My Humble Opinions

The Referee

Saya menulis blog ini dengan judul the referee alias wasit karena sedikit banyaknya saya masih kesal dengan pertandingan semalam antara Arsenal vs Liverpool, the beutiful game ruined by the referee. Well bukan karena saya penggemar Arsenal lantas saya mencaci maki wasit, tapi lebih dikarenakan bukan kali ini saja sebuah pertandingan bola yang indah hancur hanya karena kecerobohan seorang wasit.

Seberapa besar kah tugas seorang wasit??

Wah sangat sangat besar dan berpengaruh. Bagaiman tidak, mereka mempunyai sebuah alat tiup kecil yang mampu menjadikan sebuah klub bola berjumawa atau kecewa, menghingar-bingarkan penonton maupun menghancurkan emosi mereka.

Hanya dengan sekali tiup, ya sekali, sebuah pertandingan di mulai ataupun di akhiri, seorang pemain terkena kartu kuning atau merah, mendapatkan pinalti, de el el. Sebegitu besarnya tugas seorang wasit sampai saya suka berpikir kok banyak ya orang yang memilih profesi sebagai wasit. Profesi yang sangat berresiko.

Bagaimana tidak, seorang wasit mampu mengangkat harga diri dan gengsi sebuah klub ataupun sebaliknya. Selain itu jika salah sedikit saja, seorang wasit bisa pulang dengan babak belur, kena damprat para pelatih yang merasa klubnya dirugikan, belum lagi kena bogem mentah atau lemparan penonton. Kalau saya ditanya mau tidak jadi wasit?

Definitely NO !!

Ya selain males  kena resiko semua itu, saya juga ga terlalu mengerti akan SOP tugas mereka.

kembali ke topik awal, bagaimana pada pertandingan semalam hati saya merasa dihancurkan, lagi-lagi oleh wasit tentunya. Berawal dari injury time sekitar 8 menit, Arsenal mendapatkan penalti karena Fabregas dijatuhkan di kotak terlarang.

Van Persie yang menjadi algojo sukses melesakkan tendangannya, walhasil saya sampe melompat2 kegirangan, 3 poin sudah ditangan bung !!!

Well tiba2 mimpi buruk datang, Liverpool mendapatkan tendangan bebas persis di depan garis penalti, tegang nya, injury time juga sudah habis, saya yakin ketika bola ditendang, maka peluit panjang tanda pertandingan berakir harus ditiup.

Tapi tak disangka, meski gembira ternyata bola berhasil dihalau, eh wasit dengan sombongnya menunjuk titik putih tanda penalti untuk Liverpool dikarenakan Lucas Leiva dijatuhkan Emanuel Ebou. Weits dia bener2 diving, terlihat banget dengan sengaja dia menjatuhkan diri.

Weleh2, selain itu waktu sudah menunjukan menit ke 103.

TIME IS UP Sir !!!!

Entah kenapa si wasit malah tetap memaksa adanya penalti. Gila !! walhasil kedudukan menjadi 1-1 hanya kurang dari 12 menit. Nah bener kan, karena satu tiupan dari sang wasit, 3 poin yang sudah di tangan akhirnya melayang dan kami pun harus berbagi poin dengan Liverpool. Buruknya lagi chance kami untuk bisa juara EPL semakin sulit.

Saya tahu wasit juga manusia, dan manusia ga ada yang bisa adil 100%. Mereka banyak jga erornya. Tapi kembali lagi karena mereka memilih profesi sebagai wasit. So seharusnya berusahalah untuk bersungguh2, jujur dan fair karena ingat, “nyawa sebuah tim bola ada ditanganmu, sir!”

Advertisements

2 thoughts on “The Referee

  1. saya kurang sependapat dengan anda yang memandang wasit itu sedemikian rupa..
    kesalahan memang ada, tp salah satu tugas dari referee adalah meminimalisir kesalahan itu sesuai peraturannya.
    referee akan dipandang baik jika tim yang kita dukung menang, dann sebaliknya tim yangkalah akan mencacinya.
    terlepas dari keputusan penalti itu tugas wasit adalah mengaplikasikan kejadian dengan peraturan. Anda tidak akan mengerti peraturan jika anda tidak tahu, makanya dikasih penalti juga karena ada peraturan yang dilangar oleh tim arsenal.
    (maaf bukannya saya penggemar liverpool, hanya saja saya juga seorang wasit)

    1. Wah suatu kebanggaan blog saya di baca oleh seorang wasit seperti anda. Dan saya orang yang sangat mengharagi berbagai opini maupun argumen terhadap tulisan-tulisan saya.

      Kalau anda merasa ada kata-kata saya yang tidak pada tempatnya, well tulisan ini adalah salah satu tulisan pertama saya ketika membuat blog, so I havent had any chance to edit it until today.

      Saya percaya tugas wasit memang untuk meminimalisir kesalahan dalam sebuah pertandingan, namun kita juga tidak bisa menutup mata akan fakta-fakta wasit bayaran untuk memenangkan/ membelas sebuah klub, dan hal ini merupakan suatu fenomena yang saya pikir, hampir semua penggemar bola tahu akan hal ini.

      Terlepas dari itu, saya juga tetep yakin masih banyak wasit yang jujur. Hal ini saya tekankan di akhir tulisan saya dimana wasit juga manusia yang mempunyai banyak kesalahan. Namun kembali lagi, karena tugas seorang wasit sangat vital, makanya kejujuran mesti di taruh di tempat paling atas karena ketika keputusan sudah bergulir, akan sangat sulit untuk merubahnya.

      Salam dari pendukung Arsenal 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s