My Doors to USA

My Doors to USA III (Global UGRAD 2011-2012)

3rd Door : Miracle is Everywhere

“Ada satu kebenaran maha besar di planet ini: siapapun dirimu, apapun yang kau lakukan, kalau engkau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tersebut bersumber dari jiwa jagat raya. Itulah misimu didunia ini” (the Alchemist 30)

Assalamualaikum… tak terasa sudah hampir tiga bulan aku disini kawan. Sekarang hari ke-7 Ramadhan, penuh dengan cerita seru dan mengharu biru #lebaykeles

Eitss!!!

Tapi nanti dulu khusus untuk Ramdhan ada cerita khusus. Sekarang mari kita lanjutkan cerita sederhana ini mumpung lagi sedikit senggang dan mood menulisnya sedang bagus hehehe..

Oh iya ini juga karena banyak yang tanya “kapan ceritanya berlanjut?” atau “kok bagian yang ada akunya belum di posting juga?” ha.. here we go..!! Bagi yang belum membaca cerita sebelumnya, silahkan klik disini 🙂

My Doors to USA II | greatpersie

Home

Sesampainya di rumah, aku langsung menuju tempat tidurku. Rasa lelah menghantam sekujur tubuhku. Kaki ini terasa pegal-pegal akibat kegilaan yang dilakukan sore tadi. Aku ingin melupakan beasiswa ini. Biarkanlah segalanya mengalir.

Lups…!!

Mata ini pun terpejam. Tapi sial, susah sekali melupakannya. Rasanya setiap detik yang ada dikepala ini UGRAD, UGRAd dan UGRAd. Di kampus, di tempat kerjaan, dimana saja bahkan di toilet pun ini si UGRAD selalu menghantui. Memori kepalaku yang tidak seberapa ini rasanya habis dihuni oleh pikiran ini.

ITP Test is out!

Ketika dalam perjalanan pulang dari kampus, HP ku berbunyi.

Tralalala trilililili…. begitulah kira-kira suara ringtone nya 😀

Ada sms dari teh Monic yang bilang kalo hasil ITP sudah keluar.

Deg..!!! Deg Deg..!!! Deg deg deg…!!!

Jantung ini langsung berdegup kencang. Seneng akhirnya keluar juga, tapi takut juga gimana kalo hasilnya dibawah 500? Teh Monic dan teh Dita hasilnya diatas 500. Haduh.. aku liat jam tanganku, masih jam 3.. artinya masih sempet untuk mengambil ITP ku ke UPI. Untungnya lagi rumahku tidak terlalu jauh dari UPI. Detik itu juga aku berangkat ditemani berbagai prasangka dikepala ini.

Ah.. bener-bener menyiksa saat-saat itu.

Sesampainya di Balai Bahasa UPI, seorang pria menyambutku sambil meminta ID. Setelah dilihat ID kumel itu beberapa saat, akhirnya dia menyerahkan sebuah amplop putih kecil. Aku tidak berani membukanya disitu. Aku cari tempat agak tersembunyi.

Yep..!! aku temukan tempat itu dibelakang gedung.

Ku buka amplop itu pelan-pelan.

Astaga.. !!!! Rasanya seperti mau meledak saja ketika kulihat sebuah angka 4 tersenyum paling awal diantara dua angka lainnya. Ternyata benar.. kurang sedikit untuk sampai di 500..

Gimana ini?

Jujur saja waktu itu aku lemas sekali. Score ini sedikit diluar expektasiku. Walaupun ini nilai TOEFL pertamaku tapi aku tetap berharap dapet setidaknya 500. Kulangkahkan kakiku dengan lemahnya. Buyar saja impianku untuk mendapat beasiswa ini. Kalau bisa.. aku ingin menangis saja detik itu juga cengeng. Malamnya aku tidak bisa berpikir apa-apa.

Ya sudahlah… hanya itu lah kata-kata yang keluar dari mulutku ini.

Sahabatku Jota berusaha menghiburku. Huh.. dia sih nyantai orang score nya bagus. Tapi ya sudahlah nekad saja dikirim karena aplikasinya juga sudah dikirim. Insya Allah. Rasa semangat ini muncul kembali.

