 bulan aku hadapi sendiri. Tak secuil pun aku bocorkan rahasia ini kepada mereka. Entahlah, dari dulu aku memang sudah terbiasa hidup mandiri. Menjalani segala sesuatu semampuku.

Cukuplah orangtuaku bekerja keras untuk sedikit menguatkan pilar kehidupan kami. Tak perlu lah aku merepotkan mereka, menambah beban pikiran mereka. Kalau aku masih mampu, ya jalani saja sendiri.

Sebuah email selanjutnya masuk ke inbox ku yang memberitahuku bahwa aku akan belajar di  Humboldt State University, California. Wah sungguh bangga rasanya admission ku diterima disana. One of the best colleges in West Coast menurut Princeton Review. Kulihat gambar2nya di internet. Benar2 kampus hijau dan asri. Seperti harapanku dulu waktu mengisi kuisioner dari World Learning mengenai kampus seperti apa yang aku mau.

Perasaan ini semakin memuncak ketika aku juga dinyatakan harus mengikuti English Intensive selama 3 bulan. Dengan itu, maka masa tinggalku di US akan lebih lama.

Saat-sata itu hari2ku semakin hectic. Aku sibuk menyiapkan segala keperluan keberangkatanku. Apalagi sesudah selesai PDO (Pre-Departure Orientation) di Jakarta, waktuku untuk berangkat cuma dua minggu lagi. Paspor belum jadi. Untunglah, ayah temenku, Alvin adalah seorang petugas imigrasi. Beliau sangatlah membantu. Pasposrku jadi dalam waktu sehari saja. Waktu itu pasporku memang sangat dibutuhkan mengingat aku akan berangkat lebih awal.

The south gate of HSU
The south gate of HSU

Aku juga sibuk menjalani medical check up yang tentu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Aku harus mencari rumah sakit yang murah tapi hasilnya dalam waktu singkat saja.

Lagi2 karena urgent.

Sudah berkali2 aku bolos kuliah. Sesuatu yang jarang sekali aku lakukan. Aku sibuk bolak2 rumah sakit dan bolak2 mengunjungi dokter untuk minta tanda tangan dan ini itu. Alhamduliah, meskipun banyak kendala, tapi hasilnya memuaskan.

Aku dinyatakan sehat dan qualified untuk belajar di Amerika. Waktu itu aku menjalani banyak tes dan yang paling memusingkan adalah imunisasi. Ternyata kuliah di luar tidaklah gampang. Banyak banget imunisasi yang harus aku jalani. Ada sekitar 7 imunisasi. Badanku sakit2 akibat terlalu banyak disuntik oleh cairan2 asing.

Demam tinggi.

Dan akhirnya waktu untuk interview visa pun datang. Beberapa hari sebelumnya AMINEF sibuk meneleponku untuk jadwal interview, termasuk aku disibukkan untuk apply visa online yang.. ya Allah.. ribetnya minta ampun. Bener2 lah apply visa ke Amerika sangat ketat dan banyak requirements nya. Berkali-kali aku gagal akibat terlalu ribet dan aku masih sangat udik akan hal2 seperti ini. Dan kalau ada satu kata pun yang salah, aku harus mengulanginya dari awal.

Bener2 menguji kesabaranku!!

Tapi akhirnya setelah beberapa kali apply dan berpuluh2 kali print hasilnya. Aku mendapatkan juga hasil yang sesuai permintaan mereka. Dan aku pun siap berangkat ke Jakarta.

*****

Visa Interview

Ake berangkat sedirian kali ini. Jadwal interview ku sekitar pukul 2 siang. Aku berangkat pagi2 menggunakan kereta. Jangan sampe terlambat pokoknya. Pukul 10 aku sudah tiba di Jakarta dan disambut dengan hujan lebat. Aku bingung harus kemana. Tanya sana-sini, buka google map. Akhirnya aku temukan juga US Embassy itu. Sebelumnya aku harus datang dulu ke Kantor AMINEF yang baru di Jalan Jend. Sudirman untuk mendapatkan sedikit pengarahan.

Bu Isye waktu itu menyambutku. Dari briefing itu aku tahu kalau kita dikasih kartu putih kecil, itu artinya lamaran visa kita diterima dan tinggal menunggu sekitar 3 hari. Kalau kuning itu artinya pending dan kita tidak akan tahu kapan pendingnya berakhir. Kalau pink, itu artinya di tolak, dan kalau itu terjadi, ya sudahlah.. beasiswa ini pun melayang.

