My Doors to USA

My Doors to USA II (Global UGRAD 2011-2012)

2nd Door : ” Tancapkan Pohon Mimpi Sekuat Mungkin”

“A dream doesn’t become reality through magic; it takes sweat, determination and hard work.
(Colin Powell)  

Alhamdulilah mendapatkan waktu untuk posting  di sela-sela Summer Program. Mari kita lanjutkan cerita sederhana ini. Bagi yang belum baca cerita pertama silahkan berkunjung ke –> My Doors to USA I

OK!! Previously from My Door to USA!

Dicerita sebelumnya aku dan Jota akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jakarta untuk untuk menyerahkan semua dokumen secara langsung ke kantor AMINEF. Kami memutuskan untuk mengambil kereta pagi. Tapi sayangnya aku ini orangnya suka telat. Alhasil Jota harus menungguku  sekitar 30 menit. Hampir saja ketinggalan kereta.

Payah!!

nanak2

Maaf ya mate maaf!! 😀

Dengan niat berhemat akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta kelas bisnis yang ternyata panas luar biasa. Tapi tak apa-apalah karena kami berangkat pagi-pagi jadi tidak terlalu terasa. Selama perjalanan ada mungkin seribu kalinya kami  mengecek segala dokumen. Ya takutnya ada yang kurang atau ketinggalan, kan bahaya.

Welcome to Jakarta

Sekitar pukul 10 pagi kami sampai di Gambir. Suasana langsung berubah dari hawa sejuk ke hawa panas hahaha..

Thats’ why sometimes I hate Jakarta! -_-

3722841acb051f837ca7154921ba7cbf9b37c3c683fb9a81c3f908eb3d31cb3f

Dengan percaya diri aku buka peta dan buku tentang Jakarta yang sudah aku persiapkan. Ah.. ternyata jalan gunung Sahari Raya tidak terlalu jauh, jalan kaki beberapa menit pun kayanya nyampe.

Taraaaaa……!!!

Setelah berjalan sekitar setengah jam, ternyata belum ketemu juga. Tanya sana sini masih jauh katanya. Walah ternyata susah juga cari satu gedung di kota yang dipadati gedung penggaruk langit ini. Mana cuaca sangat panas. Berhubung waktu untuk jumatan sudah mepet, akhirnya kami memutuskan untuk naik bajaj.

Hihihi untuk pertama kalinya naik bajaj dan merasa hyper excited!! Setelah beberapa menit di dalam bajaj….si abangnya bilang:

“nah itu gedungnya, tinggal nyeberang saja.”

Hoalah…!!!

Ternyata sudah dekat. Kami naik bajaj cuma sebentar saja ada mungkin sekitar 5 menit, hilang deh tuh 15 ribu. Tau udah deket gini mending terusin saja tadi jalan kakinya.

Tapi ya sudahlah.

Kami pun masuk ke sebuah gedung yang bisa dibilang agak kurang terlihat. Sayang sekali memang. Kebanyakan gedung milik pemerintah itu sudah pada tua-tua dan terlihat agak kurang terurus. Kantor AMINEF sendiri terletak di Lantai 5 dan ketika masuk, kami cuma melihat sebuah box bertuliskan…..

“Drop your application here !!”.

Yang benar saja! #Ceritanya naik darah

Mana orang-orangnya? Tak adakah receptionist seorang pun??

Ternyata semua orang duduk di kursinya masing-masing di dalam ruangan. Padahal di otak ini sudah terbentuk sebuah outline beberapa pertanyaan. Hah!! sayang sekali jauh-jauh datang hanya untuk bertemu sebuah kotak kardus kecil ini.

Norak!

Tapi sekali lagi, ya sudahlah!

Di counter reception tersedia banyak macam pamplet dan brosur. Kami pun mengambil masing-masing satu-satu supaya ada wakil dari tiap brosur hahaha 😀

Eh di sudut sana ada board bertuliskan “AMINEF.”

Insting narsis pun keluar. Kami berfoto ria disana. Hihihi kapan lagi coba, sapa tau ga kan kesini lagi.

*****

Drop the application

Aplikasi aku taruh di dalam kardus itu dengan hati-hati dan penuh perasaan #lebay Berjuta-juta doa buzzing di kepalaku. Insya Allah!!

Man Jadda wa jadda!!

