Story of My Life

Atlas Curian dan Amerika Bag 1

courtesy google image

Dulu, pas hari pertama aku masuk sekolah dasar, tak terbayangkan betapa senangnya hari itu. Dua hari sebelumnya, kakekku membawakanku sebuah buku  berjilid 28 dan sebatang pensil.

Dia berkata dengan riangnya,

“ini hadiah untuk hari pertamamu sekolah.

Aku hanya tersenyum. Buku itu tidaklah mahal. Waktu itu mungkin hanya sekitar tiga ratus rupiah. Dan lembarannya itu sebelah lembut dan sebelah lagi kasar. Jadi seringnya menulis di halaman yang lembutnya. Dilewat sehalaman.

Pemikiran anak SD 🙂

Ini hari pertamaku sekolah. Tentu saja aku tidak pernah masuk TK. Di desa terpencil seperti ini, yang jauh dari mana-mana, ditengah pegunungan, rasanya tak mungkin ada sekolah TK. Belum lagi pemikiran orang-orang desa waktu itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan masih sangatlah rendah. Buat mereka, sekolah itu tidaklah penting. SD saja sudah cukup yang penting bisa sedikit baca dan tulis. Maka tidaklah heran kalau banyak yang tidak pernah sekolah. Kalau pun sekolah, paling sampe SD. Sesudah itu, mereka pada berangkat ke Jakarta untuk mencari selembar uang.

Hal ini terjadi terutama terhadap anak-ana perempuan.

Mereka menjadi pembantu rumah tangga di rumah-rumah elit sana di Jakarta. Ketika lebaran tiba, mereka bergerombol pulang dengan berbagai gaya kota yang telah merubah mereka. Dari mulai perilaku mereka yang enggan untuk membantu orang tuanya hanya untuk sekedar mencuci piring. Padahal itu adalah pekerjaan sehari2 mereka di Jakarta. Sampe yang lupa akan bahasa Sunda. Kalaupun bicara Sunda, tentu dengan Sunda yang aneh karena mereka telah mencampurnya dengan bahasa jakarta sana.

Lucu memang. Cara berpakaina pun tentu saja berubah. Sedikit lebih modern. Modern yang sangat aneh bagiku karena kalo aku lihat, tak ada modern-modernnya sama sekali.

Oh…Jakarta memang kejam!

Telah merubah gadis-gadis polos itu. Habis itu, ada yang kembali ke Jakarta ada pula yang langsung menikah, punya banyak anak dan akhirnya kembali ke sawah atau ladang. Siklus kehidupan yang sangat jauh untuk merubah nasib hidup mereka.

in front of Harvard Dorm

Begitulah, banyak dari teman-teman SD ku dulu yang sudah mempunyai banyak anak. Sayang sekali, masa muda mereka terlewat begitu saja. Fakta bahwa kesulitan ekonomi telah membuat hidup mereka suffocated. Kalaupuan ada yang mengerti akan pentingnya pendidikan, tetap mereka harus mengalah akan kemauan orangtua. Mereka yang bisa menembus sampe SMP atau SMA di Kota Kecamatan, pastilah berasal dari keluarga yang sedikit berada.

Berutungnya, kakekku mempunyai pemikiran yang sangat maju, jauh kedepan.

Beliau telah mengetahui bahwa pendidikan adalah salah satu kunci pemutus kemiskinan. Tentu beliau bukanlah orang kaya. Menjadi buruh tani di sawah-sawah orang adalah kegiatannya sehari-hari dibantu nenekku.

Orangtuaku, tepatnya ibuku memilih untuk bekerja di kota besar, di Bandung untuk sedikit merenggangkan rantai kemiskinan keluarga kami. Tak apa-apa, aku sudah terbiasa hidup jauh dari orangtua. Kakek dan nenekku sudah menjadi pengganti sosok mereka dari semenjak aku lahir.

Pagi-pagi sekali nenekku sudah menyiapkan seragam baru SD ku yang dia dapat dengan cara mengutang dari tukang pakaian keliling. Cara pembayarannya seperti sistem kredit. Si tukang pakaian atau yang biasa dipanggil “tukang geblug” datang seminggu sekali untuk menagih cicilan sampe lunas. Biasanya siapa yang banyak mengutang dan bayarnya tepat waktu, tiap lebaran tiba dapat sedikit complimentary. Bisa sarung, mukena, sejadah, atau sebotol sirup.

Dengan senyum menghiasi bibirnya yang mungil, nenekku menerima benda-benda seperti itu setiap tahunnya meskipun sering telat membayar. Bagi orang-orang miskin di desa seperti kami. Sistem membeli seperti ini sangatlah membantu. Dan sebotol sirup ABC itu seperti sebuah hadiah mewah.