Mendengar itu aku sedikit ketakutan. Apalagi sebelumnya aku mendengar rumor kalau yang nama belakangnya agak ke-Islam2an, sangat susah untuk mendapatkan visa Amerika. Tapi aku harus tetap tenang meskipun agak grogi juga. Gimana kalau aku salah menjawab pertanyaan? haha pikiran klasik kalau kita mau interview. Bu Isye selalu mengatakan untuk tetap tenang dan tenang.

Aku sampai di US embassy sekitar pukul 12 siang. Meskipun hujan, Jakarta tetaplah Jakarta yang panasnya minta ampun. US embassy tidak lah besar dan mewah seperti bayanganku, malah yang ada terkesan tersembunyi dibalik pagar yang tinggi dengan pengamanan yang ketat. Kalau kita lewat didepannya, maka jaket atau sweater kita harus dibuka, dan tuh mata2 para pengawas mengikuti setiap gerak-gerik langkah kita. Walah.. merasa terasingkan di negeri sendiri. Seperti intruksi, aku langsung datang mendekati sebuah pos di depan embassy. Petugas disitu langsung mendekatiku penuh dengan rasa curiga.

Takut juga sih, bagaimana kalau ditembak? haha ampun bos!

Mereka sih orang2 Indonesia, tapi lagaknya sudah kaya petugas Secret Service-nya president Obama. Kuusahakan tenang dan kuceritakan maksudku kalau aku sudah punya appointment untuk interview pada pukul 2. Mengingat waktu itu masih pukul 12, si petugas itu langsung menyuruhku untuk datang pukul 1.40, lalu dia menyuruhku untuk pergi dan menunggu disuatu tempat yang dia tidak bisa melihatnya.

Damn!!.. segitunya. Lalu aku pun dengan tergesa2 pergi “menyelamatkan diri” hehe….

Aku duduk di sebuah pos di ujung sebelah barat embassy di bawah jembatan. Benar.. dibawah jembatan layang. Udara panas menerpaku. waktu dua jam seperti seabad. Berkali2 kulihat jam tangan murahanku, jarum jam masih belum beranjak dari area antara angka 12 dan 1.

Baiklah!

Akhirnya pukul 1.30 datang. Aku yang masih berpikiran takut telat, langsung mendatangi pos tadi. Eh sipetugas itu mendekatiku dan berkata dengan galaknya, katanya kalau disuruh datang jam 1.40 ya datang 1.40.

Ini benar2 bikin nafsu.. padahal cuma beda 10 menit, harusnya kan bagus datang lebih awal, itu artinya inisiatif  haha..

Ya sudah aku kembali ketempatku menunggu dengan perasaan jengkel. Yeah.. akhirnya pukul 1.38. Dengan gagah aku mendatangi pos itu. Kali ini petugas lain yang mendekati ku.

Untunglah…:p

Setelah melihat semua berkasku, dia menghubungi pihak bagian dalam. Setelah sekitar 3 menit, aku pun disuruh masuk. Badanku dipreteli, tasku gi grepe-grepe. Setelah dinyatakan clear. Aku pun masuk hanya dengan berkas2 ku di dalam folder. Tasku mereka tahan di pos.

Ya sudah kalau itu maumu haha.. 😀

Aku pun masuk kedalam melewati beberapa pintu pengamanan. Seperti rumah biasa saja. Tak ada yang spesial. Sebuah lapangan bola basket menyambutku. Biasanya dari subuh sudah banyak orang mengantri untuk apply visa, beratus2 orang, dan hanya beberapa saja yang diterima. Padahal biaya apply visa Amerika sangatlah mahal. Kalau visa ditolak, tuh uang melayang.

Bisnis tingkat dewa ala Amerika. Tapi berhubung aku grantee beasiswa dari pemerintah Amerika, maka aku dikasih waktu spesial, hari Senin sore tanggal 16 Mei 2011, dimana yang apply hanya aku saja and its free. Tak ada riuh rendah orang-orang menggerutu seperti dipasar. Suasana terasa tenang. Koridor2 yang dibatasi pagar pembatas terlihat kosong.

