Story of My Life

Atlas Curian dan Amerika Bag 2

Massachusetts Institute of Technology

Assalamualaikum.. kawan..

Alhamdulilah dapat kesempatan untuk melanjutkan cerita ini. Hari ini ada satu kelasku yang di cancel jadi ada waktu sedikit lebih lenggang. Bagi yang belum sempet membaca cerita bagian pertama, you may click HEREย ๐Ÿ™‚

Dicerita pertama, aku berhasil masuk sekolah dasar yang cuma satu2nya di desaku. Sekolah yang terdiri dari 3 kelas, satu kelas di bagi dua untuk masing2 murid sekitar 40 orang. Satu meja diisi oleh 4 sampe 5 orang, berhimpit-himpitan. Tak bisa berkonsentrasi sama sekali. Bahkan parahnya lagi, guruku untuk kelas satu dan dua jarang sekali masuk, padahal di SD ku cuma ada lima guru.

Fuhh!!

Tapi ya itu tadi, sebuah lapangan besar itu begitu spesial walau harus bekerja mati-matian untuk membabat rumputnya seminggu sekali. Kalau tidak hati2, bermain disitu pun bisa terkena ranjau darat. Kotoran anjing-anjing desa yang kumal dan tak terurus. Tapi bagiku ada yang lebih spesial lagi. Sebuah ruangan kecil yang berisi tiga rak buku plus satu meja ukuran besar ditengahnya.

Benar, sebuah perpustakaan!

Setiap waktu istirahat tiba, aku selalu menyempatkan mengunjunginya untuk meminjam beberapa buku dan membawanya kelapangan. Tentu saja aku masih sempet bermain dengan kawan2ku. Sekedar bermain bola, galah, gatrik, sondah, ucing sumput (hide and seek) atau sekedar loncat tali. Tapi sebenarnya lebih banyak waktu istirahatku untuk membaca. Entah kenapa rasa ingin tahuku waktu itu sangat tinggi.

Melihat buku-buku itu dengan gambar dan tulisan didalamnya membuatku seperti membuat dunia sendiri di otakku. Kalau sudah seperti itu, temen-temenku akan meninggalkanku sendiri di pinggir lapangan atau di atas pohon.

Kawan…aku suka sekali membaca buku di atas pohon ditemani angin sepoi-sepoi. Angin pegunungan yang aduhai sejuknya. Bacaan favoritku waktu itu adalah buku-buku bahasa Indonesia yang ada cerita-cerita legenda di dalamnya. Maklum buku pelajaran SD dulu sering disisipi cerita-cerita legenda. Entah itu Roro Jonggrang, Tangkuban Perahu, atau Timun Mas. Selain itu aku suka sekali majalah mingguan si kuncung.

Banyak sekali cerita seru didalamnya. Entah masih ada atau tidak sekarang majalah itu. Aku sering membacanya sebelum teman-temenku dan seringnya aku bawa kerumah tanpa dikembalikan.

Haha.. benar!

Aku membawanya kerumah karena saking senengnya akan majalah itu. Tapi kok bisa? Tentu saja, di sekolah terpencil ini yang segalanya serba terbatas, tak ada yang namanya petugas perpustakaan. Semua siswa boleh membaca atau meminjamnya. Tapi ya itu, kalau ingat ya dikembalikan kalau tidak ya menghilang. Tapi untungya setiap beberapa bulan sekali selalu ada buku2 baru sumbangan dari pemerintah atau para donatur.

Dan hari itu adalah hari dimana dua buah kardus berukuran besar datang. Kardus-kardus itu berisi buku-buku teks pelajaran, buku-buku bacaan, majalah si kuncung dan sebuah buku berukuran lebih besar, lebih tebal dengan kertas yang istimewa. Di sampulnya bertuliskan “Atlas Indonesia dan Dunia.”

Atlas?

Waktu itu kosakataku masih sangat terbatas jadi belum tahu apa itu artinya atlas. Aku berada di barisan paling depan di depan perpustakaan ketika pak kepala sekolah membuka kardus dan memperlihatkan isinya di depan murid-murid setelah upacara. Biasanya bagi kami upacara itu sangat membosankan, terutama pada bagian amanat pembina upacara.

Ketika siswa petugas protokol membaca “Amanat pembina upacara, barisan di istirahatkan!”

Sudah deh kami semua lemas.

Tau tidak kawan, itu amanat bisa sampe 30 menit. Dan bagi kami siswa-siswa pemalas, itu bisa terasa seperti 3 jam.

MIT Dorm

Aku yang berada paling depan, langsung menyeruduk mengambil buku atlas itu lalu membukanya. Kawan-kawanku yang juga ingin melihatnya, berdiri mengelilingiku. Bau nafas mereka langsung menyerbu mukaku.