Lucu lagi, mengutang tapi dapet hadiah 🙂

Dengan telaten beliau merapihkan dasiku, topi dan ikat pinggangku. Buku dan pensilnya aku pegang di tangan kanan. Belum punya tas sekolah waktu itu, dan hal itu adalah normal bagi anak-anak SD didesaku. Pergi sekolah tanpa tas dan sepatu.

Dan aku, sendal jepit “swallow” adalah sepatuku. Sendal yang kanan talinya berwarna merah dan yang kiri berwarna biru. Memang tidak seragam maklum yang satu talinya sudah putus untuk kelima kalinya dan tidak mungkin bisa diperbaiki lagi.

Perduli amat!

Orang di desa ini. Dengan tergesa-gesa kakekku membawakanku sebuah gorengan, bala-bala atau di beberapa daerah orang menyebutnya bakwan. Lebih tepatnya dua, yang satu untuk dia sendiri dibagi setengahnya untuk nenekku. Ini sudah sangatlah mewah bagi kami dan ini adalah sarapan pagi favoritku. Sepiring penuh nasi putih hangat plus satu bala-bala dari warung mak Ikah disebelah rumah. Bala-bala spesial karena disipin jengkol di dalamnya.

Bau? ngga! bagiku harum malah 😀

Sekitar beberapa menit teman-temanku datang menjemput. Ada sekitar 10 orang. Lebih terlihat akan bermain daripada sekolah. Kusalami dan kuciumi punggung tangan kakek dan nenekku lalu berpamitan. Tak ada yang mengantar hari pertama sekolahku seperti anak-anak di kota.

Tak apa-apa. Temenku yang bersepuluh ini sudah jauh dari cukup.

Lantas kami menyusuri jalan desa yang terbuat dari tanah. Beruntung lagi musim kemarau waktu itu. Kalo musim hujan, tak ada bedanya jalan itu dengan sawah yang baru dibajak.

maybe some day

Perjalanan kesekolah mungkin perlu waktu sekitar 20 menit. Jauh ke selatan menyusuri rumah-rumah bilik bambu penduduk, mendaki beberapa bukit, melintasi pekuburan warga desa yang sangat menyeramkan, melintasi sawah-sawah dan sungai.

Percis seperti cerita-cerita di desa, dan ini memang di desa, diselatan Sukabumi dekat Pelabuhan Ratu.

Nah yang membuat seru adalah perjalannya itu. Anak-anak baru seperti aku tentunya sangatlah senang bisa sekolah. Kami bernyanyi sekeras-kerasnyanya tanpa takut ada yang marah.

Lha ini di desa, setiap anak boleh mengekspresikan dirinya sesuka hati.

Tak lupa kami memanjat pohon-pohon jambu yang tumbuh liar disepanjang jalan. Tapi kami tidak memakan buahnya saat itu melainkan memasukannya ke saku celana atau tas untuk waktu istirahat nanti. Tak ada yang namanya uang jajan. Bahkan seratus rupiah pun.

Dan dua buah jambu merah ini adalah bekal makan siang pertamaku.

Tapi sayang sekali kegiatan seperti ini telah menghilang. Jaman telah berubah. Anak-anak SD di desaku sekarang lebih memilih pergi ke sekolah naik motor. Ya motor telah membanjiri kampungku. Bahkan satu rumah bisa memiliki lebih dari 1 motor.

Hingga akhirnya sampailah kami disekolah yang berdiri tepat di atas bukit. Begitu spesial bagiku. Sebuah gedung yang terdiri dari 6 ruang kelas plus ruang kecil untuk perpustakaan merapat ruang kepala sekolah.

Gedung itu bercat merah dan putih. Sebuah tiang bendera dari bambu berdiri ditengahnya. Tiang yang tiap beberapa bulan sekali harus diganti karena mengalami pembusukan dibawahnya.

Upacara pun di mulai. Senangnya! Aku nyanyi lagu Indonesia Raya meskipun belum fasih benar. Setelah itu, untuk siswa kelas satu sampe tiga, mereka digiring masuk ke gedung di sebelah kanan yang sudah sangat tua dan lapuk. Sedangkan untuk kelas 4 sampe 6 masuk ke gedung di sebelah kiri yang terlihat masih baru.

Benar sekali kawan! gedungku sangatlah lapuk dan reot.

Bahkan pada musim kemarau seperti saat itu dimana angin lagi senang-senangnyanya berkeliaran di luar, kami sangat ketakutan gedungnya akan roboh. Kalau sudah seperti itu, kami harus keluar daripada mati konyol tertimpa atap gedung.