With my best friend from Laos
With my best friend from Laos

Aku mendatangi pos kedua dibagian dalam untuk pemeriksaan kelengkapan dokumen. Setelah dirasa lengkap, aku pun disuruh masuk mengikuti tanda-tanda yang dipasang disekitar koridor2 itu tadi. Kubuka pintu kaca bercat putih. Percis gaya gedung2 di Amerika.

Masuk!! aku cari deretan kursi dibagian ujung. Tak ada siapa2. Loket2 interview terlihat kosong. Merasa haus, aku pergi mendekati sebuah dispenser disalah satu ujung ruangan. Sekitar 15 menit menunggu, Akhirnya nama belakangku terdengar dipanggil lewat pengeras suara diujung sana.

Kudatangi loket nomor 3 sesuai suara itu. Seorang wanita muda African-American descent menyambutku. Wajahnya familiar. Dialah yang beberapa hari kemarin memberikan pengarahan tentang visa sewaktu PDO. Cakap sana cakap sini, kurang lebih 5 menit, interview pun kelar.

Biasa2 aja. Pertanyaan basic saja tentang apa, mau kemana, kuliah dimana, berapa lama. Seperti formalitas saja karena sudah tentu dia mengetahui segala informasi tentangku. Akhirnya dia mengambil pasporku dan sebagai gantinya dia memberikan kartu putih dengan tulisan “visa bisa diambil 3 hari kedepan.”

Yeah.. itu artinya permohonan visaku dikabulkan. Dengan girangnya aku keluar gedung. Wajah lusuhku berseri2 seindah taman bunga melati.. huhuh 😀

Aku kembali ke kantor AMINEF untuk menyerahkan kartu itu. Pihak AMINEF lah yang akan mengambil pasporku plus visa didalamnya. Bu Isye langsung menyuruhku untuk segera bersiap2 dan berkemas untuk berangkat 3 hari kedepan. Setelah mendapatkan uang transfortasi, aku pun kembali pulang dengan rasa bahagia yang tak terkira.

Packing sudah beres. Sebuah koper besar telah menunggu diujung kamarku. Koper murah yang aku beli di pasar Gedebage bersama teman2ku. Sebuah tas berukuran lebih kecil juga sudah menungguku. Jumat pagi, aku sudah dijadwalkan untuk berangkat ke Jakarta dan menginap disana semalam. Pesawatku akan take off Sabtu malam. Aku memutuskan untuk berangkat sore ke Jakarta.

Pagi2 aku berangkat ke hotel tempatku bekerja untuk berpamitan. Aku tumpahkan segala rasa terima kasihku di briefing pagi. 5 tahun lebih aku bekerja di hotel itu, dan itu bukanlah waktu yang singkat. Sudah banyak kenangan2 yang aku ciptakan disana. Hari itu aku berpamitan dengan senior, atasan dan teman2. Temen deketku langsung menangis. Ah.. kami memang sudah sangat deket sekali dan sudah mengalami berbagai suka dan duka bersama.

“Segala sesuatu masih bisa berubah bahkan pada detik terakhir.”

Setelah itu aku berangkat ke kampus. Ku sms temenku Sasa untuk menyuruh temen2 deketku kumpul di Kole (Kolam Lele), tempat favorit kami bersama. Aku datangi dulu dosen2ku, ketua yayasan, Prof. Ilyas, dan semua orang2 yang bisa aku temui pagi itu. Aku berpamitan dengan mereka. Sebelum bertemu dengan temen2 sekelasku, aku pergi ke toko batik di Cihampelas bersama temenku yang sudah aku anggap ade sendiri. Kucari beberapa baju batik untuk dibawa ke US. Waktu Jumatan sebentar lagi. Aku putuskan untuk makan dulu bersama temenku.

Namun tiba2 hp ku berdering, sebuah panggilan masuk dari AMINEF. Entah kenapa ada perasaan tidak enak dihati ini. Bu Isye berbicara dengan suara lirih diseberang sana. Intinya visa ku yang seharusnya keluar hari ini ternyata tiba2 di pending entah karena alasan apa dan tidak tahu untuk berapa lama.

Aku shock! shock berat!