Pulanglah kami dengan perasaan tentram dan menuju masjid Istiqlal. Sesampainya disana, aku langsung menuju tempat wudhu. Tas aku titipkan sama Jota yang memilih menunggu di teras. Kasian dia harus kepanasan berada diluar nah aku adem di dalam. Tapi sepertinya Jota tak keberatan. Aku lihat dia membuka bukunya dan mulai membaca.

Aku langkahkan kakiku di atas karpet merah masjid itu. Masih terasa empuk seperti pertama kesini dulu berasama sahabatku yang lain, Sammy, juga untuk berburu beasiswa. Ku hirup udaranya yang sejuk. Entah kenapa dimanapun masjid itu terletak, udara didalamnya pasti selalu sejuk. Seperti ada udara yang terhembus dari segala arah.

“Ku pasrahkan kepalaku untuk bersujud di hadapanNya. Dalam hati beribu-ribu doa aku panjatklan demi kesuksesan segala niat dan mimpi indah ini. Aku tancapkan akar-akar mimpiku sedalam mungkin agar tak mudah tumbang tertiup angin. Allah lah maha segalanya.”

Habis jumatan, waktu masih banyak tersisa karena kami memutuskan untuk naik kereta jam 5 sore. Kami pun memutuskan untuk pergi ke Monas.

Super excited lagi.

Namun rasanya seperti terpanggang ketika melintasi lapangan monas yang luas. Entah kenapa Jakarta itu bisa sangat panas bagiku. Mungkin karena aku datang dari kota yang sedikit lebih sejuk. Belum apa-apa keringat sudah membanjiri kepalaku. Tapi Jota kelihatan fine-fine saja. Dia malah excited banget. Padahal dia pake kerudung. Salut memang karena bagiku tak terbayangkan memakai penutup kepala di tengah guyuran sinar matahari.

That must be really hot!!

Namun berada diatas ketinggian lebih dari seratus meter membuatku excited!

Norak 2

Seluruh view kota Jakarta terlihat dengan jelas. Sekali lagi kami pun berfoto ria disana.

Hahaha.. Narcissism is a wonderful thing! 

Begitu kata teman saya. Bosan dengan suasana monas. Kami pun pergi begitu saja tanpa pamit. Kami tinggalkan monas yang terlihat sedih karena harus terpanggang panasnya Jakarta sepanjang hayatnya. Waktu masih jam 4. Satu jam tentunya bakal bikin bosan kalo harus diam di Gambir.

Akhirnya dengan berjalan kaki kami pergi menuju bundaran HI.

Apa menariknya bundaran HI?

Mungkin bagi orang Jakarta tidak menarik, tapi bagi kami huhuhu bakal luar biasa bisa berfoto ria disana, tempat yang sering muncul di TV #norak 3

Setelah berjalan beberapa menit, kok tu gedung BCA yang menjulang masih jauh juga. Padahal di peta cuma sekitar satu senti meter. Karena jam sudah menunjukan setengah lima dan tuh gedung belum kelihatan juga akarnya, akhirnya kami memutuskan balik ke stasiun.

Loh kan sudah setengah jalan?

Tapi daripada ketinggalan kereta. Kurang menarik kalo harus jadi gelandangan disini, iya kan?

Hampir setengah berlari kami menuju gambir. Maklum kereta sudah ada di detik-detik terakhir. Karena Jota selalu tertinggal di belakang, aku kasih yel-yel ala pom-pom boys agar dia semangat untuk berlari lagi dan menambah powernya.

Home

Alhamdulilah tepat waktu. Kereta masih mau menunggu kami untuk masuk ke badannya. Aku rebahkan badanku di kursi kelas eksekutif #ciyeee

Hihihi… lumayan ada AC nya jd kami tidak kepanasan lagi. Tak terlalu banyak hal yang keluar dari mulut kami sepanjang perjalanan pulang. Rasa lelah telah berhasil mengalahkan segalanya. Aku tutup mataku mencoba melupakan segala kekonyolan hari ini. Aku lupakan UGRAD. Aku anggap kalo aku tidak pernah melamar beasiswa ini. Aku yakin Allah sudah menuliskan segalanya.

Ikhlas adalah kuncinya.

*****

To Be Continued —-> 3rd Door

@ Humboldt State University Library at 5 pm

Visit my blogs to see blog with photos http://www.greatpersie.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s