OK! Kali ini aku bisa bertahan karena isi buku itu jauh melontarkan imajinasiku. Benar sekali buku itu sangat indah. Berisi gambar peta-peta Indonesia dan dunia, kebudayaan Indonesia dan dunia yang disisipi gambar-gambar menarik di di setiap halamanya.

Nah pada bagian halaman kebudayaan dunia, mataku langsung tertuju pada sebuah peta besar yang bernama Amerika Serikat dengan sebuah gambar jembatan besar yang dihiasi lampu-lampu gemerlapan pada malam hari di pinggirnya.

Subhanallah.. benar-benar indah dan megah jembatan merah itu.

Tertulis dibawahnya “Golden Gate Bridge, San Francisco, California.” Tak sabar aku untuk membaca dan melihat gambar-gambar menarik lainnya. Tapi sayang suasana waktu itu sangat noisy, ribut luar biasa. Belum lagi waktu untuk pelajaran pertama sudah hampir dimulai. Kuletakkan atlas itu di meja dan bersiap untuk masuk kelas. Tapi di hati ini sudah tertanam sebuah niat untuk membawanya kerumah dan membacanya sampai puas.

and finally I am here

Tapi ternyata atlas itu tidak boleh dibawa pulang karena cuma satu-satunya. Aku sedih mendengar itu, sebenarnya bisa dibaca di sekolah tapi selalu menjadi rebutan, dan waktu istirahat yang cuma 30 menit tidak cukup untuk membacanya sampai puas. Kuputar otakku untuk mencari ide.

“Masukan diam-diam ke dalam tas dan bawa pulang.”

Begitulah yang ada dipikaranku.

“Tapi itu namanya mencuri?”

Benar!! Tapi mencuri buku pengetahuan terkadang baik juga. haha.. hukum dari mana itu, mencuri tetap saja mencuri. Tak ada bagus-bagusnya. Tapi hasratku untuk memiliki buku itu sudah tidak terbendung. Akhirnya aku tunggu hingga akhir bulan, dimana setiap hari itu kami mempunyai sebuah projek besar.

Projek membersihkan kelas.

Dan tibalah hari itu dimana kami semua harus membawa ember atau jerigen dan sapu lidi. Bangku dan meja di angkat dan dirapihkan kepinggir. Setelah itu kami harus berjalan kebawah, kearah sungai untuk mengambil air dan menumpahkannya di lantai. Kalau air habis, kami berjalan ke bawah lagi. Begitulah berulang-ulang. Kalau siswa yang malas, mereka cukup sekali mengambil air lalu pada giliran kedua, mereka kabur alias mabal.

Parah memang haha.. ๐Ÿ˜€

So I’ve passed this gate eventually by bicycle. Like a miracle..

Disela-sela pembersihan lantai, aku diam-diam masuk kedalam perpus dan aku pastikan tak ada yang melihat. Kucari buku itu. Ada perasaan takut juga. Tapi sisi evil ku malah menghiburku dan berkata untuk dibawa kerumah satu atau dua bulan setelah itu kembalikan ke perpus dengan posisi yang sama. Jadi istilahnya meminjam daripada mencuri.

Ok! terdengar lebih enak.

Kutemukan buku itu di pinggir rak dekat sebuah bola dunia. Aku masukan buku itu kedalam tasku secara diam-diam.

Aman!

Resleting tasku sudah tertutup. Oh iya, aku sudah punya tas lho haha ๐Ÿ˜€

Dengan wajah tanpa dosa aku kembali ke kelasku dan bergabung dengan teman-temanku yang lain. Kelas sudah bersih dan aku sudah buru-buru saja ingin pulang. Tapi belum selesai karena hari itu bertepatan pula dengan hari pembagian.

Apa itu?

Itu adalah hari dimana siswa-siswa SD miskin dan kurang giji seperti kami mendapat sebuah makanan. Bisa gorengan, atau buah-buahan. Entah apa nama programnya aku lupa tapi yang jelas, setiap dua hari sekali sebelum pulang, kami mendapat makanan itu. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan giji

Ha..ha.. padahal giji dari mana kalau yang di kasih adalah gorengan, yang ada meningkatkan kolesterol.

Tapi ada yang mendingan dikit yaitu kue-kue desa seperti onde-onde, kadang bubur kacang, atau buah-buahan. Pada hari-hari itu kami semua girang bukan main dan berteriak…

“Dibagi..dibagi..dibagi!!”

Haha.. memalukan, dasar anak-anak udik!

Lebih seru lagi kalau sudah sebuah apel. Walaupun cuma sebuah apel malang hijau yang asam, tapi buah itu bagi kami istimewa sekali. Jarang sekali lho kami makan buah apel. Sering aku membawanya pulang dan membagi dua dengan nenekku. Kalau kakekku lagi ada, ketika aku tawarin sebagian, beliau selalu menolak.