Bagaimana tidak kawan segala sesuatu sudah siap. Sudah pamitan, teman2 sudah berkumpul, keluarga sudah siap untuk mengantar dengan segala tetek bengeknya, eh visa ku tiba2 pending, dan buruknya lagi, AMINEF tidak bisa memastikan kapan visanya bisa keluar. Hal itu diluar kekuasaan mereka. Alasan yang aku terima cuma pihak US sana ingin mengetahui lebih banyak tentang diriku. Entahlah, rasanya ingin pingsan saja. Aku ceritakan sama temenku yang sedari tadi memperhatikanku dengan perasaan sedih. Aku putuskan pulang saja menuju masjid dekat kampus berhubung waktu sholat Jumat sudah memanggil.

Aku benar2 menangis dalam sujudku. Ya Allah ada apa ini? Aku benar2 tidak menyangka akan seperti ini. Dari yang aku tahu, visa pending bisa sangat lama, bahkan bisa sampai setahun, dua tahun atau tidak keluar selamanya. Dan itu artinya beasiswa ini pun bisa melayang.

Ah.. tidak mau kalau sampe harus terjadi seperti itu. Aku sms temen2ku yang sudah menunggu kalau aku tidak jadi berangkat hari itu. Lebih berat lagi ketika aku mengabari keluargaku. Berat banget rasanya melihat wajah polos mereka yang tidak mengerti akan hal-hal seperti ini. Datanglah sebuah kesimpulan kalau visaku pending gara2 nama belakangku ada Islam2nya. Selama seminggu aku tidak keluar rumah. Facebook tak ku aktifkan. Aku seperti menghilang saja.

Aku tutup telingaku ketika keluragaku secara berantai menanyaiku kapan visaku akan keluar. Lah aku sediri tidak tahu.

Yang aku lakukan hanya berdoa dan meminta nasehat dari teh Rina yang sudah aku anggap kaka sendiri. Kak Haeril dan mas Nanang, grantee Fulbright Master yang aku kenal sewaktu PDO kemarin, dan temen2 UGRAD. Mereka benar2 mencerahkan hatiku. Aku sadar kalau Allah sedang mengujiku lagi, jangan sampai aku terjerembab dalam kesombongan.

Ya Allah, ampunilah hambaMu ini.

Jumat pagi minggu selanjutnya aku sudah tak tahan lagi menunggu tanpa kepastian. Aku email AMINEF dan aku sudah siap dengan jawaban terburuk sekalipun. Tak disangaka, dalam waktu 10 menit AMINEF membalas emailku dan menyatakan kalau visa ku baru saja keluar.

Syukur Alhamdulilah!

Aku langsung bersujud. Kukabari keluargaku dengan riang gembira. Hoalah mereka semua gembira. Pagi itu juga aku harus ke AMINEF untuk briefing dan mengambil tiketnya. Namun aku tidak dapat kamar hotel dan aku harus berangkat Sabtu besoknya. Walhasil aku harus benar2 berangkat hari itu juga ke kantor AMINEF.

Aku putuskan untuk naik Shuttle biar lebih cepat. Tapi sayang hampir semuanya penuh, ga ada kursi kosong. Kuhubungi berbagai perusahaan shuttle yang menjamur di Bandung, dan semua jawaban sama. Paling aku harus menjadi waiting list. Ah mana mau. Kereta pagi sudah tidak ada dan yang termasuk masih pagi sekitar jam 11. Artinya aku akan sampe di Jakarta sekitar jam 3. Lumayan masih keburu untuk catch up jam kantor.

Dengan terburu2 aku ke stasiun. Ternyata eh ternyata. Semua jadwal kereta pagi itu dibatalkan karena ada longsor di jalur kereta Bandung Jakarta. Aku lupa percisnya dimana.

Ya Allah cobaan apalagi ini. Dalam kekalutan, aku telepon AMINEF, bu Isye bersedia untuk menunggu sampai jam 6 di Kantor AMINEF. Akhirnya aku sambangain semua perusahaan shuttle entah jam berapa yang masih tersedia. Syukurlah, seorang penumpang di Shuttle Cipaganti tiba2 membatalkan perjalanannya. Aku dengan muka sedih meminta mereka memberikan kursi itu padaku meskipun aku bukan waiting list. Sepertinya mereka merasa kasian hingga akhirnya setuju untuk memberikan kursi itu kepadaku. Shuttlenya memang tidak memasuki rute Sudirman, tapi yang terpenting aku sampe Jakarta. Pukul 1 shuttle berangkat dan Alhamdulilah, meskipun Jakarta super macet sore itu, aku sampai di kantor AMINEF yang baru di jalan Sudriman tepat pukul 5 sore.