Dan benar saja. Beberapa minggu kemudian gedung itu runtuh dengan pasrahnya pada malam hari. Untunglah terjadi pada malam hari! Sebagai solusinya, kami pindah kegedung untuk kelas 4-6 tadi dengan cara satu ruangan dibagi dua disekat dengan bilik bambu.

Terbayangkan hasilnya gimana. Satu ruangan dibagi dua dengan masing-masing murid sekitar 40 orang dipimpin oleh dua orang guru. Bising dan tidak efektif sama sekali. Apalagi ketika pelajaran membaca dimana siswa-siswa kelas satu dan dua berteriak-teriak membaca huruf yang tertulis dipapan tulis.

Terdengar seperti sebuah demo membaca. Parahnya lagi suara anak desa yang tak ada merdu-merdunya sama sekali. Lengkaplah sudah penderitaan di SD ku itu, SD Negeri Lio Sukabumi.

Tapi ada yang sedikit lebih spesial yaitu sebuah lapangan besar yang terletak percis di depan sekolah. Sangat besar dengan rumput hijau yang tinggi-tinggi.

Nah ini yang melelahkan. Setiap hari sabtu kami diwajibkan untuk membawa sebuah sabit yang sudah diasah untuk membabat rumput sekitar 3 jam. Sangat melelahkan. Lapangan seluas itu seperti tak ada habis-habisnyanya.

Sore harinya sekitar jam satu, kami bersekolah di sekolah agama atau Madrasah Diniyah, ditempat yang lain. Tidak semua siswa SD bersekolah di sini. Hanya yang dekat-dekat saja dan yang orangtuanya mengerti akan pentingnya belajar agama.

Dan tentu saja aku bersekolah disini. Kakekku adalah seorang yang sangat taat dalam beragama. Beliau selalu menekankan bahwa hidup itu harus seimbang. Disekolah ini aku belajar semua ilmu agama Islam. Dari fikih, tafsir, doa2, bahasa arab, nahu sorof, tajwid, sampe tauhid dan kitab kuning.

Sekitar maghrib atau jam 6. Aku belajar mengaji di Mushala kampungku. Pulang sekitar jam 9 malam bersama sekitar 20 orang yang lain diiringi cahaya obor. Begitulah kegiatanku selama 7 tahun lebih hidupku di desa Sukatani, Sukabumi.

Sungguh!! aku sangat merindukannya.

Lalu apa hubungannya Atlas curian dengan Amerika dimana aku tinggal sekarang? tunggu aja kelanjutannya ya 🙂

“pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejak, ditunggu komen2 positifnya ya.”

*****

visit my blog at http://www.greatpersie.wordpress.com

Jan 30, 2012

Creekview Apt, Laurel Hall, Arcata California

Images: Private and Google images

Advertisements

16 thoughts on “Atlas Curian dan Amerika Bag 1

      1. you too… furthermore know jojo and tya.. maybe if I’m still not selected in UGRAD, but I’m very happy have so many great friends… like you

  1. Wah… Desamu lebih ‘ndeso’ dari desaku, hehehe.. But nature feed you with those guavas. What a moment…

    No matter where we come from, we did land on Uncle Sam’s country… 😀

    Tukeran link yux… Ntar kabarin aku via FB… 🙂

  2. Wow! You still remember your first day at the elementary school in details. Mine’s blur. I just remember that I changed my choice in the middle of registration for the elementary school. My mom was about to sign me up at SDN Babakan Tarogong 2 together with my relative; however, I saw my playmates signing up at SDN Babakan Tarogong 5, so I decided to join them rather than my relative. Kids! 😀

  3. Great. . Qm tuh sungguh hebat nanak dr dsa yang hampir tdk berdaya..qmskrgbs mengalahkan anak kota yg serba kecukupan. . Bahkan yg masa TK dan SD nyad antar mobil n supir.. I feel so weak when read this..what should I do??

    1. Hay Tya, dont feel inferior, there’s nothin wrong with children who are growing up in the big city. Everyone has the same chance and the same right to make their own self-determination. Well, I, the one who comes from small village definitely lack of access to the sources, but I can go through it.You have more access, so use it effectively 🙂

  4. Yes you’re right nanak.. Oh GOD thank so much you’ve already known me with nanak,jota afand rika and so on.. I think it is weird we haven’t met each other but we are connected by strong emotion have same future vision n dreams

    Someone ever told me that keep ur dream in the right place where the environment will keep in on fire! Somtime I need to recharge my dream to be more motivated

    Btw nanak thx so huge of being my friend even mate 🙂

    Oya ur english proof so weel yaiyaalaah hihihihi lingkungannya jg mendukung nak thx yah.. Youhave already woke me up that I ought to use every access efficiently!,:-)

  5. Cerita yang memberi motivasi …untuk sementara mimpiku masih ku proses,
    i hope someday i can like yourself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s