“Sudah buat kamu saja!”

Begitu pasti jawabannya. Padahal aku tau kakekku juga ingin merasakan apa yang disebut dengan buah apel. Buah yang sangat istimewa.

Hollywood, Los Angeles

Hari itu yang di bagi adalah sebuah bala-bala bikinan ibu lurah. Pemerintah cuma memberi uang dan terserah bapa lurah mau di beliin apa. Denger-denger sih itu budgetnya lumayan gede, tapi ternyata korupsi sudah masuk ranah desaku dan tak ada yang bisa berkutik. Warga desa seperti kami bisa apa.

Geram!! Aku makan saja bala-bala itu dalam perjalanan pulang sambil setengah berlari.

Sesampainya di rumah, nenekku sudah menyiapkan sayur daun singkong, makanan favoritku. Setelah makan, aku bersembunyi di kamar dan buru-buru kubuka tasku.

Buku itu masih terselip dengan nyamannya di dalam tasku. Kubuka dari halaman pertama, kubaca dengan seksama dan kulihat gambarnya dengan penuh perhatian. Baru pertama kali aku melihat megahnya tembok China, luasnya padang rumput Afrika atau eloknya kota-kota di Amerika dan Eropa.ย Pada saat itu entah kenapa ada keyakinan besar dalam hati ini aku bisa menjelajah tempat-tempat itu.

Sungguh! entah keyakinan dari mana.

Apalagi ketika melihat senyum kakek dan nenekku, atau gemetarnya tangan kakekku ketika menerima raport dan berdiri disampingku pada saat pemanggilan juara kelas setiap “samen” (akhir tahun pelajaran). Walaupun aku tidak begitu pintar, tapi aku selalu jadi juara satu sampe lulus lho kawan, bahkan terus berlangsung sampe lulus SMA.

Senyuman itu adalah pendorong terbesarku. Pendorong diriku untuk mencipatakan “self-determination.” Aku boleh saja anak udik dari desa, miskin dan penuh keterbatasan. Tapi imajinasi dan keyakinannku go beyond those borders. Hasil kerja keras tangan mungil kakek dan nenekku mampu membawaku hingga kesini, ke Amerika ini.

San Diego

Benarlah kawan, kini aku sedang duduk didepan sebuah komputer di perpustakaan yang modern ini. Di Humboldt State University, California. Aku bisa berdiri di tanah salah satu state-nya yang terkenal akan julukan “Golden State.”

Hingga saat ini, telah kujelajahi dengan sepeda bagaimana megahnya Golden Gate Bridge.Telah kusentuh setiap detail besi-besi merahnya. Telah kulihat dan kurasakan bagaimana angkernya Alcatraz dan indahnya San Francisco.

Telah kutapaki pula gemerlapnya Los Angeles, Classy nya San Diego hingga jauh ke atas ke Portland dan Seattle. Lebih jauh lagi, aku telah menjelajahiย  setiap jengkal state nya dari Oregon, Washington, Montana, Idaho, Wyoming, Colorado, Kansas, Nebraska, Missouri, Illinois, Indiana, Kentucky, terus jauh ke timur Ohio, Virginia, Pennsylvania, New York dan terakhir Boston, Massachusetts.

Sebuah kota yang megah namun classy, student city nya Amerika dimana terdapat dua leading univeristy, Harvard dan MIT.

Betulkan kawan.

Dulu aku lihat itu semua cuma dari sebuah buku atlas “curian.” Tapi karena aku percaya, aku bisa menjajakinya, menyentuhnya dan menghirup udaranya. Kota-kota megah lainnya di Eropa hanya tinggal menunggub waktu saja. Insya Allah.

University Museum, Harvard

Tapi sayang, kakekku tidak sempat melihat ini semua. Melihat salah satu hasil kerja kerasnya. Kerja keras dalamย mendidikku untuk menjadi diriku sekarang. Shaping my characters.

Bagaimana kerasnya dia dalam mendidikku tentang agama dan berani memukulku dengan lidi dan tongkat kalau aku malas untuk melakukannya. Beliau adalah tokoh inspirasiku yang selalu berjuang tanpa pamrih, bahkan untuk desaku. Kakekku adalah petugas penjaga kelancaran air yang mengalir di desa kami.

Kalau air ada masalah, beliau rela pergi kesumbernya nun jauh di gunung sana meskipun tengah malam. Bagi beliau, yang terpenting air mengalir untuk keperluan sholat dan segala urusan pagi hari.

Sungguh mulia.

Dia tidak di gaji, hanya sekedar saja kalau ada yang memberi. Perkatannya yang menjadi inspirasi hidupku adalah “Jadilah orang yang berguna untuk apapun dan siapapun tanpa melihat apa dan siapa mereka.”