Besoknya dengan semangat 45 aku kirim hasil ITP ku ke AMINEF via email. Lagi.. aku lupain beasiswa ini. Kusimpan harapannya di hati yang terdalam.

******

“Sebab ada daya yang menghendaki engkau mewujudkan takdirmu; kau dibiarkan mencicipi sukses, untuk menambah semangatmu.” (the Alchemist 39)

Classmates
Classmates

Interview Notification

Kamis sore tanggal 25 November, aku masih berkumpul dengan teman-temanku kelas C di lantai merah. Seperti biasa saling ejek satu sama lain, dalam hal seperti ini temen-temen cewek selalu jadi korbannya.

Hahaha.. kegilaan dengan kelas C yang selalu aku rindukan. Setelah puas saling ejek, kami pun kembali ke pohon masing-masing #Nah loh!!

Tapi entah dapat pikiran dari mana, kaki ini menggiringku ke warnet langganan deket rumah. Seperti biasa ku buka Facebook ku, ah tak ada yg spesial.

Ku buka emailku, nah ini baru spesial!

Sebuah email dengan judul “REMINDER : Global Undergraduate Exchange Program Interview Notification” menyentak perhatianku. Ku buka dengan tangan gemetar..

Subhanallah.. !!

Dikatakan bahwa mereka sudah selesai mereview semua application dan mempercayai aku sebagai salah satu orang yang lolos ke tahap interview di Jakarta. Rasanya tak percaya.. ku baca berkali2. Jujur saja waktu itu mataku sedikit berkaca2 saking senangnya. Kulihat semua email masuk baru, dan ternyata email ini adalah email ke-3 yang dikirim karena waktu itu aku belum melakukan konfirmasi saking jarangnya buka email.

Detik itu juga aku langsung membalas email itu dan menyatakan ketersedianku untuk interview di Jakarta yang dijadwalkan tanggal 9 Desember. Aku telpon sahabatku Jota. Kali ini tidak aku sms. Aku ingin mengabari hal ini dengan segera dan ingin tahu apakah dia juga dapet email yg sama atau tidak.

Diseberang sana Jota berteriak dengan gembira, sejurus kemudian ada suara sedikit kecewa karena tidak ada email yg sama di inbox dia. Aku memberi semangat ke dia dan menyuruhnya untuk mengecek email esok hari, barangkali pihak Aminef mengirimnya secara bertahap.

Aku bisa merasakan bagaimana sedihnya sahabatku ini. Begitu juga aku merasakan hal yang sama. Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini. Tapi kami sudah berjanji bahwa siapapun nanti yang lolos, kemenangan ini adalah kemenagan bersama. Disisi lain aku juga belum tentu dapet beasiswa ini mengingat ini hanyalah tahap pertama dari berbagai tahap yang harus aku jalani, tapi setidaknya pintuku untuk beasiswa ini terbuka sedikit lebar.

Alhamdulillah!

Counting the days

Hari-hari kulewati dengan perasaan senang bercampur sedih, ya bagaimanapun juga aku berharap sahabatku juga lolos. Teringat semua kegilaan itu. Bagaimana riangnya hati kami ketika berkelana ke Jakarta.

Ah… betapa sedihnya. Tapi Jota itu orang yang kuat. Dia malah yang menyemangatiku untuk melakukan yang terbaik dalam wawancara nanti. Terimakasih banyak mate..

Menjelang tanggal keberangkatan, aku sibukkan diriku dengan mencari berbagai referensi dan kiat2 menghadapi wawancara. Disini juga aku menemukan sebuah blog indah dari mbk Mei Dianita yang waktu itu sedang di Missouri State University. Dia salah satu grantee tahun itu. Aku coba ikut posting commentku di blognya, berharap dia membalasnya. Mbk Mei adalah salah satu orang yang turut andil besar dalam perjalananku ini. Jujur saja aku ngefans sama dia. Bener-bener wanita idaman hehehe..