Setelah briefing singkat yang sebenarnya masih membingungkan apalagi mengenai prosedur naek pesawat dan di bandara. Haduh mana ngerti aku wong deso gini. Naek kereta saja baru beberapa kali dan naek bis saja masih sering mabuk haha. Akhirnya bu Isye memberikan sebuah folder berisi tiket dan teman2nya plus sebuah amplop berisi beberapa lembar dollar yang masih mulus semulus2nya sebagai travel allowance.

HSU Soccer Field
HSU Soccer Field

Ah senengnya..!

Sebenarnya sering sih megang dollar karena aku bekerja dihotel jadi banyak tamu yang suka memberi tip dalam bentuk dollar. Tapi ini nilainya muantap haha 100, 50, dan masih banyak lagi.

Aku pulang dengan hati riang gembira meskipun harus kembali mondar2 cari shuttle pulang yang tetep saja penuh karena hari itu weekend. Untung tukang ojek yang aku ajak keliling2 tidak komplain haha, apalagi pas aku kasih selembar uang biru. Senyum dia.

Akhirnya dapet juga meskipun jam 11 malam, dan besoknya harus sudah siap2 berangkat ke Jakarta. Hari yang bener2 paling sibuk dalam hidupku haha, untungnya tak perlu packing lagi.

Singkat cerita, jam 11 siang aku berangkat satu mobil penuh bersama keluargaku dan sampai di Bandara Soetta jam 5 sore. Seperti hendak demo saja haha. Tapi seneng juga melihat mereka riang karena akan melihat bandara. Bandara terbesar lagi. Penerbanganku dijadwalkan jam 9 malam menggunakan All Nippon Airlines (ANA). Kemudian transit di Jepang selama 10 jam dan dilanjutkan menggunakan United Airlines menuju San Francisco. Oh nama kota itu bener2 masih terngiang2. Tak sabar rasanya ingin melihatnya.

So.. it is not a dream?

Berhubung ndeso dan takut telat, aku putuskan untuk check in jam 6. Tak kirain lebih awal lebih bagus. Untuk pertama kalinya aku merasakan badanku digrepe2 oleh para satpam itu.

Damn berani2 nya haha…. 😀

Eh ternyata counternya masih tutup dan masih dipake oleh flight lain. Ya sudah aku putuskan untuk diam di dalam karena kalau keluar, maka aku harus menjalani prosedur yang sama lagi. Aku telepon keluaragaku untuk tetap tinggal karena aku belum say goodbye ke mereka.

Akhirnya aku check in juga dan sudah mendapatkan boarding pass. Aku langsung keluar menemui keluaragaku. Lumayan masih ada satu jam lagi. Ah terasa berbeda ketika melihat mereka. Merasa seperti berat saja. Aku duduk disamping nenek dan ibuku. Kemudian aku foto2 mereka. Setelah ngobrol kesana kemari, akhirnya tiba juga waktuku untuk pergi.

Ya Allah… beratnya luar biasa. Nenekku langsung merangkulku dengan kuatnya. Mataku mendadak tidak jelas, tapi aku tahan.

Tahan Nak!!!

Aku tidak mau menangis didepan mereka. Biar mereka saja yang menangis. Kemudian ibuku memelukku. Pelukan yang sangat jarang aku dapatkan. Adikku, sepupuku, tanteku dan terkahir ayahku. Ibuku menangis. Untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis didepanku. Kalau nenekku sedari tadi sudah terlihat menangis tersedu-sedu. Aku tegarkan hatiku. Kupaksakan senyum di bibirku.

Aku pun melangkah….

Langkah pertama yang sangat berat.

Ya Allah..!! Aku yang dari dulu selalu merasa mandiri, independen, dan tidak terlalu memikirkan keluarga, ternyata berat sekali rasanya meninggalkan mereka. Kulambaikan tanganku untuk terkahir kalinya dan aku langsung buru2 masuk. Dengan langkah cepat kucari toilet terdekat. Ada rasa yang sudah tak tertahankan.

Akhirnya aku menangis tersedu2 didalam toilet itu. Benar2 menangis. Ya Allah ternyata keluarga itu memang sangat penting. Keluarga adalah segalanya. Aku yang selalu berpikiran buruk terhadap orangtuaku, selalu menjauhkan diri dari mereka, ternyata ketika melihat mereka menangis, hatiku terasa hancur.

