My Humble Opinions

Kerudung dan Modernitas

Malam senin kemarin saya menonton salah satu acara favorit saya di tvOne, “Bukan Jalan-Jalan Biasa”. Kali ini masih bercerita di Turki, kawan Turki adalah salah satu negara dua benua yang masuk ke dalam lists places to visit on my Backpacker suatu hari nanti ( amin ) karena Turki memiliki tempat-tempat yang luar biasa. Tapi kali ini kita tidak berbicara tentang keindahan alam dan tempat-tempatnya, mari kita menyusuri kehidupan sosial dan agama disana.

Beberapa mungkin sudah tahu kalau Turki hampir 90% penduduknya adalah Muslim, sama seperti di kita, namun Turki juga terkenal sebagai negara yang menganut paham sekuler. Kok bisa? nah disini hal menarik yang akan saya bahas, negara berpenduduk muslim tapi menganut paham sekuler. Kawan pasti sudah mafhum bahwa sekuler adalah paham yang memisahkan urusan agama dan urusan pemerintahan /negara, jadi agama itu urusan individu dan negara tidak akan turun tangan. Paham ini berasal dari negara barat sana. Contohnya nih di Amerika sana, negara tidak ikut campur urusan agama para penduduknya, disekolah pun tidak ada pelajaran agama sebagaimana di negara kita.

Nah hubungannya dengan kerudung? tentu kita semua tahu bahwa kerudung adalah simbol dari agama Islam, para perempuan diwajibkan untuk menutup auratnya yaitu dengan memakai kerudung dan berpakaian tertutup. Saya juga meyakini bahwa kerudung itu adalah simbol jati diri seorang perempuan Muslim. Kawan di Turki ini meskipun sebagian besar para penduduknya Muslim ternyata ada sebuah aturan yang melarang para warga perempuan untuk memakai kerudung/ jilbab ditempat-tempat tertentu dan untuk menjadi seorang yang memiliki profesi tertentu ( Astagfirullah ).

Di Turki para wanita dilarang menggunakan kerudung  untuk masuk ke semua universitas. Akibatnya banyak perempuan disana yang mempertahankan kerudungnya akhirnya tidak bisa melanjutkan kuliah. selain itu untuk menyandang sebuah profesi agung seperti seorang dokter, guru, perawat, pengacara dan sebagainya tidak diperbolehkan untuk memakai kerudung.

Yang diperbolehkan hanyalah seorang ibu rumah tangga. Ironis memang, para wanita disana seperti dibelenggu hak dan kebebasannya. Lalu bagaimana dengan perempuan yang tidak sudi untuk mepelas  kerudungnya tapi tetap ingin melnjutkan sekolah? Ternyata ada hal unik yang terjadi, banyak dari mereka yang mengguanakan sebuah wig ( rambut palsu ) diatas kerudungnya dan memakai syal untuk menutupi kerudung bagian lehernya. Hal ini juga terjadi untuk mahasiswa asing yang belajar disana yang datang dari negara Muslim seperti Indonesia. Mereka melakukan hal yang sama agar bisa tetap belajar disana. Subhanallah saya salut akan perjuangan mereka untuk mempertahankan akidahnya. tapi saya juga merasa ironis karena para perempuan berkerudung disana harus menutup kerudungnya dengan sebuah wig seolah-olah mereka menutup sesuatu hal yang memalukan. ( dalam hal ini kita harus bersyukur di Indonesia tidak terjadi seperti itu ).

Saya sebagai seorang pria bisa merasaka bagaiman susahnya mereka setiap hari harus berpenampialn seperti itu. belum lagi pasti banyak dosen yang curiga karena penampilan mereka yang sedikit ganjil. Bahkan ada seorang mahasiswa yang tidak diluluskan oleh dosenya karena ketahuan memakai kerudung ketika di tempat umum padahal di tempat kuliah seperti tidak memakainya.

Alasan aturan ini diberlakukan adalah karena banyak masyarakat dan terutama para petinggi pemerintahan disana ( kelompok sekuler ) yang menganggap bahwa berkerudung itu mencederai paham sekuler yang mereka anut dan merupakan hal yang ketinggalan jaman. Kawan, saya disini percaya bahwa kerudung bukanlah hal yang kuno atau ketinggalan jaman. Apa dasar mereka bisa beranggapan seperti itu merupakan pertanyaan besar bagi saya. Kerudung itu tidak membelenggu kaum perempuan seperti yang banyak orang barat pahami karena perempuan itu sendiri yang memutuskan untuk berkerudung. selain itu berkerudung tidak menyembunyikan kecantikan mereka, bahkan malah lebih terpancar. berkerudung membuat seorang wanita naik seratus kali lipat derajatnya dihadapan para pria, membuat mereka terlihat anggun dan tetap cantik. Bahkan saya lebih respek kepada mereka yang mengenakan jilbab.

Meskipun sekarang banyak perlawanan dari para perempuan disana agar diberi hak mereka untuk berkerudung dimana saja dan pemerintah disana sudah mengamandemen pertauran mereka tepatnya tanggal 28 Februari 2008, tapi nyatanya itu tidak berpengaruh besar karena putusan akhir diserahkan kepada pihak kampus itu sendiri. dan seperti yang kita duga, banyak dari pihak kampus disana yang tetap mempertahankan peraturan kolot tersebut.

******

Kawan, terutama para perempuan, berkerudunglah dan jangan takut akan segala hal akibat dari opini buruk diluar sana tentang berkerudung. Menutup aurat itu wajib kan karena perintah Allah, nah kenapa kita harus mengalah dengan peraturan manusia. Dan utnuk yang sudah berkerudung, tetap pertahankan apa yang sudah menjadi keputusan. Bersyukurlah kita disini tidak atau mungkin belum seperti di Turki meskipun negara ini sedikit demi sedikit sudah di gerogoti paham sekuler yang berbahaya. Semoga para perempuan disana diberi keuatan, bisa tetap bertahan dan mampu menjalani hari-hari pastinya sulit. Amin

****

Visit My Blog https://greatpersie.wordpress.com

By : Nanak Van Persie

Sources : bukan jalan-jalan biasa tvOne & berbagai sumber

@home sweet home

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s