#Forget it!! :p

******

“Semakin besar seseorang dalam mewujudkan takdirnya, semakin takdir itu menjadi alasan sejati keberadaanya.” (the Alchemist 94)

The D Day

Selasa 7 Desember, persiapanku sudah matang. Kemeja putih, celana pantalon licin yang aku setrika lebih dari 3 kali, sepatu pantovel mengkilap karena kusemir dengan rahasia menyemir sepatu yang aku pelajari dulu ketika di Paskibra, tiket kereta, beberapa dokumen pendukung, tinggal mental saja yang aga sedikit bimbang dan nervous.

Atau mungkin galau.

Aku sudah terbiasa menghadapi interview, tapi yang satu ini beda kawan. Ini untuk beasiswa ke Amerika.. Amerika kawan!

Setumpuk semangat dari temen2 UKM ASES dan kelas C sudah aku serap dengan baik. Sayang sekali Jota tidak bisa ikut. Tadinya aku mau berangkat sendiri. Tapi sahabatku yang lain, Ibad bersedia mengantar.

Syukurlah setidaknya ada temen ngobrol selama perjalanan. Bahkan dia rela membeli tiket keretanya sendiri. Uangku tidak cukup untuk membelikannya tiket saat itu. Dia salah satu orang yang banyak menolongku di detik2 terakhir perjalanan ini, bahkan secara finansial. Entah bagaimana aku bisa membalasnya. Telah kuhubungi juga Sahabatku di SMA dulu, Deden yang kebetulan bekerja dan tinggal di Jakarta. Tadinya aku mau menginap semalam di rumah tanteku, tapi terlalu jauh ke kantor Aminef. Aku ga mau kalo sampai telat.

Deden bersedia menampungku selama satu hari di kosannya, tapi dengan cara ini temenku Ibad tidak bisa ikut karena dia perempuan. Aku tidak mau kalo dia harus menginap bersama di kosan yang kita tahu bagaimana ukurannya. Tapi lagi2 dia bersedia untuk berangkat keesokan harinya dan menungguku di Gambir. Ah.. entah bagaimana harus membalas kebaikan dia.

Rabu pagi aku berangkat sendiri ke Jakarta dan sudah ditunggu Deden di Gambir. Terimakasih banyak Den…

Jakarta again

ASES mates

Kamis malam rasa nervous ini semakin menjadi-jadi. Aku singkirkan dengan cara mengobrol kesana kemari dengan Deden. Tentang kenangan dulu di SMA.

Setelah membaca sedikit beberapa tips yang aku print dari web, aku tidur lebih awal agar besok pagi terlihat lebih segar dan kinclong.

Sekitar pukul 4 aku sudah bangun, mandi pagi dan sibuk mematut2 diri di depan kaca. Deden hanya tersenyum, dengan memakai stelan ini, rasanya aku seperti kembali ke masa SMA ku dulu. Pakaian hitam putih plus dasi ini adalah seragam wajib hari selasa di SMA ku.

Setelah menikmati bubur ayam sebagai menu pagi hari, kami berangkat menuju Gambir, menunggu Ibad yang sedang dalam perjalanan.

Kelas C mates

Dia muncul dengan sumringah dari lantai atas Gambir dan kusambut dengan senyuman.

Gadis nekad pikirku hehehe.. Bepergian sendiri ke Jakarta hanya untuk menemani temennya di interview tanpa imbalan.

Aku berpisah dengan Deden karena dia harus bekerja. Kemudian aku dan Ibad berangkat menuju kantor AMINEF lebih awal. Interviewku sekitar jam 11 tapi aku tidak mau ambil resiko untuk telat. Kemacetan Jakarta bisa saja merebut mimpiku dan melemparnya jauh-jauh.

Kejam!!

Masih jam 10 ketika sampai di Gedung Balai Pusataka tempat kantor AMNEF bernaung. Aku putuskan untuk masuk sekitar jam 10.30. Untuk menghabiskan waktu setengah jam ku, kami duduk dibawah pohon besar di pinggir kantor AMINEF deket selokan yang baunya minta ampun. Ibad sedikit komplain, tapi tak ada piliha lain karena tempat inilah yang sedikit lebih sejuk.