Allah telah mengingatkanku bahwa keluarga itu sangatlah penting.

Aku dengan lemah berjalan menuju gate pertamaku. Aku duduk disana dengan termenung. Ku sms mereka untuk terakhir kalinya sebelum masuk pesawat. Terdengar bunyi announcement, akhirnya aku masuk. Untuk pertama kalinya juga aku masuk kedalam pesawat yang sangat besar dan mewah.

Subhanallah..!! ANA memang terkenal mewah.

Tempat dudukku berada didekat jendela. Sayang waktu itu malam jadi aku tak bisa melihat apa2 kecuali lampu2 landasan. Setelah beberapa saat pesawat pun mulai bergerak. Aku kencangkan sit-belt ku. Ketika pesawat mulai menanjak, aku tutup mataku. Hatiku seperti terbang. Merasa takut tapi juga takjub. Akhirnya, aku mengalaminya juga. Mengalami naek pesawat. 7 jam lagi aku akan sampai di Narita.

Narita Airport, Japan

A Lounge at Narita, Japan
A Lounge at Narita, Japan

Pukul 7 pagi aku sampai Narita, sebuah bandara yang sangat besar dan malah terlihat seperti mall. Suasana masih sepi karena masih pagi. Aku dengan santai berjalan menikmati suasana Narita dan melihat beberapa perempuan Jepang yang terkenal lucu2 sedang mempersiapkan toko2 mereka.

Aku masuk ke United Club Lounge karena aku masih harus menunggu 10 jam. Tak semua orang bisa masuk ke lounge super mewah ini. Hanya mereka yang member dan mempunyai tiket kelas utama yang bisa. Nah loh kok aku bisa? kan aku kelas ekonomi?

Haha ternyata aku ini spesial 😀

Sebelum masuk aku cari toilet dulu untuk pipis. Lumayan bisa pipis di Jepang haha ngikutin gaya mas Yugo grantee tahun lalu. Lounge nya memang sangat mewah tapi terasa boring karena aku sendirian. Disitu pula untuk pertama kalinya aku berbicara bahasa Inggris dengan perempuan Jepang petugas receptionist.

Akhirnya tiba waktuku masuk ke United. Masih bingung sih apa aku harus check in lagi atau ga usah. Sumpah masih bingung banget. Akhirnya aku putuskan chek in lagi haha karena aku belum dapet boarding pass ke US nya. Pesawatanya lebih besar dari yang pertama tapi ampun biasa saja di dalamnya. TV nya saja kecil. Para pramugarinya juga tua2. Beda sama yang Jepang yang masih muda2 dengan suara kecilnya khas wanita Jepang haha. .. 😀

Sekitar 10 jam lagi aku akan sampai San Franciso. Aku putuskan untuk tidur karena tak banyak yang bisa aku lakukan.

San Francisco, USA
San Francisco, USA

Aku terbangun karena sinar matahari masuk melalui jendela pesawat yang tidak aku tutup dengan rapat. Seketika juga terdengar pengumuman kalau pesawat sebentar lagi bakal landing.

Subhanallah! Aku cepat2 buka jendela. Terlihat daratan hijau dibawah sana. Daratan berbukit2 yang dihiasi rumput2 hijau dan kuning. Terlihat indah dan seperti di buku2 dongeng. Ku ambil kameraku dan jpret.. jpret!! aku dapat beberapa foto yang bagus. Setelah mengisi customary form dan pesawat sudah mendarat dengan suksesnya. Aku langkahkan kakiku dengan gembira. Jamku menunjukan pukul 9 pagi dan pesawat terkahirku sekitar pukul 2 sore. Lumayan banyak waktu untuk berkelana di San Francisco International Airport 😀

The City of Arcata
The City of Arcata

Bandaranya lebih mewah dengan karpet merah dan abu2. Aku langsung menuju gerbang immigrasi, pintu sebenarnya untuk bisa masuk ke USA. Agak takut juga masuk secondary inspection meskipun hal itu sudah tak diberlakukan lagi. Para petugasnya berseragam hitam gaya polisi Amerika.