Benar, itulah sebenarnya inti dari hidup. Berbuat baik dan melihat orang lain tersenyum karena kebaikan kita adalah salah satu hal terindah dalam hidup ini.

Space Needle Tower, Seattle

Sayang beliau sudah berpulang keharibaan-Nya beberapa tahun lalu. Kalau beliau masih hidup dan melihat hasil karyanya bisa melangkah sampai sejauh ini, tak terbayangkan bagaimana reaksinya. Beliau adalah orang yang pendiam. Senyum dan tawanya adalah ketika berdiri disampingku di atas podium dengan memegang sebuah raport dan sebungkus hadiah buku tulis, dan ketika bercanda dengan nenekku.

Tapi syukurlah!

Setidaknya nenekku masih bisa menyaksikan semua ini. Nenek yang selalu ku peluk dengan hangatnya ketika lebaran tiba. Kawan, semenjak pindah ke Bandung, aku cuma satu tahun sekali mengunjunginya, yaitu ketika lebaran tiba.

Kini aku sangat merindukannya, sangat sangat merindukannya. Beliau masih sempat mengantarkanku ke bandara diringi air matanya, dan aku berharap beliau masih bisa melihatku di podium wisuda nanti dan di bandara pada penerbanganku ke Eropa dan negara-negara selanjutnya.

Semoga ya Allah… ๐Ÿ™‚

*****

HSU Library, February 6, 2012 @ 7.36 PM

Arcata, California

Advertisements

20 thoughts on “Atlas Curian dan Amerika Bag 2

  1. Ada yang kurang Nak di sini, saat kau menapaki tiap state2 itu apa kesannnya? apakah America is equal to your perception prior to coming here? :). However, salut sekali sama dikau Nak.

  2. Nanak..kata terakhir d tulisan ini.. Mengharapkan nenek mu melihat wisuda mu n keberangkatan mu k eropa?

    Emang qm ada acara graduate d sna n d saksikn keluarga? Keluarga qt d antar ksna gt? Weeew

    1. ha.. ngga, aku hanya berharap nenekku masih bisa melihatku di wisuda nanti dan penerbangan ke eropa itu maksudnya aku berharap aku dapet beasiswa master kesana dan nenekku masih bisa menyaksikannya. Beliau udah tua sekali lho, dan umur gda yg tau. Oh iya Insya Allah aku akan ke UK next Summer, insya Allah ๐Ÿ™‚

  3. Hah apah k UK? Mampir k canada gak..salam utk justine bieber hihihi

    S2 k eropa lewat erasmus mundus? Ayo qt coba brg mate! Plan aq juga hihihi.. Hopefully if u were in jakarta, we can gather in jakarta n explore it together. W/ jota afand rika etc.. Cz klo aq yg k jkt ato sby psti gak boleh.. I am the only one daughter naak hihihi

    Mav yah curcol

    1. ha.. iya, ada projek brg professor ku disini, tapi liat nanti juga.

      bisa pake itu tapi banyak kok beasiswa yg lainnya.
      siph2, ikut donk nanti ke Surabaya, gpp atuh kita kan temen he.. ๐Ÿ™‚

  4. Semoga aq boleh ke sby deh..but it has a little chance for the permition..mmang qm knp mau mengeksplor sby toh??

    Btw proyek ap sma prof mu?

  5. So, what’re you waiting for? visit your grandma immediatelty. I believe she’s looking foward to seeing you. Keep on dreamming greatpersie, and make it come true. Some people has lost belief in miracle, especially children, poor. Let’s help them to see.

  6. I’ve been reading your blog over and over again yet I never got bored of it, I also read your comments and answers towards thousands of questions from the applicants of Global Ugrad programme, you also checked some of their essays too. You are so humble, and you have such an inspiring story of life, I learned a lot from you. Sometimes I wish I could be as great as you. You really motivate me to never give up on pursuing my own dreams. I hope you’ll keep sharing your personal stories though you don’t know *this stranger*, but believe me a lot of strangers out there are stalking you, wishing that they could be just like you. Keep motivating others, Sir ๐Ÿ™‚

    1. Hey Amelia,

      Ah… this may sound overrated to me. Im just trying to do and help according to my ability. I couldnt give those people money or gold though unless this priceless experience I have.

      Definitely I will coz writing is my passion. And yes you even can be greater than me. You are unique! I would love to hear back from you ๐Ÿ™‚

  7. fascinating story..!
    membaca blog ka Nanak seperti berkelana dalam dunia imajinasi superhero..
    teruslah mengukir sejarah hidupmu dengan tinta emasmu Ka..
    semoga kami bisa meraih impian kami seperti Ka Nanak yang telah lebih dulu meraih impian besar dalam hidup ka2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s