Kubaca berkali2 tips-tips wawancara, beberapa pertanyaan dan jawaban yang aku buat sendiri, tak lupa juga banyak membaca doa2 yang aku hafal. Sedikit2 aku ngobrol beberapa hal dengan Ibad..

Huhuy.. dibawah pohon rindang. Menyenangkan sekali.

Teng..!! 10.31..

Sudah waktunya untuk masuk, jantung ini tanpa dikomando malah bekerja tiga kali lebih kuat memompa darahku. Super nervous.. aku nyanyi-nyanyi kecil tapi tak berpengaruh banyak. Ibad menyemangatiku dan memintaku tetap tenang.

Ting.. pintu elevator terbuka dilantai 5. Sebuah board besar bertuliskan AMINEF menyambutku, tak jauh berbeda dengan pertama kali kesini bersama Jota. Pikiranku waktu itu ternyata salah, aku masih bisa kesini tapi dengan sahabat yang lain, sedihnya. Ketika masuk, beberapa kandidat sudah berkumpul di dalam.

Kuuraikan senyum dibibirku dan berkenalan dengan mereka. Ada Heru dari Palembang, Alfi dari Aceh, Eman dari Bengkulu, Tika dari Bandung dan dua orang lagi aku lupa namanya.

Ternyata ada juga kandidat dari Bandung, aku pikir tiap kota hanya diwakili satu orang hehehe.. Beberapa dari mereka masih menunggu giliran dan beberapa sudah melakukannya. Aku tanya mereka yang sudah interview mengenai apa aja yang ditanyakan dan bagaimana keadaan didalam. Rata-rata jawabannya sama. Pertanyaanya berdasar pada aplikasi yang dikirim.

Ibu Isye menyambutku sambil tersenyum dan menyuruhku untuk bersiap. Akhirnya tibalah giliranku, Ibad dan beberapa teman baruku memberi semangat lebih. Luar biasa tegangnya waktu itu. Kulangkahkan kakiku menuju sebuah ruangan dengan pintu terbuka lebar.

Somewhere inside the room

Bismillahirrahmanirrohim..

“Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membatumu meraihnya” (the Alchemist 31)

Lima orang luar biasa sudah menungguku, 3 orang Americans dan 2 orang pribumi, semuanya tersenyum menyambutku. Mereka datang dari berbagai tempat dan bidang yang berbeda. Ada dari Kedubes Amerika, Fulbright Master grantee, Binus dan Aminef itu sendiri.

Aku duduk diatas sebuah kursi empuk. Ruangannya didesain seperti di pengadilan. Disini aku seperti terdakwa yang kalau lolos akan di “asingkan” ke Amerika.

Mr. Michael yang pertama berbicara. Dia adalah ketua dari AMINEF ini. Setelah sedikit berbasa-basi, akhirnya aku di bombardir dengan berbagai pertanyaan. Alhamdulilah tak ada pertanyaan yang out of questions. Semuanya berdasar pada aplikasi dan sesuai perkiraanku. Suasana interview malah terasa cair. Sekali-sekali mereka tertawa ketika mendengar pengalamanku. Kebetulan aku masukan sedikit unsur-unsur candaan didalamnya.

Sekitar 25 menit interview pun berakhir. Setelah bersalaman, kulangkahkan kakiku dengan perasaan tenang dan leganya luar biasa. Semuanya meyambutku dan bertanya bagaimana didalam, aku bilang sangat lancar dan aku sangat menikmatinya.

Ada keyakinan tersendiri waktu itu bahwa aku bisa lolos ketahap selanjutnya, entah kenapa. Perkiraan Alfi yang kebetulan tahun lalu juga lolos bilang bahwa yang lolos ke interview tahun ini sekitar 25 orang.

Syukurlah setidaknya chance ku sedikit lebih besar. Setelah semua orang mendapat giliran, kami semua mendapatkan reimburshment dari AMINEF yang jumlahnya sangat lumayan bagiku.

Its time for Lunch..!!