Bule2 hilir mudik dimana-mana. Tentu saja! ini kan negara mereka haha…

Petugas itu tersenyum dan bertanya hal2 yang sebenarnya dia sendiri sudah tahu jawabannya. Untuk pertama kalinya juga bahasa Inggrisku di uji. Masih sama, gak PD! takut salah grammar atau takut aku gak mengerti apa yang dia katakan.

Ah lancar2 saja.

Yang kedua tinggal Customary Gate. Setelah barang2ku dibawa semua, aku menuju gate itu. Aku pilih petugas yang berwajah Asia dengan harapan dia akan mengerti kalau aku membawa banyak In**mie.

Sia-sia saja!

Dia tetap mengecek semuanya dan bertanya mengenai komposisi mie instantku. Semua mie yang bergambar ayam langsung dia lempar ke tong besar dipinggirnya. Malang sekali nasib mie itu. Baru juga sampai USA sudah diberlakukan seperti itu.

Bentuk lain dari diskriminasi.

Lebih malang lagi aku yang hanya bisa menatap dengan pasrahnya 😦

In**mie yang kedua yang tidak ada gambar ayamnya (in**mie goreng) tetep dia periksa tapi tidak langsung dibuang melainkan bertanya mengenai bahan2nya. Ketika dia bertanya apa artinya “perisa ayam,” aku bilang saja “vegetable flavor.”

Berhasil! mie itu kembali ketanganku. Coba kalau aku bilang chicken flavor, pasti nasibnya sama dengan 20 teman2nya di tong besar itu. Akhirnya aku cuma bisa membawa 10 bungkus in**mie goreng.

Kucari gate terakhirku. Mudah sekali karena SFO airport terlihat lebih teratur. Tapi kok jamku telat satu jam ya? Oh ternyata di US sudah masuk summer, itu artinya mereka memajukan jam mereka satu jam (daylight saving).

Bener2 aneh! Aku rubah semua jamku. Aku duduk disana sambil memandang keluar. Indah dan menakjubkan melihat pesawat2 besar itu terbang dan mendarat.

Subhanallah subhanallah! Baru yakin kalau ini bukan mimpi dan aku benar2 sudah di US.  Alay memang tapi ya begitulah.

-___-

Walah ternyata pesawat terakhir ke Arcata sangat2 kecil!

Seperti bukan pesawat terbang, dan didalamnya cuma mungkin ada 20 orang. Belum lagi aku harus berjalan keluar untuk masuk kedalamnya tidak melalui sebuah movable corridor seperti dua pesawat sebelumnya. Detik itu pula untuk pertama kalinya aku merasakan betapa dinginnya cuaca diluar sana padahal matahari bersinar denga teriknya. Sungguh sangat aneh! Bahkan sweaterku seperti tak berdaya menahan kencangnya laju angin itu.

Lebih parah lagi ketika mendarat. Sumpah takut setengah mati. Tidak mulus sama sekali. Aku seperti berada didalam sebuah layang2 yang diterbangkan oleh seorang bocah yang baru pertama kalinya bermain layang2. Berputar2 tak karuan. Malah aku berpikir mungkin pesawat itu akan jatuh.

Fuh.. mendarat juga.

Suasana berubah menjadi hijau indah luar biasa. Pohon2 seperti pohon cemara berderet menulang tinggi dengan rapihnya. Ternyata itu adalah ‘”Redwood trees” yang cuma ada di Northern California. Sungguh indah kawan, berbaris dengan rapi menjulang tinggi. Aku masuk kesebuah bandara yang teramat sangat kecil tapi indah sekali didalamnya. Ketika diluar angin kencang berhasil meliup2kan tubuh cekingku. Dingin dan berangin. Aku terus2 menggigil.

Finally my dorm, Creekview
Finally my dorm, Creekview

Seorang wanita yang dijadwalkan akan menjemputku berjalan mengampiriku ketika aku sedang menunggu di depan baggage claim. Namanya Kasey, cantik luar biasa tinggi semampai. Tak usah kuceritakan bagaimana kecantiknya karena pertemuan ini sudah aku ceritakan di cerita sebelumnya.

Dengan mobil dia aku berjalan menuju kampusku. Sepanjang perjalan hamparan rumput hijau dengan sapi2 terbentang dimana-mana. Barisan redwood trees berdiri dengan rapihnya seolah2 menyambut kedatanganku. Benar2 indah luar biasa. Tak bisa aku ucapkan dengan kata2.