Kami semua pergi makan siang di plaza terdekat. Setelah itu kami berpisah menuju daerah masing2 dan berjanji untuk saling kontak kalau pengumuman nanti sudah ada. Bersama Ibad, aku berkunjung ke Monas untuk membunuh waktu, tapi kali ini tidak naik ke atas menaranya melainkan hanya duduk2 saja di bawah bayangannya.

I love train

Home again

Tiket kereta executive sudah ditangan, kami  pun masuk dan kereta langsung berlari menuju Bandung. Kuhabiskan waktuku didalam kereta dengan bercanda dan mendengar lagu favorit kita, lagu dari Guy Sebastian yang berjudul “Beautiful Girl.”

Romantis man!!

Lagu yang penuh kenangan.. terimakasih Bad.. Dalam hati ini aku berdoa, Ya Allah.. semoga beasiswa ini bener2 goal dan aku bisa lolos ke tahap selanjutnya. Aku tak tahu bahwa beberapa hari kemudian sebuah berita bahagia sudah menungguku.

Allah benar-benar sudah mempersiapkan segalanya.

*****

                                           To be Continued –> 4th Door

For blog with photos visit  www.greatpersie.wordpress.com

Creeckview apartment, Laurel Hall

Humboldt State University August 7, 2011 @ 10.38 pm

Advertisements

15 thoughts on “My Doors to USA III (Global UGRAD 2011-2012)

  1. Hai.. pengalaman yang sungguh luar biasa 🙂 Saya ingin menanyakan 1 pertanyaan saja 😀
    Biasanya yang lolos selesksi berkas berapa orang yaaa? Makasih 🙂

    1. Untuk interview sesuai sama berkas yang kamu kirim, pastikan kamu menguasai betul apa aja yg kamu tulis di berkasnya. Usahain jawabannya seobjektive mungkin ya. Tetep semangat 🙂

  2. hai mau tanya biasanya pengumuman seleksi berkas kapan ya? dan diumumin bertahap apa gimana? saya daftar dan menunggu gak pasti

    1. Hai, maaf ya saya baru cek blog nya. Untuk interview biasanya sekitar pertengahan Desember, dulu saya sekitar tanggal 9. Tapi tahun ini tgl 28 November karena dua temen saya di intirview pada tanggal itu.

      Masalah bertahap ato ngga saya kurang tahu. tetep semangat ya 🙂

  3. boleh tau ga 2tmenmu yg dinterview siapa aja?kalo th kmren kan hsl akhr d umumin tgl 5,ini ud tgl 6 jd kpikran trus. jd sy pgn tnya2 ama mrka,
    tq

    1. Hai,

      Maksudnya temen2ku yg berangkat ke US ato yang diinterview saja? (gimme your email then Ill send via it) Hmm tenang dan sabar, kemungkinan besar final announcementnya minggu ini. Tetap semangat 🙂

      1. di bagi jadi tiga hari kalau ga salah. Aku kebagian hari terkhir. Kemungkinan untuk final announcement tahun ini 2 minggu lagi dan mungkin juga grantee nya bakal berkurang. Tapi tetep semangat ya 🙂

  4. salam kenal mas greatpersie 😀

    saya sangat tertarik dengan global ugrad, yang mau saya tanyakan itu, apakah saat mengirimkan berkas pendaftaran score ITP udah harus ada mas?
    sedangkan saya masih mau tes ITP, belum dihubungi sama lembaganya karena kuota peserta tes belum mencukupi, sementara deadline berkas klo ga salah 1 nov 2012.
    kira2 solusinya gimana mas greatpersie??
    email saya dong mas pososp@gmail.com
    tentang apa aja yang ditulis di essay dan panduannya.

    terimakasih sebelumnya. mohon bantuannya 🙂

    1. Halo Nasution.

      Yes untuk ITP lebih baik harus sudah ada sebelum kamu kirim aplikasi. Kalo ternyata belum, bisa email AMINEF dan tanya ke mereka apakah boleh menyusul. Siapa tahu mereka punya kebijakan khusus.

      Here’s my email van-persie90@live.com and feel free to ask 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s