Ternyata benar kata orang, alam California memang sangat luar biasa. Alhamdulilah.. sesuai harapanku. Pukul 4 aku sampai di dormku diatas bukit sana disambut teman2 Ugradku yang lain.

Welcome to America, Nanak! the land of opportunity! Alhamdulilah 🙂

(semoga aku masih bisa menulis kisah seperti ini dinegara yang berbeda, amin)

The End

******

HSU Library April 17, 2012 @ 11.05 PM

Arcata, California

Advertisements

13 thoughts on “My Doors to USA 5 -END- (Global UGRAD 2011-2012)

  1. Hey Nanak! Pia here. You should have told me that you blog too! This is a really good wrapping-up post about your experiences. I thought of it myself but I don’t have time as of now. Maybe when I get home. Followed! Hope to hear more from you here!

  2. this is truly an inspiring story, you should write a book. it could inspire many people to keep holding their dreams 😀 poor those indomies

  3. hi i’ve just read your blog. and fyi, now i’ve been started to prepare my application for 2014 UGRAD program. what do you think about a good essay? what emphasis should i put on it? I believe you have a great capability to make an essay because essay is a crucial part of UGRAD selection process. I hope i can learn from your experience when you wrote your essay for UGRAD. Thanks in advance & have a nice day! 🙂

    1. Membuat essay untuk beasiswa memang tidak mudah. Kamu perlu waktu untuk itu karena essay yang ideal dihasilkan dari puluhan kali editing.

      Untuk global UGRAD, jenis essaynya kan personal statement. Seperti judulnya, kita harus membuat sebuah essay yang menyatakan kesiapan, goals dan objectives kita untuk belajar di US. Goals adalah harapan yg ingin dicapai sepulang dari US, objectives adalah cara untuk mencapai semua goals itu.

      Intinya sih begini. kamu harus menjawab semua intruksi/ pertanyaan mengenai apa yg mesti kamu tulis di essay. jawab pertanyaan tersebut satu2 sebagai ide utama, kemudian kembangkan. Setelah semuanya terjawab dan sudah hampir membentuk seperti essay yang coherent, kamu harus mengeditnya. Dont assume that your first draft is your essay to submit.

      Kalau ada 5 pertanyaan, maka bisa menjadi 5 paragraf plus satu opening dan 1 conclusion. jadis ekitar 7 paragraf. make sure tidak melebihi 500 kata ya. makanya sering di edit dan dibaca berulang2 untuk mendapatkan essay yang pas, menghindari pengualangan kata2 atau ide utama dan grammar.

      Yang mereka harapkan dari essay applicants adalah goals yang clear kenapa ingin study di US. cara gampangnya begini, kamu harus mencari sebuah masalah yang pelik disekitar kamu yang ada relasinya dengan jurusan kamu. nah kemudian propose jurusan dan makul2 apa ja yang ingin kamu ambil di US untuk membantu menyelesaikan maslah tersebut sehingga sepulang nantidari US kamu bisa menerapkan ilmu kamu untuk menyelesaikan masalah tersebut. Lalu kenapa US, usahakan hindari “licking” ya kaya US adalah negara bla bla bla. Cari kenapa US memang negara yang tepat untuk mempelajari hal2 tersebut, misalkan karena univs disana udah advanced banget secara teknologi, SDM dan riset. atau bisa bilang karena di US saja makul2 yang sesuai dengan jurusan kamu ada. Intinya harus memberi alasan yang jelas kenapa US selain dari segi univ dan tentunya budaya yang bisa memperkaya pengalaman kamu, dan bhaasa juga.

      Secara singkat kamu harus mencari problem–> you believe that it needs solutions –> why US —> solutions —> return to Indo and apply your knowledge.

  4. kak, aku mau apply ugrad tahun ini. dan karena pemberitahuannya mepet (less than a week) skrg super duper panik ngurusnya. dulu pengalaman organisasi/kerja pengaruh ga kak krn aku sama sekali ga ada (ada pun itu jaman smp) tapi ip aku bisa dibilang lumayan. ada saran? terima kasih

    1. Hi Miranda,

      Semuanya berpengaruh kok karena saling mendukung. Kegiatan organisasi hanya dari dua tahun kebelakang aja so kalo SMP tidak bisa dihitung lagi. Yang paling utama essay tentunya dan tujuan kamu ikut program tersebut 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s